Akurat
Pemprov Sumsel

Kontroversi Gusti Purbaya di Masa Lalu, Putra Mahkota yang Akan Dilantik Jadi Pakubuwono XIV

Naufal Lanten | 13 November 2025, 16:14 WIB
Kontroversi Gusti Purbaya di Masa Lalu, Putra Mahkota yang Akan Dilantik Jadi Pakubuwono XIV

 

AKURAT.CO Keraton Surakarta Hadiningrat kembali menjadi sorotan publik. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom (KGPAA) Hamangkunegoro Sudibyo Rajaputra Narendra Mataram atau yang dikenal dengan Gusti Purbaya, akan resmi dilantik menjadi Sri Susuhunan Kanjeng Sunan (SISKS) Pakubuwono XIV pada Sabtu, 15 November 2025.

Prosesi Jumeneng Dalem Nata Binayangkare, atau upacara kenaikan tahta raja, digelar setelah wafatnya Pakubuwono XIII beberapa waktu lalu. Sosok Gusti Purbaya sendiri bukanlah figur asing di lingkungan keraton. Ia merupakan anak bungsu Pakubuwono XIII dari istri ketiga dan sejak tahun 2022 telah ditunjuk sebagai putra mahkota dengan gelar resmi KGPAA Hamangkunegoro Sudibyo Rajaputra Narendra ing Mataram.

Namun, di balik momen bersejarah ini, jalan Gusti Purbaya menuju tahta tidak sepenuhnya mulus. Sejumlah kontroversi dan polemik sempat membayangi langkahnya sejak dinobatkan sebagai penerus takhta Keraton Surakarta.


Deklarasi Raja Sebelum Masa Berkabung Selesai

Kontroversi terbaru mencuat saat Gusti Purbaya mendeklarasikan diri sebagai Raja Keraton Surakarta di sela prosesi pemakaman ayahandanya, Pakubuwono XIII. Langkah tersebut menuai reaksi keras dari berbagai pihak internal keraton.

Maha Menteri Keraton Surakarta, Kanjeng Gusti Panembahan Agung (KGPA) Tedjowulan, menilai deklarasi itu dilakukan terlalu dini dan tidak sesuai dengan tata adat atau paugeran keraton.

Pihak Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta juga menyatakan bahwa suksesi seharusnya melalui rembug keluarga besar agar sesuai dengan ketentuan adat dan hukum nasional. Hingga kini, mereka menilai proses itu belum tuntas.


“Nyesel Gabung Republik” yang Bikin Geger

Nama Gusti Purbaya sebelumnya sempat viral di media sosial usai unggahan di akun Instagram pribadinya, @kgpaa.hamangkunegoro, menampilkan tulisan “Nyesel gabung Republik” dan “Percuma Republik Kalau Cuma untuk Membohongi”.

Unggahan itu memicu perdebatan publik dan dianggap sebagai kritik keras terhadap pemerintah. KPA H Dany Nur Adiningrat, pengageng Sasana Wilapa Keraton Solo, menjelaskan bahwa unggahan tersebut merupakan bentuk satire dan kritik sosial terhadap kondisi pemerintahan saat ini.

Menurut Dany, ada sejumlah isu nasional yang mendorong Gusti Purbaya membuat unggahan tersebut, di antaranya:

  • Kasus korupsi di PT Pertamina Patra Niaga soal Pertamax oplosan.

  • PHK massal di PT Sritex yang berdampak pada ribuan pekerja.

  • Korupsi izin tambang PT Timah di Bangka Belitung yang merugikan negara hingga ratusan triliun rupiah.

  • Kasus pagar laut di perairan Tangerang yang belum tuntas.

Selain itu, Dany juga menyebut kekecewaan Gusti Purbaya terhadap status Daerah Istimewa Surakarta (DIS) yang belum dikembalikan, serta hak-hak dan aset Keraton Solo yang belum diberikan pemerintah.


Pernah Terlibat Kasus Kecelakaan

Kontroversi lain yang sempat menyeret nama Gusti Purbaya adalah insiden kecelakaan di Simpang Gladak, Solo, pada 9 Agustus 2023. Mobil Mitsubishi Pajero yang dikendarainya bertabrakan dengan pengendara motor di kawasan tersebut.

Kabar yang beredar menyebutkan bahwa Gusti Purbaya melakukan tabrak lari, namun hal itu dibantah keras oleh kuasa hukumnya, KPAA Ferry Firman Nurwahyu Pradataningrat. Ia menjelaskan bahwa kecelakaan terjadi karena pengendara motor melawan arus, sementara Gusti Purbaya tidak bermaksud kabur dari tanggung jawab.

Pihak keraton bahkan sempat mencari korban di sejumlah rumah sakit hingga akhirnya diketahui bahwa korban hanya mengalami luka lecet ringan dan kasus diselesaikan secara damai di Satlantas Polresta Solo.


Penunjukan Sebagai Putra Mahkota yang Penuh Polemik

Penobatan Gusti Purbaya sebagai putra mahkota pada 27 Februari 2022 juga sempat menimbulkan polemik internal. Kala itu, ia masih berusia 21 tahun dan berstatus sebagai mahasiswa semester tiga di Universitas Diponegoro.

Penunjukan itu dilakukan langsung oleh Pakubuwono XIII dalam acara Tingalan Dalem Jumenengan ke-18. Sang ayah juga mengangkat ibunda Purbaya, Asih Winarni, sebagai permaisuri dengan gelar GKR Pakubuwono XIII Hangabehi.

