Akurat Logo

Batagor Gembira dan Jalan Panjang UMKM Bertumbuh: Dari Depan PLN Depok hingga Ekspansi Bersama KUR BRI

Yosi Winosa | 16 Mei 2026, 10:43 WIB
Batagor Gembira dan Jalan Panjang UMKM Bertumbuh: Dari Depan PLN Depok hingga Ekspansi Bersama KUR BRI
Nurlaela, owner Batagor Gembira bersama suami

AKURAT.CO Nurlaela (38), bersama suami, Endi Sunarya (41) meneruskan usaha Batagor Gembira yang sudah dirintis orang tuanya sejak tahun 1984. Awalnya ayah dan ibu Nurlaela merantau dari kampung halaman, Malangbong, Garut ke Ibu Kota, membuka usaha Batagor menggunakan gerobak ala pedagang kaki lima di depan PLN Depok.

Kemudian saat TipTop dibuka tahun 2004 di Jalan Tole Iskandar, Mekar Jaya, Sukmajaya, Depok, Batagor Gembira ekspansi gerobak keduanya di samping TipTop. Nurlaela, yang merupakan anak kedua dari 7 bersaudara itu, mulai dilibatkan dalam usaha Batagor pada tahun 2011, saat sang ayah mulai banyak kegiatan lain yang mengharuskannya bepergian.

“Saya mulai dilibatkan saat bapak bepergian atau kemana-mana. Bapak memulai usaha Batagor ini di tahun 1984 di PLN Depok. Nama Batagor Gembira itu sendiri dari pelanggan, dulu dari anak-anak UI yang suka beli, katanya karena kalau makan batagor bapak setelahnya jadi gembira,” kenang Nurlaela.

Baca Juga: Transformasi Desa Industri ke Lumbung Pangan: Perjalanan BUMDes Cipta Karya Menjahit Ekonomi Padurenan

Titik baliknya tahun 2017 saat sang ayah berangkah ibadah Haji, Nurlaela bersama suami diserahi atau diamanahi untuk secara penuh waktu meneruskan usaha Batagor Gembira. Nurlaela bersama suami yang semula sempat jadi anak kantoran pun akhirnya memutuskan untuk berwirausaha secara penuh.

“Kami sempet kerja dulu, tapi kok rasanya untuk memenuhi kebutuhan bulanan saat itu enggak sampai-sampai. Enakkan usaha kayaknya, dapatnya bisa setiap hari. Pas juga ketika bapak berangkat haji, mulailah semua diserahin ke saya. Karena bapak tuh orangnya enggak mudah percaya sama karyawan, terutama soal resep atau bumbu,” tutur Nurlaela.

Seiring berjalan waktu, Batagor Gembira makin berkembang menjadi beberapa gerobak di sekitaran Depok dan bahkan telah mempekerjakan 12 karyawan, yang mayoritas berasal dari Garut, Banten dan Bogor. “Kami sekarang ada di PLN Depok (4 karyawan bergantian karena buka 24 jam), di sini (samping TipTop), di Jalan Flamboyan, Jalan Dadap, Jalan Majapahit, Jalan Angin Mamiri dan SD Bina Insani,” kata Nurlaela.

Dari yang semula mengontrak, sampai akhirnya mereka memiliki rumah. Batagor Gembira juga ramai pengunjung. Bahkan sangkin ramainya, gerobak di PLN Depok buka 24 jam. Termasuk juga di samping TipTop yang buka setiap hari. Tak kurang dari 200 porsi, dengan harga rerata Rp15.000 per porsi, terjual setiap harinya.

“Paling kalau kami atau suami lagi libur, ada yang gantiin. Di sini (sebelah TipTop) kami jarang libur kecuali kalau hari besar seperti Lebaran. Yang di PLN Depok sama sekali enggak ada liburnya Lebaranpun jualan. Puncak ramainya itu 2 minggu setelah Lebaran, istilah kami meraup uang karena di momen itu orang jualan jarang tapi yang beli justru lagi banyak uang,” canda Nurlaela.

Sri (39), salah satu pegawai di TipTop yang juga langganan Batagor Gembira mengaku tak pernah skip makan siang Batagor Gembira karena rasa bumbunya yang khas. “Karena rasanya enak, bumbunya otentik, segar dan pedasnya pas,” ucap Sri.

Pesanan di rumah pun tak kalau ramai dari gerobak di pinggir jalan. Di rumah, layanan dikhususkan untuk pesanan online saja seperti Grabfood, yang kebanyakan dalam bentuk kemasan bahan mentah untuk dijual kembali. Sekali pesanan nilainya bisa sampai Rp300-600 ribu. Sesekali Batagor Gembira juga melayani pesanan siomay untuk acara pernikahan.

Tips bagi Perintis

Seiring waktu, Batagor Gembira kian ramai pengunjung

Sunarya menambahkan, tak sedikit orang yang ingin belajar berjualan Batagor seperti Batagor Gembira, datang ke rumah untuk mengikuti “kursus” secara penuh. Namun memang tak semuanya sabar dan tahan menghadapi ujian sepinya pelanggan.

