Trump Minta Kompensasi Rp84.781 Triliun Bagi Negara yang Ingin Gabung Perang Lawan Iran
AKURAT.CO Presiden Donald Trump dilaporkan meminta negara-negara Arab di kawasan Teluk untuk membayar kompensasi dalam jumlah besar jika menginginkan perang melawan Iran terus berlanjut.
Informasi tersebut disampaikan analis Oman, Salem Al-Jahouri, dalam wawancara dengan BBC Arabic, Minggu (22/3/2026). Ia menyebut adanya tekanan dari Washington terhadap negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC).
“Itu sepenuhnya akurat. Negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk berada di bawah tekanan yang signifikan, baik dalam hal militer maupun ekonomi,” ujar Jahouri.
Baca Juga: Ubah Strategi Nasional dalam Perang, Iran Diprediksi Lumpuhkan AS–Israel
Menurutnya, terdapat laporan yang menyebut Gedung Putih meminta kontribusi dana dalam jumlah sangat besar.
“Sekarang kita melihat kebocoran yang menunjukkan bahwa presiden AS meminta negara-negara GCC untuk menyerahkan sekitar USD5 triliun (Rp84.781 triliun) jika mereka ingin perang ini berlanjut,” katanya.
Ia menambahkan, jika negara-negara tersebut menginginkan konflik dihentikan, maka mereka juga diminta membayar kompensasi lebih kecil.
“Dan jika mereka ingin menghentikannya, mereka harus membayar USD2,5 triliun (Rp42.390 triliun) kepada Amerika sebagai kompensasi atas apa yang telah dilakukan sejauh ini,” lanjutnya.
Laporan itu muncul di tengah dorongan Amerika Serikat agar sekutu-sekutunya di Teluk mengambil peran lebih besar dalam konflik yang melibatkan Iran. Meski demikian, Dewan Kerja Sama Teluk sebelumnya menyatakan penolakan terhadap perang yang dimulai pada 28 Februari dan membantah memberikan izin penggunaan wilayah mereka untuk operasi militer.
Di sisi lain, laporan menyebut pasukan Amerika Serikat tetap meluncurkan roket dari kawasan Teluk serta menggunakan wilayah udara negara-negara tersebut dalam misi pengeboman.
Sebagai respons, Iran dilaporkan menyerang sejumlah target yang terkait dengan kepentingan Amerika di kawasan Teluk, termasuk fasilitas energi. Iran juga memberlakukan pembatasan transit di Selat Hormuz, yang berdampak pada distribusi minyak dan ekonomi negara-negara Teluk.
Baca Juga: Pengamat: Negara Arab Tak Punya Nyali Deklarasikan Perang terhadap Iran
Sejumlah laporan media internasional, termasuk Reuters, menyebut beberapa negara Teluk kini tengah meninjau ulang kepemilikan dana kekayaan negara mereka di luar negeri, termasuk komitmen investasi ke Amerika Serikat.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari Gedung Putih terkait besaran kompensasi yang disebutkan dalam laporan tersebut. Situasi kawasan masih berkembang dengan ketegangan yang terus meningkat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










