Dihantui Ketakutan Bencana Baru, Ribuan Warga Palestina Tinggalkan Gaza

AKURAT.CO Ribuan warga Palestina berjalan dengan susah payah melewati tank-tank Israel dan mayat-mayat yang membusuk di sepanjang jalan keluar dari Kota Gaza pada Kamis (9/11/2023).
Mereka mengatakan takut akan terjadinya Nakba baru atau bencana perampasan massal yang terjadi sejak Israel didirikan pada tahun 1948.
Baca Juga: Turki Boikot Coca-Cola Dan Nestle Dari Daftar Menu Restoran Karena Diduga Mendukung Israel
Ribuan orang tersebut bergerak ke selatan di sepanjang jalan Salah al-Din, satu-satunya jalan keluar bagi warga sipil yang melarikan diri dari pengepungan yang semakin meningkat oleh tank-tank Israel.
"Apa yang terlihat di belakang kami? Kehancuran dan kematian. Kami pergi dalam ketakutan," kata seorang wanita yang menyebut namanya Um Hassan. Ia baru saja menyeberang ke Gaza selatan dari utara wilayah yang padat penduduknya.
"Kami adalah orang-orang Palestina miskin yang rumahnya dihancurkan," katanya dengan menyebut situasi yang terjadi sebagai Nakba kedua.
Mereka juga mengatakan telah banyak melihat mayat-mayat di pinggir jalan, membuat orang dewasa dan anak-anak ketakutan.
"Saat berjalan, kami melihat mayat-mayat yang sudah membusuk. Orang-orang (yang bepergian dengan) mobil-mobil sipil, warga sipil seperti kami, bukan kendaraan militer atau anggota Hamas," kata Abu Issa.
Sebagian besar warga di Jalur Gaza melarikan diri dengan berjalan kaki, membawa apa yang mereka bisa. Ketika mereka melewati tank-tank Israel di garis depan, mereka mengangkat tangan untuk menunjukkan kartu identitas mereka.
Di luar, di selatan Gaza, hanya ada beberapa kendaraan yang masih memiliki bahan bakar. Banyak orang harus terus berjalan kaki sampai mereka dapat menemukan tempat baru untuk berlindung.
Dikutip dari Reuters, perang tahun 1948 terjadi ketika warga Palestina melarikan diri atau diusir dari kampung halaman dan membekas dalam ingatan mereka.
Banyak yang menyuarakan kekhawatiran bahwa jika keluar dari rumah mereka sekarang, makan tidak akan pernah diizinkan untuk kembali, seperti nenek moyang mereka.
Baca Juga: Viral Video Iron Dome Israel Eror Dan Balik Ke Tel Aviv, Ulah Hacker Indonesia?
Tujuan militer Israel adalah untuk menghancurkan Hamas, yang katanya telah menewaskan 1.400 orang dan menculik 240 orang lainnya dalam serangan 7 Oktober lalu.
Sementara, otoritas kesehatan di Gaza mengatakan bahwa pemboman Israel telah menewaskan lebih dari 10.000 orang sejak saat itu.
Pasukan Israel selama berminggu-minggu telah mengatakan kepada warga Palestina untuk meninggalkan Gaza Utara menuju Gaza Selatan, yang juga dibombardir, dan mengatakan bahwa mereka akan diizinkan kembali ke rumah setelah konflik berakhir.
Sejak Rabu minggu ini, ketika pertempuran semakin meluas ke Kota Gaza, sejumlah besar orang mulai bergerak ke selatan.
Khaled Abu Issa, dari Kamp Pengungsian Pantai yang berbatasan dengan Kota Gaza mengatakan bahwa ia pergi setelah lingkungannya digempur artileri.
Baca Juga: Apa Yang Terjadi Pada Warga Palestina Di Luar Gaza Setelah Satu Bulan Lebih Dibombardir Israel?
"Itu adalah kepergian yang sangat berat. Saya sedang duduk dengan aman di rumah dan Israel datang dan menggusur saya lagi," katanya.
Sebagian besar warga Palestina di Gaza terdaftar sebagai pengungsi setelah nenek moyang mereka meninggalkan rumah mereka di perbatasan Israel pada tahun 1948.
Sejak 7 Oktober, lebih dari separuh penduduk daerah kantong tersebut telah mengungsi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