“Paling cobaannya itu, kan namanya jualan enggak mungkin selalu ramai setiap hari. Kebanyakan pada enggak kuat di situ. Pernah waktu itu ada yang datang dari Garut belajar dari pagi sampai malam, bolak-balik selama 6 bulan belanja bahan. Eh ternayata di perjalanan berhenti, tidak kuat,” timpal Sunarya.

Senada, Nurlaela juga menyarankan calon wirausahawan untuk tak mudah menyerah mengingat semua usaha yang dibangun dari nol atau dari awal memang pasti dalam perjalannya akan menemui titik jatuh bangun. Harus diperhitungkan secara matang, setiap modal yang dikeluarkan, setiap peluang usaha yang dibidik, dan jangan coba-coba.

“Kalu misalnya usaha cuma untuk coba-coba sih menurut saya jangan. Dan jangan main keluar begitu saja dari pekerjaan (resign) tapi ternyata belum tahu mau ngapain. Jangan modal nekat istilahnya, kecuali memang sudah jelas usahanya, sudah keliatan ada kemajuan,” kata Nurlaela.

Bagi yang merintis usaha bersama dengan pasangan, komunikasi dan saling percaya partner bisnis juga menjadi kunci. Meski setiap hari bertemu, bisa saja ada selisih pandangan atau perhitungan bisnis, apalagi sedang sama-sama capek misalnya. “Intinya sih aman selama komunikasi lancar dan saling percaya bahwa apa yang dikerjakan ujungnya untuk keluarga,” tambahnya.

Terakhir, memilih karyawan yang bisa dipercaya. “Kami dengan karyawan sistem kepercayaan saja enggak pernah hitung-hitungan ulang (rekap). Ada saja sih sebenarnya celahnya kaya kemarin ada satu karyawan ternyata meninggalkan utang di tempat jualan sampai dianya enggak datang lagi. Yang seperti ini harus diminimalisir,” kata Nurlaela.

Ekspansif Berkat KUR BRI

Di rumah, Batagor Gembira juga melayani pesanan online

Dalam perjalannnya, Nurlaela beberapa kali memperoleh KUR dari KC BRI Sukmajaya. Pertama di tahun 2021 sebesar Rp20 juta untuk keperluan karyawan. Beberapa tahun kemudian dengan nominal yang sama, masih untuk keperluan karyawan. Terakhir di tahun 2025, barulah Nurlaela mengajukan pinjaman Rp100 juta, tenor 3 tahun untuk modal usaha foto copy/ ATK di kantin Yayasan Pendidikan Tugu Ibu, Depok.

“Yang terakhir kemarin itu kebetulan ditawari petugas BRI dia datang ke rumah. Memang sudah sering ditawari, tapi biasanya kami tolak karena enggak ada kebutuhan. Nah baru yang tahun 2025 itu kami ajukan karena untuk usaha ATK, membeli mesin foto copy, sewa ruko Rp15 juta per tahun. Jadi sekarang selain Batagor Gembira juga ada Foto Copy Gembira,” kata Nurlaela.

Ide membuka usaha foto copy sendiri berangkat dari kondisi sang adik yang kebetulan baru resign dari pekerjaannya sebagai guru. “Jadi awalnya adik saya kan kuliah kelas karyawan. Sempat kerja jadi guru dia, tapi kesabarannya kurang, baru masuk berapa minggu udah keluar. Enggak mungkin jualan gerobakan kan namanya anak perempuan. Akhirnya ada yang nawarin kios itu. Saya pikir oh kayaknya kalau untuk usaha foto copy sama print cocok nih,” ujar Nurlaela.

Diakuainya, dengan bunga yang terjangkau, KUR BRI tak memberatkan dan sangat membantu pelaku UMKM seperti dirinya. “Terasa manfaatnya saat untuk modal usaha ATK kemarin karena kan memang digunakan untuk usaha dan ada pemasukan, sisanya juga bisa ditabung. Alhamdulillah untuk angsuran bulanannya tertutupi dari usaha itu sendiri, malah lebihannya bisa untuk gaji karyawan dan ditabung,” katanya.

Kuliahkan Putrinya hingga ke Madinah

Batagor Gembira terletak di bilangan Jalan Raya Tole Iskandar, Mekar Jaya, Sukmajaya, Depok

Nurlaela mengaku belum ada rencana ekspansi bisnis di luar Batagor Gembira dan Foto Copy Gembira. “Bapak sih kemarin bilang, bapak udah capek. Jadi kalau mau (ekspansi) cari sendiri ya jangan melibatkan bapak. Cuman enggak tahu juga sih kalau ternyata nanti anak-anak bapak yang lain ada ide bisnis baru,” kata Nurlaela.

Yang pasti, ia bersama suami ingin fokus menamatkan pendidikan putri-putrinya yang kini duduk di kelas 3 SMP dan kelas 1 SD.

“Anak saya (putri pertama) cita-citanya tinggi banget pengen kuliahnya di Madinah, Masya Allah. Dia sekarang di Pesantren Madinatul Quran (salah satu sekolah di Depok yang fokus pada pendidikan hafidz). Lagi ngejar bimbel-bimbel juga agar mudah-mudahan bisa masuk untuk yang full beasiswa,” harap Nurlaela.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.