Akurat
Pemprov Sumsel

Trump Ancam Serang Infrastruktur Iran Jika Selat Hormuz Tidak Dibuka Kembali

Fitra Iskandar | 6 April 2026, 08:53 WIB
Trump Ancam Serang Infrastruktur Iran Jika Selat Hormuz Tidak Dibuka Kembali
Trump Mengancam Akan Menyerang Infrastruktur Iran Jika Selat Hormuz Tidak Dibuka Kembali. Foto: Ist

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Minggu (5/4/2026) waktu setempat, meningkatkan ancamannya terhadap Iran dengan menyatakan akan menyerang infrastruktur vital negara itu jika Teheran tidak segera membuka kembali Selat Hormuz sesuai tenggat yang ditetapkan hingga Senin (6/4/2026).

Dalam unggahan di media sosial, Trump menegaskan bahwa Selasa akan menjadi “hari pembangkit listrik dan jembatan” di Iran, merujuk pada potensi serangan terhadap fasilitas penting negara tersebut. Ia juga mengungkapkan operasi penyelamatan seorang anggota militer AS yang terluka parah setelah jet tempur F-15E Strike Eagle ditembak jatuh Iran pada Jumat.

Trump menyebut operasi penyelamatan itu berisiko tinggi dan jarang dilakukan. Satu awak lainnya disebut telah lebih dulu diselamatkan setelah tujuh jam berada di wilayah Iran.

Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran diketahui dimulai sejak 28 Februari. Perang tersebut telah menewaskan ribuan orang, mengguncang pasar global, mengganggu jalur pelayaran utama, serta memicu lonjakan harga bahan bakar. Kedua pihak juga dilaporkan saling menyerang target sipil, memicu kekhawatiran akan potensi kejahatan perang.

Sementara itu, harga minyak mentah dunia melonjak tajam pada awal perdagangan Minggu setelah pernyataan terbaru Trump. Harga minyak Brent naik lebih dari 2 persen menjadi 111,25 dolar AS per barel, sedangkan minyak mentah AS meningkat hampir 3 persen ke level 114,54 dolar AS per barel. Kenaikan ini mendekati level tertinggi sejak pertengahan 2022, saat invasi Rusia ke Ukraina memicu lonjakan harga energi global.

Baca Juga: Rusia Isyaratkan Veto Resolusi DK PBB soal Selat Hormuz

Di Lebanon, serangan udara Israel pada Minggu dilaporkan menewaskan Pierre Mouawad, seorang pejabat dari partai Lebanese Forces, bersama istrinya di sebuah apartemen di Ain Saadeh, wilayah pegunungan di timur Beirut. Satu perempuan lainnya tewas dan tiga orang mengalami luka-luka.

Hingga kini, militer Israel belum memberikan pernyataan resmi terkait target serangan tersebut. Ketegangan sektarian dilaporkan meningkat di wilayah mayoritas Kristen, seiring kekhawatiran adanya anggota Hizbullah yang bersembunyi di antara warga sipil pengungsi.

Organisasi kemanusiaan Doctors Without Borders (MSF) turut mengecam serangan Israel di kawasan Jnah, Beirut, yang menghantam area permukiman padat dekat Rumah Sakit Rafik Hariri. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan empat orang tewas dan 39 lainnya luka-luka dalam serangan tanpa peringatan tersebut.

MSF menyatakan banyak korban mengalami luka serius di kepala, dada, dan perut akibat serpihan ledakan. Serangan di dekat fasilitas kesehatan juga dinilai dapat menghambat akses warga terhadap layanan medis darurat.

Di sisi lain, Iran menuduh Amerika Serikat menghancurkan sendiri pesawat dan personelnya yang terdampak serangan Iran untuk menghindari “rasa malu politik”. Juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaghari, menyebut sejumlah pesawat AS yang memasuki wilayah udara Iran untuk misi penyelamatan berhasil ditembak dan dipaksa mendarat darurat.

Seorang pejabat intelijen regional yang tidak disebutkan namanya mengatakan militer AS menghancurkan dua pesawat angkut akibat gangguan teknis saat operasi penyelamatan berlangsung.

Dalam operasi tersebut, AS dilaporkan berhasil mengevakuasi dua pilot jet tempur yang ditembak jatuh Iran, termasuk satu pilot yang sempat bersembunyi di wilayah pegunungan sebelum akhirnya diselamatkan dari belakang garis musuh.

 Sumber: Korea Herald

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.