UMKM Sumbang 60 Persen PDB, Kemendag Genjot Akses ke Ritel Modern

AKURAT.CO Kementerian Perdagangan mempercepat strategi integrasi UMKM ke jaringan ritel modern sebagai jalur distribusi sekaligus pintu masuk ke pasar ekspor, di tengah dominasi sektor ini terhadap perekonomian nasional.
Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti menegaskan, pemerintah kini tidak hanya fokus pada peningkatan produksi UMKM, tetapi juga memastikan produk mampu terserap pasar melalui ekosistem ritel modern yang terstruktur.
“Kemendag secara aktif membantu UMKM agar bisa masuk ke ritel modern, mulai dari peningkatan kualitas produk, pemenuhan standar dan sertifikasi, hingga mempertemukan UMKM dengan pelaku ritel melalui program business matching,” ujar Roro dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat (17/4/2026).
Baca Juga: Kemendag Buka Akses Ekspor ke 7 Pasar Nontradisional
Dirinya menambahkan, pendampingan dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir.
“Kami mendampingi UMKM dari hulu ke hilir, memastikan kesiapan produk, kapasitas produksi, hingga kemasan agar sesuai dengan kebutuhan pasar ritel modern,” katanya.
Data Kementerian Perdagangan menunjukkan UMKM menyumbang sekitar 60% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyerap lebih dari 90% tenaga kerja. Di sisi lain, realisasi transaksi UMKM tercatat mencapai Rp404,5 miliar pada triwulan I 2026, mencerminkan peningkatan aktivitas sektor riil berbasis usaha kecil.
Sebagai contoh, salah satu pelaku UMKM, Rizkyanti menjadi contoh konkret integrasi tersebut. Usaha olahan pangan berbasis ikan yang berdiri sejak 1998 itu kini telah bermitra dengan 544 gerai ritel modern di Palembang sejak 2012.
Selain memperluas distribusi domestik, produk Rizkyanti juga telah menembus pasar ekspor ke Singapura. Ekspansi ini didukung oleh pemanfaatan kanal digital seperti media sosial dan layanan delivery order, serta penetrasi pasar ke sejumlah kota seperti Bandung, Yogyakarta, Banyuwangi, dan Lampung.
Keberhasilan tersebut ditopang oleh pemenuhan berbagai standar industri, mulai dari sertifikasi halal, Good Manufacturing Practices (GMP), Sanitation Standard Operating Procedures (SSOP), hingga izin edar dan hak kekayaan intelektual (HAKI).
Secara historis, UMKM di Indonesia menghadapi hambatan utama pada akses pasar dan standardisasi produk. Skema distribusi tradisional membuat banyak produk lokal sulit bersaing dengan barang impor atau produk industri besar.
Baca Juga: Ekspor Dipercepat, Kemendag Berlakukan Izin Digital Otomatis
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah menggeser pendekatan dari sekadar pembiayaan menjadi integrasi rantai pasok. Program business matching dan kemitraan dengan ritel modern menjadi instrumen untuk mempercepat skala usaha sekaligus meningkatkan daya saing.
Langkah ini juga sejalan dengan tren global, di mana ritel modern dan supply chain terintegrasi menjadi kunci penetrasi pasar ekspor, terutama untuk produk makanan olahan dan barang konsumsi cepat saji (FMCG).
Integrasi UMKM ke ritel modern berdampak langsung pada peningkatan volume produksi, stabilitas permintaan, serta pembukaan akses ke pasar yang lebih luas, termasuk ekspor.
Di sisi lain, sektor ini juga ditopang oleh dominasi pelaku usaha perempuan. Berdasarkan data pemerintah, sebanyak 64,5% pelaku UMKM di Indonesia adalah perempuan.
“Sebanyak 64,5 persen pelaku UMKM merupakan perempuan. Ini menunjukkan bahwa perempuan menjadi kekuatan utama dalam mendorong aktivitas ekonomi produktif,” ujar Roro.
Dirinya menegaskan, kontribusi tersebut tidak hanya berdampak pada ekonomi nasional, tetapi juga pada ketahanan ekonomi keluarga.
“UMKM secara keseluruhan menyumbang sekitar 60 persen terhadap PDB Indonesia dan menyerap lebih dari 90 persen tenaga kerja. Dengan demikian, kontribusi perempuan dalam UMKM menjadi sangat signifikan,” katanya.
Kementerian Perdagangan akan memperluas kemitraan dengan ritel modern dan department store di berbagai wilayah sebagai upaya mempercepat akses pasar UMKM.
Program business matching akan terus diperkuat untuk mempertemukan pelaku usaha dengan jaringan distribusi yang lebih luas, baik di dalam negeri maupun pasar ekspor.
Dengan pendekatan ini, ritel modern tidak lagi hanya berfungsi sebagai kanal penjualan, tetapi menjadi bagian dari strategi industrialisasi UMKM untuk meningkatkan skala, kualitas, dan daya saing di pasar global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








