Akurat
Pemprov Sumsel

Mengenal Kisah Sengkuni, Tokoh Perwayangan yang Sifatnya Sering Disamakan dengan Politikus

Shalli Syartiqa | 11 Januari 2024, 20:27 WIB
Mengenal Kisah Sengkuni, Tokoh Perwayangan yang Sifatnya Sering Disamakan dengan Politikus

 

AKURAT.CO Sengkuni adalah tokoh wayang yang terkenal dalam wiracarita Mahabharata, populer di kalangan masyarakat karena sifatnya yang sering disamakan dengan politikus atau petinggi.

Sengkuni juga dikenal sebagai Trigantalpati, adalah seorang tokoh elit Astina di pemerintahan Kurawa dan saudara kandung dari Permaisuri Gandari, istri Destarata atau Raja Astina serta ibu dari Duryudana.

Dalam pewayangan, Sengkuni digambarkan sebagai sosok jahat dengan mulut yang lebar.

Filosofi kejahatannya terletak pada keahliannya bersilat lidah, mampu memperdaya orang dengan kata-katanya yang manis. Banyak kedustaan keluar dari bibirnya.

Kisah kejahatan politik Sengkuni dimulai ketika kakaknya, Dewi Gandari yang dikenal kejam dan pendendam, meminta bantuannya untuk membuat anaknya, Duryudana, menjadi raja di Astina.

Saat itu, Astina dipimpin oleh Pandu Dewanata, adik Destarata.

Dalam cerita pewayangan, Pandu Dewanata terlibat dalam pertempuran melawan muridnya, Prabu Tremboko, yang berakhir dengan kematian tragis keduanya. T

ragedi berdarah ini dipicu oleh politik adu domba yang dilancarkan Sengkuni untuk merebut kekuasaan dari Pandu.

Setelah kematian Pandu, Destarata menjadi raja ad-interim sementara Pandawa tumbuh dewasa untuk mewarisi tahta Astina.

Namun, Sengkuni tidak berhenti di situ. Ia aktif dalam politik, mempengaruhi Destarata untuk sementara waktu menyerahkan kekuasaannya kepada Duryudana, keponakan Sengkuni.

Meskipun Destarata menyerahkan kekuasaan itu kepada Duryudana atas rayuan Sengkuni, hal ini hanya bersifat sementara hingga para Pandawa cukup dewasa untuk memimpin Astina.

Sengkuni terus melakukan tindakan kejahatannya, merancang rencana licik dan menghalalkan segala cara untuk menghilangkan para Pandawa agar keponakannya dapat memimpin di Astina.

Tindakan ini menjadi pemicu terjadinya perang saudara antara Pandawa dan Kurawa yang dikenal sebagai bharatayudha.

Namun, seperti halnya rumus alam yang menyatakan segala sesuatu memiliki batas waktu, kejahatan Sengkuni juga tidak dapat berlangsung selamanya.

Akhirnya, dia tewas di tangan Werkudara (Bima), putra kedua dari Pandawa, dalam bharatayudha yang ia ciptakan sendiri.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.