Iran Tolak Gencatan Senjata, Trump Kembali Tebar Ancaman: Iran Bisa Dihancurkan dalam Satu Malam

AKURAT.CO Pemerintah Iran pada Senin (6/4/2026) menyatakan menginginkan berakhirnya perang secara permanen dengan Amerika Serikat dan Israel. Tetapi Teheran tetap menolak tekanan untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Menurut laporan kantor berita resmi Iran, Islamic Republic News Agency, Teheran juga menolak usulan gencatan senjata yang diajukan Amerika Serikat melalui mediator Pakistan. Iran menegaskan bahwa yang dibutuhkan adalah penghentian konflik secara menyeluruh, bukan sekadar jeda sementara.
Respons Iran disebut memuat 10 poin, termasuk penghentian konflik di kawasan, jaminan keamanan pelayaran di Selat Hormuz, pencabutan sanksi, serta rencana rekonstruksi.
Trump Ultimatum Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak respons tersebut dan menetapkan tenggat waktu bagi Iran untuk mencapai kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz.
Dalam konferensi pers, Trump memperingatkan Iran bisa “dihancurkan” dalam satu malam jika tidak memenuhi tenggat tersebut. Ia juga mengancam akan menghancurkan infrastruktur penting Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan.
Trump menyatakan tanpa kesepakatan, seluruh jembatan dan pembangkit listrik di Iran akan menjadi target serangan.
Iran Sebut Ancaman AS Tidak Berdasar
Menanggapi pernyataan tersebut, militer Iran menyebut Trump bersikap “delusional” dan mengecam pernyataannya sebagai ancaman tanpa dasar.
Juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaqari, dalam siaran televisi pemerintah menyebut pernyataan Trump sebagai retorika arogan. Sementara itu, Wakil Menteri Olahraga Iran Alireza Rahimi mengajak masyarakat membentuk rantai manusia di sekitar pembangkit listrik sebagai bentuk protes terhadap potensi serangan.
Para pakar independen juga menilai serangan terhadap infrastruktur sipil seperti pembangkit listrik dan jembatan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Selat Hormuz Jadi Kartu Tawar
Sejak serangan AS dan Israel pada akhir Februari, Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, yang menjadi jalur penting bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







