China Umumkan Cagar Alam di Dangkalan Scarborough, Pakar Sebut Bermuatan Politik

AKURAT.CO Pemerintah Tiongkok baru saja mengumumkan pembentukan cagar alam di sekitar Pulau Huangyan atau Dangkalan Scarborough, wilayah yang menjadi sengketa dengan Filipina dan Taiwan. Deklarasi ini dinilai banyak pengamat lebih bermuatan geopolitik ketimbang upaya melindungi lingkungan.
Latar Belakang Dangkalan Scarborough
Dangkalan Scarborough adalah rangkaian terumbu karang berbentuk segitiga dengan laguna kaya ikan di tengahnya. Meski diklaim Filipina dan Taiwan, Tiongkok telah menguasai wilayah ini sejak konflik dengan Filipina pada 2012. Kapal patroli Filipina masih kerap berusaha mendekat untuk menegaskan klaimnya, memicu ketegangan yang terus meningkat.
Pada Agustus lalu, ketegangan memuncak ketika dua kapal Tiongkok bertabrakan saat mencegat kapal Filipina di area tersebut. Sebelum deklarasi cagar alam, Beijing sudah menetapkan perairan sekitar Scarborough sebagai wilayah teritorialnya dan mengeluarkan koordinat resmi yang memperkuat klaim tersebut.
Motif Geopolitik vs Konservasi
Badan Kehutanan dan Padang Rumput Nasional Tiongkok menyebut cagar alam ini untuk melindungi ekosistem terumbu karang. Namun, pakar Laut Cina Selatan Greg Poling menilai langkah ini lebih sebagai “pembenaran administratif” atas penguasaan militer yang sudah terjadi.
Ray Powell, direktur SeaLight dari Universitas Stanford, menyoroti kerusakan parah terumbu karang akibat praktik pemanenan kerang raksasa oleh kapal Tiongkok, meski aktivitas itu dilarang sejak 2016. “Tiongkok berusaha memperkuat klaim sambil mengalihkan perhatian dari kerusakan yang ditimbulkannya sendiri,” ujarnya.
Bec Strating, pakar hubungan internasional dari La Trobe University, menyebut deklarasi ini sebagai “persenjataan isu lingkungan” untuk kepentingan teritorial. Sementara James Borton dari Johns Hopkins menilai konservasi laut kerap dijadikan alat politik, meski ilmuwan kelautan Tiongkok sendiri berupaya menjaga ekosistem.
Kekhawatiran Pembangunan Militer
Meski Tiongkok pernah membangun pulau buatan dan landasan pacu di Kepulauan Spratly sejak 1995, para analis tidak memperkirakan Beijing akan mengulang langkah serupa di Scarborough. “Scarborough tidak memerlukan landasan pacu atau pelabuhan laut dalam lainnya,” kata Poling.
Pengalaman masa lalu menunjukkan Tiongkok kerap memulai dengan alasan kemanusiaan atau ekologi, seperti membangun tempat perlindungan nelayan di Terumbu Mischief, sebelum akhirnya menambah fasilitas militer. Namun untuk Scarborough, para pengamat menilai lokasi yang relatif dekat dengan daratan Tiongkok membuat pembangunan militer besar tidak terlalu strategis.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK






