Seminar YPI Darul Ulum Ciawi Soroti Dampak HP terhadap Bullying dan Kesejahteraan Siswa

AKURAT.CO Perkembangan teknologi digital membawa beragam kemudahan dalam belajar, berkomunikasi, hingga mencari hiburan. Namun, penggunaan handphone (HP) yang berlebihan dan tidak terkontrol memunculkan persoalan baru, terutama meningkatnya kasus bullying digital di kalangan pelajar.
Isu tersebut menjadi fokus utama dalam seminar bertema “Bullying di Era Digital: Bagaimana Penggunaan HP yang Tidak Seimbang Mempengaruhi Perilaku dan Kesejahteraan Peserta Didik?” yang digelar di YPI Darul Ulum Ciawi, Senin (1/12/2025).
Seminar ini membuka ruang dialog bagi siswa, guru, dan orang tua untuk memahami bagaimana penggunaan HP tanpa pengawasan dapat memengaruhi pola pikir dan emosi peserta didik.
Para pemateri menekankan bahwa durasi penggunaan yang tidak seimbang membuat siswa rentan terpapar konten kekerasan, ujaran kebencian, hingga perilaku agresif yang dapat membentuk karakter negatif.
Baca Juga: Pramono Komitmen Perangi Bullying di Sekolah dan Tingkatkan Kesehatan Siswa di Jakarta
Salah satu pembahasan utama adalah peran HP sebagai medium terjadinya cyberbullying. Tidak seperti perundungan konvensional yang terbatas ruang dan waktu, cyberbullying berlangsung melalui media sosial, aplikasi pesan, hingga platform game online selama 24 jam.
Bentuknya beragam, mulai dari penghinaan, penyebaran foto tanpa izin, sindiran, hingga pengucilan dalam grup digital. Situasi ini menjadikan dunia maya yang seharusnya menjadi ruang aman, berubah menjadi sumber tekanan psikologis bagi banyak siswa.
Penggunaan HP yang tidak seimbang juga berdampak langsung pada kesehatan mental. Siswa yang terlalu sering bersentuhan dengan konten toksik atau interaksi negatif rentan mengalami stres, kecemasan, hingga depresi.
Kecanduan gawai turut mengganggu kualitas tidur, menurunkan fokus belajar, dan memicu perubahan emosi seperti mudah marah atau menarik diri dari lingkungan.
Selain memetakan persoalan, seminar di Darul Ulum Ciawi juga menawarkan langkah-langkah pencegahan. Para pemateri mengajak siswa untuk menerapkan pola penggunaan HP yang lebih teratur, seperti membatasi durasi pemakaian, menghindari gawai sebelum tidur, dan melatih kebiasaan digital yang sehat. Guru didorong memperkuat literasi digital di sekolah, terutama terkait etika berinternet dan pencegahan perundungan daring.
Orang tua juga diajak berperan aktif mendampingi anak dalam aktivitas digital. Komunikasi terbuka menjadi kunci untuk memahami pengalaman mereka di dunia maya. Sekolah pun dinilai perlu memiliki sistem pelaporan dan penanganan bullying yang jelas agar setiap siswa merasa aman.
Seminar ini menegaskan bahwa HP bukanlah musuh, tetapi alat yang perlu diarahkan penggunaannya. Dunia digital dapat menjadi ruang belajar yang aman dan produktif ketika digunakan dengan bijak.
Dengan kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan peserta didik, risiko bullying digital dapat ditekan, sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi perkembangan karakter generasi muda.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










