Jerman Kutuk Rusia atas Daftar “Target” Perusahaan Drone Ukraina

AKURAT.CO Pemerintah Jerman menjadi negara kedua yang mengecam Rusia setelah Moskow merilis daftar perusahaan yang diklaim membantu produksi drone serang untuk Ukraina. Berlin menilai publikasi tersebut sebagai “ancaman langsung” yang tidak dapat diterima.
Sebelumnya, Republik Ceko juga meminta penjelasan setelah Kementerian Pertahanan Rusia mempublikasikan alamat sejumlah perusahaan di berbagai negara. Mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev bahkan menyebut daftar itu sebagai “daftar target potensial” militer Rusia.
Kementerian Luar Negeri Jerman pada 20 April memanggil Duta Besar Rusia untuk Berlin, Sergei Nechayev. Dalam pernyataan di media sosial, Berlin menilai ancaman terhadap target di Jerman sebagai upaya melemahkan dukungan terhadap Ukraina sekaligus menguji soliditas negara-negara sekutu.
“Respons kami jelas: kami tidak akan terintimidasi. Ancaman semacam itu, serta segala bentuk aktivitas spionase di Jerman, sepenuhnya tidak dapat diterima,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Jerman.
Daftar yang dirilis pada 15 April oleh Kementerian Pertahanan Rusia mencantumkan alamat perusahaan di sejumlah negara, mayoritas di Eropa. Moskow memperingatkan bahwa kerja sama tersebut dapat “menyeret negara-negara itu lebih cepat ke dalam perang dengan Rusia” dan berpotensi menimbulkan “konsekuensi yang tidak dapat diprediksi.”
Publikasi daftar itu muncul sehari setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy berkunjung ke Berlin dan bertemu Kanselir Jerman Friedrich Merz. Dalam pertemuan tersebut, Jerman menegaskan akan terus mendukung industri drone Ukraina, termasuk melalui kerja sama produksi.
Dari total 21 perusahaan yang tercantum, tiga di antaranya berbasis di Jerman.
Dalam pernyataan di situs resminya, Kementerian Pertahanan Rusia menyebut upaya negara-negara Eropa meningkatkan pasokan drone ke Ukraina dapat memicu “eskalasi tajam situasi militer-politik di seluruh benua Eropa” serta menjadikan negara-negara tersebut sebagai “basis belakang strategis” bagi Ukraina.
Pernyataan itu sejalan dengan narasi Kremlin yang berulang kali menuduh Barat—terutama Eropa—memperkeruh konflik yang telah berlangsung sejak Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan invasi skala penuh ke Ukraina pada Februari 2022.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








