Biaya Perang Membengkak, Israel Disebut Gunakan Amunisi Lama untuk Lawan Iran

AKURAT.CO Militer Israel dilaporkan mulai menggunakan amunisi lama dalam konflik melawan Iran, di tengah meningkatnya biaya perang sejak pecah pada 28 Februari lalu.
Lembaga penyiaran publik Israel, KAN, pada Minggu (22/3/2026) melaporkan bahwa militer Israel beralih menggunakan amunisi non-presisi yang telah disimpan sekitar 50 tahun. Langkah tersebut disebut sebagai bagian dari strategi efisiensi anggaran dan optimalisasi gudang persenjataan.
Menurut laporan KAN, kebijakan itu diambil untuk menghemat pengeluaran perang dan mengosongkan ruang penyimpanan senjata. Hingga kini, Kementerian Pertahanan Israel belum memberikan pernyataan resmi terkait laporan tersebut.
Baca Juga: Prabowo Bantah Indonesia Janjikan US$1 Miliar untuk Board of Peace
Laporan ini muncul di tengah kekhawatiran publik Israel terhadap dampak finansial dan material akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Sebelumnya, surat kabar Haaretz melaporkan bahwa biaya yang dikeluarkan militer Israel dalam 20 hari pertama perang mencapai sekitar US$6,4 miliar. Angka tersebut memicu perdebatan mengenai ketahanan fiskal negara dalam menghadapi perang berkepanjangan.
Tak lama setelah laporan itu terbit, pemerintah Israel mengumumkan alokasi tambahan sekitar US$8,225 miliar untuk pembelian perlengkapan keamanan mendesak. Langkah ini diambil di tengah laporan bahwa persediaan rudal pencegat Israel mulai menipis.
Secara terpisah, Angkatan Darat Israel dilaporkan tengah bersiap mengajukan tambahan anggaran kepada parlemen di luar total anggaran perang yang disebut mencapai US$12,5 miliar.
Konflik yang pecah sejak akhir Februari tersebut terus meluas dan berdampak pada sejumlah negara di kawasan Arab. Sasaran serangan dilaporkan tidak hanya mencakup pangkalan militer, tetapi juga fasilitas energi, termasuk milik negara-negara Teluk.
Baca Juga: Iran Balas Ancaman Trump, Siap Targetkan Infrastruktur AS di Teluk
Sejumlah pengamat menilai Iran menerapkan strategi atrisi, yakni menguras sumber daya ekonomi dan psikologis lawan melalui konflik berkepanjangan tanpa terlibat langsung dalam perang konvensional terbuka. Strategi ini disebut melibatkan kelompok proksi serta taktik asimetris.
Hingga kini, situasi keamanan di kawasan masih dinamis, sementara dampak ekonomi global, khususnya di sektor energi, terus menjadi perhatian pasar internasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








