Sate Barokah Mayestik, dari Gerobak Pinggir Jalan hingga Sewa Ruko Berkat KUR BRI

AKURAT.CO Moch. Haidir (30 tahun), Ayah asal Bangkalan, Madura sudah sejak 2013 lalu menjajakan sate madura menggunakan gerobak di pinggir jalan atau trotoar di sekitaran flyover Kebayoran Lama, Taman Puring hingga Mayestik.
Ilmu berjualan sate madura ia warisi dari keluarga, dimana ayahnya fokus mengembangkan jaringan pelanggan loyal, sang ibu fokus meracik bumbu. Haidir bersama dua kakaknya sama-sama diterjunkan di bisnis sate madura menggunakan gerobak.
Banyak aral melintang sebelum akhirnya Haidir berhasil memaintain pesanan hingga 500 tusuk per hari. Bahkan kedua kakaknya sudah terlebih dahulu menyerah karena gagal. Awal tiba di Mayestik dan mangkal di depan sebuah ruko, Haidir bahkan kerap didatangi sesama penjual sate, digertak dan sebagainya. Karena ternyata sesama tukang sate jarang yang akur. Namun ia tak gentar dan perlahan mendapatkan kepercayaan dari para pembeli setianya.
Baca Juga: Regenerasi Jadi Kunci Keberlanjutan UMKM Wedang Uwuh di Yogyakarta
“Saya anak ketiga dan kedua kakak saya jualan juga sate juga tapi terhenti padaha mereka start duluan. Tapi yang paling maju Alhamdulillah saya. Pernah ada di satu titik jualan itu sepi pas Covid-19. Bahkan sampai sempat saya tawarin ke orang lapak saya, ditawar Rp50 juta tapi saya mintanya kan Rp150 juta. Ada untungnya dia enggak mau waktu itu, kalau laku saya belum tentu maju seperti sekarang,” kenang Haidir.
Salah satu jurus jitu yang dilakukan Haidir untuk sukses berbisnis sate madura adalah mengamankan pasokan bahan baku. Ia berlangganan ke salah satu penjual di Pasar Kebayoran. Cukup sekali bayar untuk mingguan, daging diantar setiap hari.
Hal lain yang tak kalah penting adalah bumbu yang enak dan otentik. Untuk urusan ini, Haidir masih belum bisa menggantikan racikan bumbu sang ibu, berbahan kacang asli dari Madura yang rasanya otentik: manis.
“Untuk bumbu saya masih percayakan biar ibu saja yang megang. Soalnya sudah pernah dipegang istri saya, ternyata banyak yang complain karena ternyata beda tangan beda rasa walaupun resepnya sama,” ujar Hadir.
Kemudian, berikan layanan yang berbeda daripada kompetitor. Dalam hal ini, Haidir kerap memberikan lontong kepada pembeli sebagai bonus. Alhasil banyak yang berlangganan kepadanya. “Jadi meskipun keuntung saya enggak begitu..yang penting barokahnya. Makanya namnya Sate Barokah Mayestik kan. Kalau sayanya enggak ada (tak jualan), pelanggan banyak yang nyariin, mereka enggak jadi beli (ke kompetitor),” kata Hadir.
Ruko Kosong Disewakan: Haidir Jemput Peluang
Haidir menyewa ruko 2 lantai seharga Rp200 juta per tahun di Mayestik pada 2025
Bertahun-tahun mangkal di depan ruko kosong Mayestik tersebut, pada 2025 Haidir mendapati bahwa pemilik ruko kosong tersebut mengiklankan propertinya untuk disewa dengan harga Rp200 juta per tahun. Ruko kosong yang sekaligus jadi lapak jualan Haidir ini memang strategis.
Letaknya persis di seberang Pasar Mayestik, terhubung dengan JPO. Ruko ini diapit kanan kirinya oleh Kantor Cabang BSI (kanan) dan BRI (kiri). Di sebarang juga bahkan ada KC BNI.
Tak mau kehilangan pasar dan lapak yang sudah ia bangun, Haidir pun akhirnya mengajukan pinjaman ke KC BRI, yang kebetulan sudah ia kenal bertahun-tahun karyawan-karyawannya yang sesekali juga membeli satenya.
“Jadi kebetulan di tahun 2025 kemarin ruko kosong ini mau disewain. Dari pada disewain ke orang jadinya saya yang menyewa. Kemrien misalnya enggak saya sewa, jualan di depan ruko ini lagi susah dan juga saya sudah punya langganan (pembeli loyal), punya brand juga. Jadi saya beranikan diri sewa ruko 2 lantai ini walaupun risikonya (cicilan pinjaman macet) besar,” ujar Haidir.
Haidir masih ingat betul, proses pencairan dana dari BRI begitu cepat. Hal tersebut juga tak lepas dari keuletan Haidir berjejaring dengan para karyawan BRI KC Melawai, yang letaknya kebetulan di sebelah ruko lapaknya.
