Depot Mirah Bulungan, Tempat Makan Merakyat Nan Sibuk di Jantung Kota Jaksel

AKURAT.CO Hilir mudik lalu lalang masyarakat urban Jaksel menjadi pemandangan tak asing di Depot Mirah Bulungan, terutama menjelang dan usai jam makan siang. Saat puncaknya, warung ini bisa melayani lebih dari 500 piring dalam setengah hari.
Lokasinya yang strategis, diapit oleh SMAN 6 Jakarta di kiri, Plaza Blok M di depan, Taman Bendera Pusaka (gabungan Taman Barito/Ayodya, Taman Langsat, Taman Leuser) di kanan agak jauh serta SMAN 70 Jakarta di belakang agak jauh, membuat Depot Mirah Bulungan tak pernah atau sangat jarang sepi.
Pembelinya beragam, mulai dari anak sekolah, guru, karyawan, masyarakat di sekitar, yang mayoritas sudah seperti langganan. Menunya juga macam-macam.
Baca Juga: Regenerasi Jadi Kunci Keberlanjutan UMKM Wedang Uwuh di Yogyakarta
Ada beragam lauk pauk, aneka minuman (soft drink, teh hingga juice), mie ayam, pecel lele/ ayam, ayam geprek, sate kulit, nasi ayam goreng sambal lalap dan sebagainya. Harganya juga murah meriah, belasan ribu saja, dari yang termurah Rp2.000 (tahu tempe) hingga yang termahal Rp20.000 (pecel ayam/ nasi ayam goreng sambal lalap).
Adalah Khoirul Bariyah (52 tahun), Ibu dari 3 anak asal Malang yang merintis usaha tempat makan ini sejak 24 tahun lalu atau sekitar 2002. Saat awal merintis, anaknya, Almirah baru berusia sekitar 8 tahun dan kelas 2 SD hingga kini Almirah menginjak usia 32 tahun dan sudah punya anak.
“Nama Mirah itu diambil dari nama anak saya Almirah. Depot sendiri kalau kami orang Jawa Timur itu artinya tempat makan (seperti warteg di Jawa Tengah dan warsun atau warung nasi di Jawa Barat). Saya kan asalnya Malang. Sudah lama sih memulai usaha ini dari kira-kira sekitar anakku kelas 2 SD sampai sekarang dia sudah lulus kuliah, sudah kerja, sudah 20 tahun lebih lah,” ujar Khoirul.
Setiap hari Khorul membuka warungnya dari jam 10 pagi hingga 12 malam. Selanjutnya dilanjutkan lagi oleh wirausaha lain pada shift malamnya. Alasan ia hanya buka setengah hari, agar tak capek mengingat trafik pembeli juga padat setiap harinya.
“Jam 12 an (malam) kami udahan. Gantian sama yang malem. Cuma orangnya yang beda, daganganya masih sama, biar enggak capek. Kami kan mulai buka menjelang makan siang, ya jam 10 atau maksimal setengah 11,” tutur Khoirul.
Suasana Merakyat
Suasana santai sekaligus ramai pengunjung Depot Mirah Bulungan
Meski tak identik dengan Depot di Jawa Timur, dimana lalu lalang supir truk yang mampir mengisi perut, atau ramai suara kendaraan karena lazimnya terletak di sepanjang jalan utama/ provinsi, ada satu kemiripan di Depot Mirah Bulungan, tak ada yang benar-benar saling asing di warung ini. Bahkan kesunyian terasa akrab.
Depot ini tak sekadar tempat makan, melainkan ruang kecil tempat kehidupan kelas pekerja dan pelajar beristirahat sejenak dari kerasnya jalanan. Orang datang karena lapar, tetapi pulang membawa rasa yang sama, obrolan yang sama, keresahan yang sama, soal kerasnya hidup dan kondisi ekonomi di jalan.
Sementara para karyawan sibuk dengan pembagian tugasnya masing-masing dengan harmoni(ada yang memasak, ada yang melayani, ada yang mengantar makanan, ada yang merapikan meja makan, ada yang mengatur trafik kendaraan pengunjung, ada yang menjadi kasir), para pengunjung juga tak sungkan tegur sapa, baik sesama pengunjung ataupun dengan para karyawan.
Rata-rata pengunjung merupakan pelanggan yang sudah kenal dengan rasa masakan dan figur Khoirul. “Adi baru kelihatan lagi sejak lebaran, anak gimana sehat kan?,” sapa Khoirul kepada salah satu pelanggannya (mengenakan ID karyawan KataData), dilanjutkan dengan Khorul melayani pesanan Adi.
Kian Berkembang Berkat KUR BRI
Slah satu pembeli Depok Mirah Bulungan membayar lewat QRIS
Khoirul mengaku usahanya terbantu dan berkembang berkat bantuan akses permodalan berupa KUR, salah satunya dari BRI. Ia mulai menggunakan KUR BRI sejak 4 tahun belakangan dan sudah beberapa kali top up.
