Trump Minta DOJ Selidiki Hubungan Bill Clinton dengan Pelaku Kejahatan Seksual Jeffrey Epstein

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta Departemen Kehakiman (DOJ) menyelidiki dugaan hubungan antara mantan Presiden Bill Clinton dan mendiang pelaku kejahatan seksual, Jeffrey Epstein. Permintaan ini disampaikan di tengah meningkatnya sorotan terhadap hubungan Trump sendiri dengan Epstein, setelah serangkaian email baru dipublikasikan.
Pada Jumat, Trump menuding publikasi email tersebut sebagai upaya pengalihan isu. Ia membandingkannya dengan penyelidikan dugaan campur tangan Rusia dalam pemilu 2016. Melalui media sosial, Trump menyebut rilis email itu sebagai “hoaks” dan mengarahkan tudingan kepada Partai Demokrat.
“Semua ini hanya penipuan ‘Russia, Russia, Russia’ yang lain, dengan semua panah mengarah ke Demokrat,” tulisnya.
Trump kemudian menegaskan bahwa hubungan Epstein lebih erat dengan Partai Demokrat maupun lembaga keuangan tertentu. “Epstein adalah Demokrat, dan dia masalah Demokrat, bukan masalah Republik!” katanya.
Trump Minta Investigasi Terhadap Clinton hingga JPMorgan
Dalam unggahan berikutnya, Trump mengatakan akan meminta Jaksa Agung Pam Bondi untuk menyelidiki Clinton, mantan Menteri Keuangan Larry Summers, investor Reid Hoffman, serta bank JPMorgan Chase.
Bondi merespons cepat. Melalui X, ia menyatakan telah menugaskan Jaksa Federal Jay Clayton untuk memimpin penyelidikan tersebut. “Departemen akan menangani ini dengan urgensi dan integritas untuk memberikan jawaban bagi rakyat Amerika,” ujarnya.
Email Baru Munculkan Pertanyaan Baru
Skandal Epstein kembali membayangi pemerintahan Trump, yang tengah menghadapi tekanan bipartisan untuk membuka seluruh dokumen terkait kasus tersebut dan memberi klarifikasi soal keterlibatannya.
Epstein, seorang financier yang bergaul dengan tokoh berpengaruh termasuk Trump, Clinton, dan Andrew Mountbatten-Windsor, telah lama menjadi pusat dugaan bahwa ia dilindungi dari akuntabilitas. Ratusan perempuan menuduhnya melakukan pelecehan seksual dan perdagangan manusia. Ia tewas bunuh diri pada 2019 saat menunggu persidangan kasus federal.
Sorotan terhadap Trump mencuat kembali pada Rabu, bertepatan dengan berakhirnya penutupan pemerintahan terlama dalam sejarah AS. Komite Pengawasan DPR yang dikuasai Demokrat merilis tiga email yang menampilkan percakapan Epstein, rekannya Ghislaine Maxwell, dan penulis Michael Wolff—yang membahas Trump. Email tersebut terlihat menyiratkan bahwa Trump mengetahui hubungan seksual Epstein dengan para korban.
Beberapa jam kemudian, pimpinan Partai Republik di komite yang sama turut merilis 20.000 email dari berkas kasus Epstein, termasuk pesan dari Epstein pada 2017 yang menyebut Trump sebagai “orang paling buruk yang pernah saya temui”.
Gedung Putih membantah seluruh insinuasi tersebut. Juru bicara Karoline Leavitt menyebut rilis email itu sebagai kampanye “fitnah” dari Demokrat.
Kisruh Berkepanjangan di Pemerintahan Trump
Trump mengeklaim publikasi email itu bertujuan mengalihkan perhatian dari isu penutupan pemerintahan, yang dinilainya sebagai kegagalan politik Demokrat. Ia juga mengecam anggota Partai Republik yang ikut menuntut keterbukaan penuh berkas Epstein.
Kontroversi terkait Epstein bukan hal baru bagi pemerintahan Trump. Pada Februari, Jaksa Agung Bondi sempat mengklaim bahwa ia memiliki “daftar klien” Epstein, pernyataan yang kemudian ia tarik kembali. DOJ dan FBI pada Juli lalu memastikan tidak ada “daftar klien” seperti yang beredar dalam teori konspirasi populer.
Laporan media juga menyebut Bondi telah memberi tahu Trump bahwa namanya tercantum dalam berkas lengkap kasus Epstein yang belum dipublikasikan. Trump sendiri sebelumnya mengakui pernah mengenal Epstein namun mengklaim ia memutuskannya setelah Epstein mencoba “merekrut” pegawai muda di resor Mar-a-Lago.
Clinton dan Lembaga Keuangan Ikut Jadi Sorotan
Clinton juga menghadapi pertanyaan terkait hubungannya dengan Epstein, termasuk beberapa kali kunjungan Epstein ke Gedung Putih serta penerbangan bersama di jet milik Epstein. Namun Clinton telah membantah mengetahui kejahatan Epstein.
Sejumlah institusi keuangan pun terseret. Pada 2023, Deutsche Bank menyetujui pembayaran US$75 juta kepada korban Epstein, sementara JPMorgan Chase mencapai kesepakatan senilai US$290 juta setelah dituduh ikut melancarkan aktivitas ilegal Epstein.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