“Prosesnya (pencairan) kemarin cepat, tapi saya enggak dapat yang KUR dapatnya Simpedes apa ya Namanya. KURnya malah dapatnya di BSI (yang kebetulan juga masih bersebelahan dengan lapak Haidir). Memang sejak saya pindah dari Taman Puring ke sini, saya jadi dekat dengan karyawan BRI. Pokoknya dari A-Z karyawannya saya kenal dan sering ngbrol. Kebetulan kemarin yang poses pencairan sama Mas Agung dan Mas Fabio,” cerita Haidir.
Kebutuhan Top Up Untuk Ekspansi
Pelanggan setia Haidir sedang memesan sate di tokonya
Haidir mengaku sejak menyewa ruko, bisnisnya terus berkembang. Dari awalnya habis 500 tusuk per hari saat masih berjualan lewat gerobak, saat ini habis lebih dari 2.000 tusuk per hari, dengan omzet antara Rp5-8 juta per hari.
Menu yang dijajakan juga kian berkembang tak hanya sate kambing dan ayam, tapi juga meluas ke sate taican, sop iga, soto dan sebagainya. Dari yang semula berjualan sendiri, kini Haidir mampu mempekerjakan 2 karyawan. Tapi dengan tenaga 3 orang saja termasuk Haidir sendiri, ia masih kewalahan sehingga pesanan lewat kanal online seperti Gofooda tau Grabfood tak termaksimalkan.
“Kebanyakan masih dari WA pesanannya. Kalau di online saya enggak terlalu banyak karena sering saya matikan juga pas lagi repot. Dari Wa masih utamanya dan yang datang langsung. Kadang kami belum buka saja di wa sudah banyak pesanan masuk,” kata Haidir.
Seiring omzet yang tumbuh, cost juga naik termasuk untuk gaji karyawan dan token Listrik yang sebulannya bisa sampai Rp2,5 juta sendiri. Untuk menghindari penyempitan marjin laba ini, Haidir ingin ekspansi bisnis lagi. Dari sisi menu, ia ingin menambahkan nasi gulai dan tongseng. Kemudian karyawan juga ingin bertambah menjadi 3, agar bisa buka dalam 2 shift kerja: pagi dan malam. Saat ini dengan tenaga cuma 3 orang, Sate Barokah Mayestik cuma bisa beroperasi pukul 06.00-21.00 WIB.
Ia ingin mengajukan top up modal sekitar Rp400-500 juta lagi untuk menambah cabang di pinggir jalan lainnya. Mengingat saat usaha sudah punya nama, akan mudah untuk membuka cabang baru. Sayangnya ia masih terkendala data transaksi pembayaran digital yang volumenya dianggap masih kurang memenuhi syarat top up. Haidir berharap ke depan BRI akan selalu membantu pelaku UMKM mengakses permodalan termasuk juga top up permodalan.
“Kemarin sama karyawan BRI juga disuruh tingkatkan lagi di transaksi QRIS supaya nanti bisa ditop up pinjamannya. Memang saat ini untuk transaksi belum saya fokuskan ke BRImo dan QRIS, baru sekitar Rp2 juta per bulan saja transaksi di sana. Tapi sebenarnya bisa saja sih kemarin sebagai gambaran saya pakai Gopay saja sebulan bisa sampai Rp80 juta transaksinya. Ya saya memang pakai BRImo ini baru sih, pas kemarin dikasih pinjaman. Tapi komitmen saya kala misalnya pengajuan top up saya diterima, semua transaksi akan saya fokuskan (alihkan) ke BRI saja,” harap Haidir.
Kendala Asimetri Informasi
Warung Sate Barokah Mayestik milik Haidir berada di lokasi strategis jantung Jaksel
Direktur Ekonomi Digital di Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda melihat case sulitnya Haidir melakukan top up bisa jadi lantaran sistem di SLIK OJK saat ini memang belum saling berbagi terkait transaksi antarperbankan menyangkut ke calon debitur.
Makanya dalam banyak kasus, pelaku UMKM secara paralel mengajukan KUR ke beberapa bank sekaligus, berharap peluang mereka melakukan top up modal kian besar.
SLIK saat ini, lanjut Nailul, hanya memperlihatkan bagaimana kinerja pembiayaan yang dilakukan calon debitur, apakah lancar atau tidak. Inilah yang kemudian berpengaruh pada plafon yang diberikan oleh perbankan karena perbankan mencatat transaksi calon debitur seperti apa.
Sayangnya, perbankan saat ini hanya melihat transaksi internal masing-masing bank. Bisa jadi transaksi di satu bank rendah, tapi di bank lain cukup besar. Untuk itu diperlukan provider data (seharusnya Bank Indonesia) untuk memberikan data terkait transaksi calon debitur di lintas bank.
“Saya rasa Payment ID (program BI) bisa menjadi solusi untuk penyediaan data tersebut. Namun harus melalui proses yang benar karena data ini sifatnya konfidensial,” ujar Nailul.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