Namun, keputusan tersebut ditolak oleh Lembaga Dewan Adat (LDA) dengan alasan penobatan dilakukan tanpa musyawarah keluarga besar. LDA juga menyoroti pernikahan Pakubuwono XIII dan Asih Winarni yang dianggap tidak sesuai adat, karena dilakukan di luar lingkungan keraton.

Sebagai bentuk protes, LDA kemudian menggelar upacara untuk mengganti nama KGPH Mangkubumi — kakak tiri Purbaya — menjadi KGPH Hangabehi, nama yang sama dengan almarhum ayah mereka.


Regenerasi dan Harapan Baru untuk Keraton Surakarta

Meski perjalanan Gusti Purbaya menuju tahta penuh dinamika, sebagian pihak melihat kehadirannya sebagai simbol regenerasi dan harapan baru bagi Keraton Surakarta.

Sejak diangkat sebagai putra mahkota, Purbaya aktif menjalankan peran diplomatik keraton, termasuk menjalin komunikasi dengan Pemerintah Kota Solo dan menghadiri berbagai acara resmi mendampingi sang ayah.

Bagi sebagian kalangan, sosok muda seperti Gusti Purbaya dinilai bisa membawa angin segar di tengah stagnasi tradisi keraton. Namun, dengan berbagai kontroversi yang telah terjadi, banyak mata kini menyorot bagaimana Pakubuwono XIV akan menata langkah pertamanya sebagai raja muda di tengah tantangan modernitas dan dinamika politik budaya Jawa.


Penutup

Jumenengan Pakubuwono XIV pada 15 November 2025 akan menjadi momen penting dalam sejarah panjang Keraton Surakarta. Di balik gegap gempita acara tersebut, publik masih menanti bagaimana Gusti Purbaya — kini calon raja muda — akan membuktikan diri sebagai pemimpin yang bijak di tengah sorotan dan kontroversi.

Kalau kamu ingin mengikuti perkembangan terbaru seputar prosesi dan dinamika Keraton Surakarta, pantau terus update selanjutnya hanya di AKURAT.CO.

Baca Juga: Raja Baru Keraton Solo

Baca Juga: 10 Tahun Berseteru, 2 Kubu Keraton Solo Sepakat Berdamai

FAQ Seputar Gusti Purbaya dan Jumenengan Pakubuwono XIV

1. Siapa Gusti Purbaya yang akan dilantik menjadi Pakubuwono XIV?
Gusti Purbaya atau Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom (KGPAA) Hamangkunegoro Sudibyo Rajaputra Narendra Mataram adalah putra bungsu almarhum Pakubuwono XIII dari istri ketiga. Ia ditunjuk sebagai putra mahkota Keraton Surakarta sejak tahun 2022 dan akan resmi dinobatkan menjadi Pakubuwono XIV pada 15 November 2025.


2. Kapan prosesi Jumenengan Pakubuwono XIV akan dilaksanakan?
Upacara Jumeneng Dalem Nata Binayangkare atau Jumenengan Pakubuwono XIV akan digelar pada Sabtu, 15 November 2025, di Keraton Surakarta Hadiningrat.


3. Mengapa penobatan Gusti Purbaya menuai kontroversi?
Kontroversi muncul karena deklarasi dirinya sebagai raja dilakukan sebelum masa berkabung atas wafatnya Pakubuwono XIII selesai. Selain itu, penobatan sebelumnya sebagai putra mahkota juga sempat ditolak sebagian pihak keluarga dan Lembaga Dewan Adat (LDA) karena dianggap tidak sesuai tata adat.


4. Apa yang dimaksud dengan polemik “Nyesel Gabung Republik”?
Unggahan di akun Instagram Gusti Purbaya yang bertuliskan “Nyesel gabung Republik” memicu kontroversi karena dianggap menyindir pemerintah. Namun, pihak keraton menjelaskan bahwa unggahan tersebut merupakan bentuk satire dan kritik sosial terhadap situasi nasional, bukan penolakan terhadap NKRI.


5. Bagaimana kasus kecelakaan yang melibatkan Gusti Purbaya pada 2023?
Pada Agustus 2023, Gusti Purbaya sempat terlibat kecelakaan di Simpang Gladak, Solo. Ia disebut menabrak pengendara motor, namun kuasa hukumnya menegaskan bahwa tidak ada unsur tabrak lari. Kasus diselesaikan secara damai setelah diketahui korban hanya mengalami luka ringan.


6. Mengapa penunjukan Gusti Purbaya sebagai putra mahkota dulu sempat dipermasalahkan?
Lembaga Dewan Adat menilai penobatan tersebut dilakukan tanpa musyawarah keluarga besar dan menyoroti pernikahan ayahnya, Pakubuwono XIII, dengan ibunda Purbaya yang dianggap tidak sesuai adat keraton. Namun, keputusan tetap dijalankan oleh pihak internal keraton.


7. Siapa yang menentang penobatan Gusti Purbaya menjadi raja?
Beberapa pihak dari keluarga besar dan Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta masih mempertanyakan keabsahan penobatan Purbaya. Mereka menilai proses suksesi seharusnya dilakukan melalui rembug keluarga dan mengikuti paugeran atau tata adat keraton.


8. Apa makna Jumenengan bagi Keraton Surakarta?
Jumenengan adalah prosesi penting dalam tradisi Jawa yang menandai kenaikan tahta seorang raja baru. Upacara ini menjadi simbol kesinambungan kekuasaan dan legitimasi kepemimpinan di lingkungan keraton.


9. Apa harapan publik terhadap kepemimpinan Pakubuwono XIV?
Banyak pihak berharap Gusti Purbaya sebagai raja muda dapat membawa regenerasi dan pembaruan bagi Keraton Surakarta, sekaligus menjaga warisan budaya Jawa di tengah tantangan zaman modern.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.