Trump Nyatakan Militer AS Mulai Lakukan Operasi Blokade Pelabuhan Iran

AKURAT.CO Amerika Serikat mulai memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran. Aksi ini dilakukan untuk menekan Teheran membuka kembali Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan minyak dunia yang sempat ditutup selama enam pekan dan memicu lonjakan harga global.
Presiden AS Donald Trump mengatakan militer negaranya telah memulai operasi blokade sebagai upaya memaksa Iran membuka jalur pelayaran tersebut serta menerima syarat Washington untuk mengakhiri konflik yang berlangsung sejak 28 Februari.
“Kami tidak bisa membiarkan suatu negara memeras dunia,” kata Trump di Gedung Putih.
Data pelacakan kapal menunjukkan dampak langsung dari kebijakan tersebut. Sedikitnya dua kapal tanker yang mendekati Selat Hormuz berbalik arah setelah Angkatan Laut AS memulai blokade. Sejak gencatan senjata diberlakukan, hanya sekitar 40 kapal yang melintas setiap hari, turun dari lebih dari 100 kapal sebelum perang.
Badan UK Maritime Trade Operations menyebut blokade itu mencakup seluruh garis pantai Iran, termasuk pelabuhan dan infrastruktur energi. Meski demikian, pelayaran menuju atau dari negara non-Iran dilaporkan masih dapat berlangsung, meski kapal berpotensi menghadapi kehadiran militer di kawasan.
Di sisi lain, Trump menyatakan AS masih membuka peluang negosiasi. Ia mengklaim pihak Iran telah menghubungi Washington untuk membahas kesepakatan baru. Sejumlah pejabat AS dan sumber diplomatik menyebut pembicaraan lanjutan tengah disiapkan dengan mediasi beberapa negara, termasuk Pakistan, Turki, dan Mesir.
Baca Juga: Picu Kontroversi Politik dan Agama, Trump Hapus Unggahan Gambar AI Dirinya Seperti Yesus
Penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran sebelumnya berdampak besar terhadap pasar global. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur ini dalam kondisi normal. Kenaikan harga minyak turut mendorong lonjakan biaya bahan bakar, pangan, dan kebutuhan pokok lainnya di berbagai negara.
Sebelum blokade diberlakukan, Iran disebut hanya mengizinkan kapal dari negara tertentu yang dianggap “bersahabat” untuk melintas, dengan mengenakan biaya tinggi. Kebijakan ini memicu tudingan bahwa Teheran menyandera ekonomi global.
Sejumlah analis meragukan efektivitas langkah militer AS untuk memulihkan lalu lintas pelayaran sepenuhnya. Selain itu, risiko eskalasi juga dinilai tinggi jika konflik kembali memanas.
Iran merespons dengan ancaman terhadap seluruh pelabuhan di Teluk Persia dan Teluk Oman, khususnya negara-negara sekutu AS. Media pemerintah Iran melaporkan pernyataan militer yang menyebut tidak ada pelabuhan di kawasan yang akan aman jika situasi memburuk.
Ketegangan ini meningkatkan risiko runtuhnya gencatan senjata dua pekan antara AS, Israel, dan Iran, sekaligus memperbesar ancaman terhadap stabilitas ekonomi global.
Sementara itu, harga minyak mentah dunia kembali merangkak naik. Brent crude yang sempat turun ke sekitar 91 dolar AS per barel pada 8 April, kini diperdagangkan di atas 98 dolar AS per barel seiring terbatasnya pasokan dan dampak blokade terbaru.
Sumber: Euronews
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








