Akurat
Pemprov Sumsel

Biaya Perang Membengkak, Israel Disebut Gunakan Amunisi Lama untuk Lawan Iran

Lufaefi | 23 Maret 2026, 17:36 WIB
Biaya Perang Membengkak, Israel Disebut Gunakan Amunisi Lama untuk Lawan Iran
Ilustrasi Perang Iran vs AS Israel (istimewa)

AKURAT.CO Militer Israel dilaporkan mulai menggunakan amunisi lama dalam konflik melawan Iran, di tengah meningkatnya biaya perang sejak pecah pada 28 Februari lalu.

Lembaga penyiaran publik Israel, KAN, pada Minggu (22/3/2026) melaporkan bahwa militer Israel beralih menggunakan amunisi non-presisi yang telah disimpan sekitar 50 tahun. Langkah tersebut disebut sebagai bagian dari strategi efisiensi anggaran dan optimalisasi gudang persenjataan.

Menurut laporan KAN, kebijakan itu diambil untuk menghemat pengeluaran perang dan mengosongkan ruang penyimpanan senjata. Hingga kini, Kementerian Pertahanan Israel belum memberikan pernyataan resmi terkait laporan tersebut.

Baca Juga: Prabowo Bantah Indonesia Janjikan US$1 Miliar untuk Board of Peace

Laporan ini muncul di tengah kekhawatiran publik Israel terhadap dampak finansial dan material akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.

Sebelumnya, surat kabar Haaretz melaporkan bahwa biaya yang dikeluarkan militer Israel dalam 20 hari pertama perang mencapai sekitar US$6,4 miliar. Angka tersebut memicu perdebatan mengenai ketahanan fiskal negara dalam menghadapi perang berkepanjangan.

Tak lama setelah laporan itu terbit, pemerintah Israel mengumumkan alokasi tambahan sekitar US$8,225 miliar untuk pembelian perlengkapan keamanan mendesak. Langkah ini diambil di tengah laporan bahwa persediaan rudal pencegat Israel mulai menipis.

Secara terpisah, Angkatan Darat Israel dilaporkan tengah bersiap mengajukan tambahan anggaran kepada parlemen di luar total anggaran perang yang disebut mencapai US$12,5 miliar.

Konflik yang pecah sejak akhir Februari tersebut terus meluas dan berdampak pada sejumlah negara di kawasan Arab. Sasaran serangan dilaporkan tidak hanya mencakup pangkalan militer, tetapi juga fasilitas energi, termasuk milik negara-negara Teluk.

Baca Juga: Iran Balas Ancaman Trump, Siap Targetkan Infrastruktur AS di Teluk

Sejumlah pengamat menilai Iran menerapkan strategi atrisi, yakni menguras sumber daya ekonomi dan psikologis lawan melalui konflik berkepanjangan tanpa terlibat langsung dalam perang konvensional terbuka. Strategi ini disebut melibatkan kelompok proksi serta taktik asimetris.

Hingga kini, situasi keamanan di kawasan masih dinamis, sementara dampak ekonomi global, khususnya di sektor energi, terus menjadi perhatian pasar internasional.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

L
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi