Kontroversi Deportasi Era Trump: Kilmar Abrego Akan Dikirim ke Eswatini, Bukan Negara Asalnya

AKURAT.CO Pemerintahan Donald Trump kembali jadi sorotan setelah berencana mendeportasi Kilmar Abrego, seorang migran asal El Salvador yang kasusnya telah lama menuai kontroversi di Amerika Serikat. Abrego disebut-sebut akan dipulangkan ke Eswatini, negara kecil di Afrika bagian selatan yang sebelumnya dikenal sebagai Swaziland.
Dari El Salvador ke Eswatini
Rencana deportasi ini disampaikan pejabat Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) AS dalam surel kepada pengacara Abrego. Awalnya, Uganda menjadi negara tujuan, tetapi kemudian diganti menjadi Eswatini setelah Abrego menyatakan takut mengalami penganiayaan jika dipulangkan ke Uganda.
Pejabat DHS menyebut klaim Abrego sulit dipercaya karena ia sebelumnya juga mengaku takut dianiaya di lebih dari 20 negara. Namun, pemerintah akhirnya menetapkan Eswatini sebagai tujuan deportasi barunya.
Yang menarik, Abrego sama sekali tidak memiliki hubungan dengan Eswatini. Ia hanya seorang pekerja logam asal El Salvador yang telah lama tinggal di Maryland bersama istri dan anak-anaknya, sebagian besar warga negara AS.
Tuduhan Geng dan Kasus Hukum
Abrego, 30 tahun, pertama kali ditahan pada Maret lalu dengan tuduhan terlibat geng MS-13, organisasi yang dianggap sebagai kelompok teroris oleh pemerintah AS. Namun tuduhan itu hingga kini belum terbukti di pengadilan.
Pada bulan Juni, ia dipulangkan kembali ke AS untuk menghadapi dakwaan kriminal terkait penyelundupan migran. Abrego membantah tuduhan itu dan menyebut pemerintah tengah melakukan penuntutan bermotif dendam.
DHS dalam dokumen pengadilan menegaskan bahwa Abrego tidak berhak mendapat suaka politik. Permohonan suaka pertamanya ditolak karena dianggap terlambat diajukan. Namun, ia tetap sempat mendapat perlindungan dari deportasi ke El Salvador karena alasan keselamatan dari ancaman geng.
Ditangkap di AS, Hidup Bersama Keluarga Amerika
Sejak meninggalkan El Salvador pada 2011, Abrego membangun hidup baru di Maryland. Ia bekerja sebagai tukang logam dan tinggal bersama keluarganya. Namun hidupnya berubah drastis setelah ditangkap otoritas imigrasi AS dan menghadapi ancaman deportasi berulang kali.
Pengacaranya menuding pemerintah mencoba menekan Abrego agar mengaku bersalah. Bahkan, menurut dokumen pengadilan, pemerintah sempat menawarkan deportasi ke Kosta Rika jika Abrego mau mengaku bersalah, dan Uganda jika ia menolak. Kini, pilihannya justru jatuh ke Eswatini.
Deportasi Kontroversial
Eswatini bukanlah negara yang punya keterkaitan dengan Abrego, namun pemerintahan Trump tetap mendorong deportasi ini. Pada Juli lalu, AS sempat mengirim penerbangan deportasi ke Eswatini dengan penumpang yang disebut sebagai “individu berbahaya” oleh DHS.
Kasus Kilmar Abrego pun menambah daftar panjang kontroversi kebijakan imigrasi era Trump. Bagi banyak pihak, kisah ini mencerminkan kerasnya aturan deportasi AS, di mana seorang migran bisa dipulangkan ke negara yang sama sekali tidak punya hubungan dengan dirinya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 3Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








