Akurat
Pemprov Sumsel

Perburuk Ketegangan Bilateral, Jepang Sita Kapal Ikan China dan Tangkap Nakhoda

Fitra Iskandar | 13 Februari 2026, 17:34 WIB
Perburuk Ketegangan Bilateral, Jepang Sita Kapal Ikan China dan Tangkap Nakhoda

AKURAT.CO Otoritas Jepang menyita sebuah kapal ikan China dan menangkap nakhodanya di perairan selatan Jepang, Jumat waktu setempat. Insiden penangkapan kapal ikan China oleh Jepang ini dinilai berpotensi memperburuk hubungan Jepang–China yang sudah tegang dalam beberapa bulan terakhir.

Menurut Badan Perikanan Jepang, kapal tersebut diperintahkan berhenti untuk menjalani pemeriksaan pada Kamis, namun tidak mematuhi perintah dan justru melarikan diri. “Karena tidak patuh dan mencoba kabur, nakhoda kapal langsung ditangkap pada hari yang sama,” demikian pernyataan resmi lembaga tersebut.

Peristiwa penangkapan kapal ikan China oleh Jepang itu terjadi di dalam zona ekonomi eksklusif (ZEE) Jepang, sekitar 166 kilometer arah selatan–barat daya Pulau Meshima di Kepulauan Goto. Otoritas menegaskan lokasi tersebut bukan wilayah sengketa. Nakhoda yang ditangkap diidentifikasi sebagai warga negara China bernama Zheng Nianli (47). Status 10 awak kapal lain di kapal bernama Qiong Dong Yu masih belum dijelaskan.

Pemerintah China langsung merespons dan mendesak Jepang untuk melindungi hak serta keselamatan awak kapal. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian mengatakan Jepang harus menghormati perjanjian perikanan bilateral dan menegakkan hukum secara adil. “Diharapkan Jepang secara ketat menghormati perjanjian perikanan China–Jepang serta melindungi hak dan kepentingan sah awak kapal China,” ujarnya dalam konferensi pers.

Ini merupakan penyitaan pertama kapal ikan China oleh Jepang sejak 2022. Juru bicara utama pemerintah Jepang Minoru Kihara menegaskan aparat akan terus bertindak tegas terhadap praktik penangkapan ikan ilegal oleh kapal asing. “Untuk mencegah operasi penangkapan ikan ilegal oleh kapal asing, kami akan terus melakukan penegakan hukum secara tegas,” katanya.

Insiden penangkapan kapal ikan China oleh Jepang terjadi di tengah ketegangan geopolitik kawasan. Tiga bulan lalu, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyatakan Jepang dapat melakukan intervensi militer jika Beijing menggunakan kekuatan untuk menguasai Taiwan. Di bawah kepemimpinannya, Jepang disebut akan memperkuat pertahanan dan melindungi wilayahnya, termasuk dengan dukungan sekitar 60.000 personel militer Amerika Serikat yang ditempatkan di Jepang.

Hubungan Jepang–China juga lama diwarnai sengketa wilayah, termasuk di sekitar Kepulauan Senkaku—yang disebut Diaoyu oleh China. Penangkapan nakhoda kapal ikan China di wilayah itu pada 2010 sempat memicu krisis diplomatik besar antara kedua negara.

Ketegangan juga meningkat terkait isu Taiwan. Presiden Taiwan Lai Ching-te pekan ini memperingatkan bahwa jika China mengambil alih Taiwan dengan paksa, negara lain di kawasan Indo-Pasifik seperti Jepang dan Filipina bisa menjadi target berikutnya. Setelah pernyataan Takaichi soal Taiwan, Beijing memanggil duta besar Jepang, mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warganya, serta menggelar latihan udara gabungan dengan Rusia.

Selain itu, China juga memperketat kontrol ekspor ke Jepang untuk sejumlah barang berpotensi militer, termasuk mineral tanah jarang, sehingga memicu kekhawatiran gangguan rantai pasok. Situasi ini membuat penangkapan kapal ikan China oleh Jepang dipandang bukan sekadar kasus perikanan, tetapi juga memiliki dimensi politik dan keamanan kawasan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.