“Yang pertama Rp50 juta, kedua enggak tau itu KUR atau apa dapat lagi saya Rp300 juta agak besar karena waktu itu untuk keperluan rumah, kemudian Rp100 juta, Rp100 juta lagi, terakhir Rp300 juta,” cerita Khoirul.
Khorul memang sejak awal menyimpan tabungannya di BRI. Barangkali karena secara SLIK OJK datanya bagus, sehingga Khoirul sering ditawari perwakilan BRI KC terdekat untuk melakukan top up meski mungkin masih tersisa beberapa kali angsuran berjalan.
“Saya KUR yang pertama kali sebetulnya dari Artha Graha. Kemudian karena waktu itu kami ada keperluan minjem dan ditawari terus minta oleh BRI akhirnya keterusan. Sebetulnya saya orangnya kalau enggak yang perlu banget enggak akan ngajuin (KUR) mas, cuman kebetulan waktu itu kami ada perlu buat keperluan rumah, jadi minjem lagi. Tapi itu bukan buat modal sih, buat beli apa gitu ya itu untuk rumah kayaknya. Alhamdulillah nya bunganya enggak tinggi, jadi terjangkau. Tapi kalau masih bisa sih dikecilin lagi (bunga KUR) soalnya saya ditawarin terus padahal yang existing belum kelar tetap ditawarin. Yang penting sih mas kami enggak pernah telat bayar (angsuran), di situ aja sudah bersyukur,” papar Khoirul
Dengan bantuan akses permodalan dari BRI, usaha Depot Mirah Bulungan pun berkembang secara konsisten, dari yang semula tanpa karyawan kini sudah ada 10 karyawan. Selain itu, hasil usahanya ini juga mampu untuk menyekolahkan anaknya bahkan hingga kuliah. Khoirul yang anak terkecilnya masih berusia 18 tahun atau SMA ingin agar anaknya bisa kuliah seperti dua kakaknya.
“Anak saya 3, paling gede sudah kasih saya 2 cucuk, kemudian ada yang baru nikah, yang terkecil SMA. Jauh-jauh jaraknya anak pertama cewek 32 tahun, kedua cowok 26 tahun, ketiga cewek 19 tahun. Inginnya anak yang terakhir harus kuliah juga dong, Namanya sayanya sudah enggak.. saya mah mas biar enggak punya apa-apa yang penting anak pada kuliah. Anak pertama kuliah jurusan perikanan, kedua jurusan manajemen. Yang ketiga ini nanti terserah dia aja mau jurusan apa,” kata Khoirul.
Khorul juga mengaku tak lagi ngoyo mengejar peningkatan kuantitas pembelian atau omzet Depot Mirah Bulungan. Baginya kondisi saat ini sudah ideal. Apalagi BRI selain memberi akses ke permodalan juga melengkapi sistem pembayaran digital di Depot Mirah Bulungan lewat transaksi QRIS, hal ini kian memudahkan pelanggan yang lebih familiar dengan transaksi nontunai, terutama anak muda.
“Kalau ngomongin nominal atau kisaran omzet, gini aja mas pokoknya kami sudah cukup. Cukup buat gaji karyawan, cukup buat anak sekolah anak kuliah. Soalnya kalua dari sisi positioning di sini (Depot Mirah Bulungan) kan yang makan juga anak sekolah, karyawan dan kami harus bisa sesuaikan. Harganya pasti beda dengan yang foodcourt atau yang ada di mall (Plaza Blok M) misalnya,” tutur Khoirul.
Berdampak ke Sekitar
Motor para pengunjung Depot Mirah terparkir rapi
Woyo (50 tahun), yang merupakan juru parkir di Kawasan Depot Mirah Bulungan mengaku terbantu dengan keberadaan warung milik Khoirul itu. Pasalnya, penghasilan hariannya dari jasa memarkir juga ikut meningkat, mengingat warung yang sangat jarang sepi.
“Dia (Depot Mirah Bulungan) mah ramai terus mas, kan buka 24 jam juga. Kalau warung ramai, saya ikut ramai,” tutur Woyo.
Di kawasan strategis eperti Bulungan, relasi ekonomi bekerja dengan cara yang nyaris organik. Tidak ada kontrak tertulis, tidak ada struktur korporasi, tetapi terdapat rantai penghidupan yang saling menopang. Pedagang membutuhkan pembeli. Pembeli membutuhkan tempat singgah. Dan tukang parkir seperti dirinya menjadi simpul kecil yang membuat semuanya bergerak lebih tertib.
Nama Woyo barangkali tak pernah tercatat di papan usaha manapun di kawasan tersebut. Namun selama bertahun-tahun, denyut ekonomi siang dan malam di kawasan itu ikut menghidupi dirinya. Dari kursi plastik lusuh dan kesigapannya, ia menyaksikan bagaimana satu per satu pelanggan Depot Mirah Bulungan hingga kedai kaki lima lainnya menjadi semacam mesin kecil yang menjaga dapur rumahnya tetap menyala.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









