Belgia akan Bergabung dalam Misi Selat Hormuz, dengan Syarat Ada Mandat Internasional dan Gencatan Senjata

AKURAT.CO Belgia menyatakan kesiapannya untuk berpartisipasi dalam upaya pengamanan Selat Hormuz, namun dengan syarat adanya gencatan senjata yang berkelanjutan serta pelaksanaan misi dalam kerangka internasional yang jelas.
Laporan kantor berita Belga, Jumat, menyebut keputusan tersebut diambil dalam rapat inti kabinet federal setelah adanya permintaan agar Belgia turut berkontribusi dalam menjamin keamanan pelayaran di jalur strategis tersebut.
Permintaan itu muncul di tengah ancaman Iran terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, yang menyebabkan lalu lintas maritim di kawasan tersebut hampir terhenti.
Sejumlah negara sebelumnya telah menyatakan kesiapan untuk terlibat dalam misi tersebut, di antaranya Jerman, Prancis, Italia, Jepang, Belanda, dan Inggris.
Pemerintah Belgia menegaskan partisipasinya akan mengikuti pola keterlibatan dalam Operasi Aspides dan Atalanta, yakni misi Uni Eropa yang bertujuan melindungi pelayaran dari serangan kelompok Houthi di Laut Merah serta memberantas pembajakan di lepas pantai Somalia dan Samudra Hindia.
Meski demikian, kabinet menekankan keputusan final akan diambil setelah seluruh faktor relevan dipertimbangkan secara menyeluruh.
Baca Juga: Menhan Italia Tegaskan Rencana Pengamanan Selat Hormuz Bukan Misi Perang
Selain permintaan multinasional, Belgia juga menerima permohonan dukungan militer dari Oman, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi. Pemerintah menyatakan akan menindaklanjuti permintaan tersebut melalui jalur diplomatik Kementerian Luar Negeri, bukan melalui Kementerian Pertahanan.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat sejak Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, yang dilaporkan menewaskan lebih dari 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan drone dan rudal di berbagai wilayah serta membatasi sebagian besar pelayaran melalui Selat Hormuz. Jalur ini merupakan rute vital pengiriman energi dunia yang biasanya dilalui sekitar 20 juta barel minyak per hari atau sekitar 20 persen perdagangan gas alam cair global.
Sumber: AA
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








