Akurat Logo

Dari Internet Desa ke PADes: Kisah Sukses BUMDes Pete yang Menjelma Jadi Mesin Ekonomi Desa

Yosi Winosa | 29 Juni 2026, 19:38 WIB
Dari Internet Desa ke PADes: Kisah Sukses BUMDes Pete yang Menjelma Jadi Mesin Ekonomi Desa
Pengelola BUMDes Pete Maju Bersama bersama warga berbnisnis pengolahan drum

AKURAT.CO Di tengah banyaknya tantangan yang dihadapi badan usaha milik desa, BUMDes Pete Maju Bersama di Desa Pete, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang menunjukkan bahwa transformasi ekonomi desa bisa dimulai dari langkah sederhana namun konsisten.

Dari hanya satu layanan internet desa, kini BUMDes itu tumbuh menjadi ekosistem usaha dengan empat unit bisnis yang menopang pendapatan desa sekaligus membuka peluang ekonomi bagi desa dengan 4.000 KK (12.000 warga) itu.

Perjalanan BUMDes Pete tidak berlangsung instan. Berdiri pada 2020 di tengah situasi pandemi Covid-19, operasional sempat terhambat sebelum akhirnya mulai bergerak aktif pada akhir 2021. Momentum kebangkitan itu justru menjadi titik balik yang menentukan arah pertumbuhan usaha.

Baca Juga: Sertifikasi Aset Tanah Jadi Asa BUMDes Majujaya Ciptakan Lompatan Usaha dan PADes

Manager BUMDes Pete Maju Bersama, Darmayanti (60), menjelaskan bahwa fondasi awal bisnis BUMDES dibangun melalui layanan internet berbasis langganan untuk rumah tangga warga desa.

“Kami kegiatan utamanya usahanya internet berjalan terus sampai sekarang masih aktif menjadi usaha utama kami. Pemasangan internet jadi kami sistem berlangganan di rumah-rumah, jadi sama seperti Indihome hanya kami fokusnya di satu desa,” ujar Darmayanti.

Pengolahan drum jadi salah satu usaha BUMDes Pete Maju Bersama

Dari satu layanan itu, BUMDes terus melakukan ekspansi secara terukur. Tahun 2023 mulai masuk ke sektor ketahanan pangan melalui pengembangan pertanian, peternakan, dan perikanan.

Pada 2025, usaha diperluas ke pengelolaan air bersih. Memasuki 2026, mereka kembali membuka lini ekonomi kreatif dengan mengolah drum bekas menjadi furnitur.

Kini, BUMDes Pete telah memiliki 4 unit usaha aktif yang dikembangkan berdasarkan kajian bisnis dan kebutuhan riil desa. Menurut Darmayanti, setiap pengembangan usaha tidak pernah dilakukan secara spontan.

Hal ini juga sebagaimana suntikan modal dari pemerintah desa yang mengalir bertahap. Di awal 2021 penyertaan modal dari desa mencapai Rp250 juta, kemudian di 2023 sebesar Rp184 juta dan terbaru di 2026 Rp150 juta.

“Setiap kegiatan harus ada kajiannya terlebih dahulu. Kami melihat peluang, lalu dibuat kajiannya, karena semua membutuhkan modal dan harus dilihat bagaimana prospek ke depannya. Alhamdulillah kami masih tetap mengembangkan dan meningkatkan terus usaha kami,” katanya.

PADes Naik Bertahap

BUMDes Pete Maju bersama terus meningkatkan setoran PADes mereka

Keberhasilan itu juga mulai tercermin dari kontribusi nyata terhadap Pendapatan Asli Desa (PADes). Dengan skema penyetoran 30 persen laba bersih setiap tahun, BUMDes Pete secara bertahap meningkatkan kontribusi dari Rp3 juta pada 2023 menjadi Rp7 juta di 2024, ke Rp10 juta di 2025 dan tembus Rp15 juta pada 2026.

Darmayanti menilai keberadaan BUMDes harus dipandang sebagai mesin ekonomi institusional desa yang mampu menciptakan sumber pendapatan legal dan berkelanjutan.

“Keinginan kami ke depan PADes bisa lebih meningkat lagi karena sekarang ini satu-satunya sumber di desa yang bisa mendapatkan dana secara legal. Desa tidak punya pendapatan lain selain dari BUMDes,” ungkapnya.

Selain menghasilkan pendapatan, dampak ekonomi juga mulai terasa melalui penciptaan lapangan kerja lokal. Sekitar 10 tenaga kerja terlibat langsung dalam operasional, sementara aktivitas sektor pangan turut menggerakkan kelompok tani dan warga sekitar.

Darmayanti menilai kunci keberhasilan pengelolaan BUMDes ada pada identifikasi unit usaha yang sesuai dengan karakteristik desa. Pengelola harus mampu menciptakan usaha yang sesuai dengan kondisi desa. Kabupaten Tangerang sendiri, beruntungnya hampir semuanya sudah memiliki BUMDes masing-masing.

“Jadi ada forum BUMDes se-Kabupaten, kebetulan kami ketua. Jadi kami ajak seluruh BUMDes di Kabupaten Tangerang agar update. Kami selalu bikin kegiatan pembinaan, bagaimana menjalankan usaha, bagaimana pengelolaan manajemen dan sebagainya kami selalu tukar masukan bersama teman-teman lain karena niat kami agar semua BUMDes di Kabupaten bisa eksis, karena ini kan salah satu sumber PADes yang resmi secara lembaga di desa ya, bukan dari pribadi kades,” papar nya.

“Kami juga baru terdaftar bulan Mei kemarin dalam program Desa BRILian, dibantu mantri dari BRI Unit Tigaraksa. Ini kami masih menunggu tindak lanjut pelatihannya seperti batch ke berapa, dia kan ada beberapa batch atau tahap kan,” tambah Darmayanti.

Salah satu warga Desa Pete, Dina Sujatmika, menilai keberhasilan BUMDes tidak semata diukur dari angka keuntungan, tetapi dari kemampuan menjaga keseimbangan antara bisnis dan fungsi sosial.

“BUMDes ini orientasinya bisnis, tentu berharap mendapatkan marjin yang baik, tetapi juga ada aspek sosial. Kegiatan sosial di desa baik juga disupport baik santunan dan sebagainya,” ujar Dina.

Dukungan masyarakat di satu sisi, juga menjadi salah satu faktor yang memperkuat pertumbuhan BUMDes. Dina mengaku perubahan mulai terasa sejak BUMDes memperluas usahanya. Bahkan kini pengurus BUMDes yang berjumlah sekitar 11 juga sudah bisa menerima penghasilan tetap bulanan.

“Sekarang warga melihat BUMDes bukan hanya tempat usaha milik desa, tapi benar-benar mulai jadi penggerak kegiatan ekonomi dan sosial. Ada manfaat yang terasa karena kegiatan desa ikut hidup dan peluang usaha mulai terbuka,” kata Dina.

Di saat banyak desa masih mencari model ekonomi yang berkelanjutan, kisah BUMDes Pete memperlihatkan satu pelajaran penting: kemajuan desa bukan hanya soal besarnya modal, tetapi keberanian membaca potensi lokal, mengelola usaha secara profesional, dan memastikan manfaatnya kembali kepada masyarakat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.