Mahasiswa Usai Dampingi Kunker Wapres Gibran: MBG Masih Dibutuhkan di Daerah 3T Tapi Harus Dievaluasi

AKURAT.CO Program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih sangat dibutuhkan masyarakat, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Namun, pelaksanaannya dirasa perlu dievaluasi secara menyeluruh, guna menyelesaikan berbagai persoalan yang ditemukan di lapangan.
Pandangan tersebut disampaikan sejumlah mahasiswa yang mengikuti kunjungan kerja Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke SMPN 1 Ndona dan SD Negeri Wolomoni, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur.
Rapid Benda Matin, mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), mengatakan, dirinya bersama mahasiswa lain melakukan observasi langsung terhadap pelaksanaan program pemerintah di sekolah yang dikunjungi Wapres Gibran.
"Kita diajak untuk riset, observasi di lapangan. Ketika kita melihat dan mengamati secara langsung bagaimana pelaksanaan program kerja pemerintah, khususnya dalam ini presiden dan wakil presiden, kita melihat secara nyata kemarin ke SMPN 1 Ndona, terus juga ke SDN Wolomoni di Kabupaten Ende," jelasnya, saat berbincang dengan Akurat.co di Kupang, Jumat (19/6/2026).
Menurut Rapid, dari hasil pengamatan tersebut, pelaksanaan MBG masih memiliki sejumlah catatan yang harus segera dibenahi.
Baca Juga: Tidak Ada MBG Selama Libur Sekolah
Selain permasalahan makanan, ia juga menyoroti kondisi fasilitas pendidikan yang masih membutuhkan perhatian pemerintah.
"Kita menganalisis bahwasanya terkait MBG ini memang perlu dievaluasi secara total dan menyeluruh. Kemarin kami lihat di lapangan makanannya tidak fresh karena kepagian, menu-menu makanan yang kurang bervariatif. Hal-hal seperti fasilitas sekolah, terus juga seperti lampu yang memang tidak ada di sekolah itu. Itu yang harus diperbaiki dan harus ditingkatkan," beber Rapid.
Kendati menemukan sejumlah kekurangan, Rapid menilai Program MBG tetap penting untuk dilanjutkan, terutama di daerah 3T yang masih menghadapi persoalan gizi dan stunting. Karena itu, pemerintah perlu melakukan pemetaan agar pelaksanaan Program MBG lebih tepat sasaran.
"Menurut saya pribadi, untuk Program Makan Bergizi Gratis ini, untuk di daerah 3T itu harus diprioritaskan. Program ini harus diupayakan, didahulukan dan diprioritaskan di daerah-daerah 3T untuk menjamin kesehatan dan keberlangsungan anak-anak," ujarnya.
Rapid menekankan bahwa perhatian pemerintah tidak boleh hanya terfokus pada MBG, namun juga peningkatan sarana pendidikan dan kesejahteraan guru.
Baca Juga: Muhammadiyah Dukung Keberlanjutan Program MBG
"Selain ke MBG, kita juga harus fokus ke bidang-bidang lainnya seperti sarana dan prasarana sekolah. Juga peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru tentunya," katanya.
Rapid menegaskan bahwa evaluasi Program MBG harus dilakukan secara menyeluruh. Termasuk memastikan tidak ada penyimpangan anggaran dalam pelaksanaannya.
"Jangan sampai ada satu rupiah pun, karena kita dari rakyat, untuk rakyat, untuk pemerintah sebagai pengelola. Kita harus memastikan dan mengawal tidak ada korupsi di lapangannya, tidak ada hal yang memang menjadi kekurangan di lapangannya," jelasnya.
Senada disampaikan mahasiswa Universitas Sanata Dharma, Kaletus Sakaro, yang ikut dalam kunjungan kerja Wapres Gibran di Provinsi NTT.
"Berdasarkan pengalaman saya sendiri bahwa kemarin saya turun secara langsung ke lapangan, bagaimana kondisi dan situasi yang sudah terjadi. Kemarin kami banyak kegiatan terkait dengan MBG dan fasilitas sekolah, serta pengecekan di pasar," ujarnya.
Baca Juga: Wapres Gibran: Program MBG di Daerah 3T Harus Gandeng UMKM hingga Kantin Sekolah
Kaletus mengungkapkan masih terdapat kekurangan fasilitas di sejumlah sekolah. Namun, ia menilai bahwa Program MBG tetap memiliki peran penting dalam mendukung kesehatan siswa.
"MBG itu penting untuk menjaga kesehatan. Karena kalau kita lihat dari MBG itu kan kalau manusia mengonsumsi makanan yang bergizi pasti bisa sehat dan aktivitas belajar-mengajar itu bisa lebih bagus," ujarnya.
Menurut Kaletus, kebutuhan terhadap Program MBG di daerah 3T masih sangat tinggi karena keterbatasan akses pangan bergizi.
"MBG itu kan bagaimana di daerah 3T itu kekurangan makanan, jadi pasti sangat membutuhkan makanan bergizi. Anak-anaknya juga mengonsumsi makanan yang sehat. Jadi, dengan Program MBG itu bisa baik untuk mendukung," ujarnya.
Meski demikian, ia sepakat bahwa pelaksanaan program perlu diperbaiki. Terutama bagi anak-anak di wilayah 3T.
Baca Juga: Gibran Minta Izin Dapur MBG di Wilayah 3T Dipercepat: Daerah Tertinggal Harus Jadi Prioritas
Evaluasi menyeluruh terhadap kualitas makanan, sistem distribusi, serta dukungan fasilitas pendidikan dinilai menjadi kunci, agar tujuan Program MBG dapat tercapai secara optimal.
"Mungkin sistemnya harus diperbaiki untuk ke depannya, untuk makanannya, proses dan lain-lainnya," kata Kaletus.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Link Nonton Piala Dunia 2026 Resmi dan Legal, Kualitas HD Bukan di Score808
- 2Di Balik Penolakan Keras Singapura ke Ekspor Satu Pintu DSI: Risiko Kehilangan Ratusan Miliar Dolar Arus Ekspor dan Devisa
- 3Prediksi Skor Uzbekistan vs Kolombia di Piala Dunia 2026: Debutan Asia Hadapi Ujian Berat dari Los Cafeteros
- 4Prediksi Skor Swiss vs Bosnia dan Herzegovina: Nati Diunggulkan, Tapi Jangan Remehkan Ancaman Tim Balkan
- 5Prediksi Skor Ghana vs Panama di Piala Dunia 2026: Duel Seimbang, Akankah Black Stars Bangkit?
- 6Prediksi Skor Belgia vs Mesir Lengkap dengan Statistik Head to Head dan Susunan Pemain
- 7Prediksi Skor Austria vs Yordania di Piala Dunia 2026: Das Team Diunggulkan, Mampukah Debutan Asia Membuat Kejutan?
- 8Prediksi Skor Turki vs Paraguay: Saatnya Crescent-Stars Bangkit atau La Albirroja Ciptakan Kejutan?
- 9Survei: PSI Cerminkan Gaya Kepemimpinan Jokowi
- 10Citra Jokowi Menguntungkan, PSI Perlu Konversi Dukungan Publik









