Menteri Angkatan Laut AS Dicopot di Tengah Kesulitan Melawan Iran

AKURAT.CO Pemerintah Amerika Serikat kembali melakukan perombakan besar di sektor militernya di tengah konflik yang masih berlangsung dengan Iran. Kali ini, Menteri Angkatan Laut AS, John Phelan, resmi dicopot dari jabatannya.
Dilansir dari CNN pada Kamis, 23 April 2026 pukul 06.00 WIB, keputusan tersebut diumumkan oleh Pentagon tanpa penjelasan rinci terkait alasan pemecatan.
Dalam pernyataan resminya, juru bicara Pentagon, Sean Parnell, hanya menyebut bahwa Phelan meninggalkan pemerintahan, berlaku segera. Ia juga menyampaikan apresiasi atas pengabdian Phelan selama menjabat di Angkatan Laut AS.
Sebagai langkah sementara, posisi tersebut akan diisi oleh wakilnya, Hung Cao, yang kini ditunjuk sebagai pelaksana tugas hingga ada keputusan lebih lanjut.
Baca Juga: Pembukaan Sebagian Wilayah Udara Dimulai, AS Minta Warganya Segera Tinggalkan Iran
Pemecatan ini disebut sebagai bagian dari gelombang perombakan di tubuh militer AS yang terjadi selama masa perang. Sebelumnya, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, juga mencopot Kepala Staf Angkatan Darat, Randy George, pada awal April 2026.
Sumber internal menyebutkan bahwa langkah-langkah ini tidak lepas dari dinamika internal serta ketegangan di tingkat elite militer, termasuk hubungan antara Hegseth dan Menteri Angkatan Darat, Daniel Driscoll.
Perubahan kepemimpinan ini memperlihatkan tekanan besar yang dihadapi Pentagon dalam mengelola strategi militer di tengah konflik yang kompleks dan belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.
Di sisi lain, perang antara AS dan Iran masih berada dalam situasi yang tidak menentu. Meski sempat terjadi gencatan senjata, kondisi di lapangan tetap tegang.
Presiden AS, Donald Trump, bahkan memutuskan untuk memperpanjang masa gencatan senjata yang seharusnya berakhir pada 22 April 2026. Langkah ini diambil dengan alasan memberi waktu tambahan bagi Iran untuk merespons proposal negosiasi damai.
Namun, keputusan tersebut menuai kritik dari sejumlah analis. Salah satunya, pakar kebijakan luar negeri AS, Barbara Slavin, yang menilai perpanjangan gencatan senjata justru menunjukkan posisi sulit Washington dalam menghadapi Teheran.
Baca Juga: Harga Plastik Melambung Imbas Perang As-Iran, Wamendag Cari Alternatif Pemasok
Menurutnya, strategi perang yang dijalankan AS tidak berjalan sesuai rencana awal. Bahkan, Iran dinilai berhasil meningkatkan daya tawarnya, terutama melalui kendali atas jalur strategis seperti Selat Hormuz.
Situasi ini memperlihatkan bahwa konflik tidak hanya berdampak pada medan perang, tetapi juga pada stabilitas internal pemerintahan dan militer AS. Pergantian pejabat tinggi di tengah konflik menunjukkan adanya tekanan besar dalam pengambilan keputusan strategis.
Dengan kondisi yang masih fluktuatif, arah kebijakan militer dan diplomasi AS ke depan menjadi sorotan global, terutama terkait bagaimana Washington akan menyeimbangkan antara kekuatan militer dan upaya negosiasi untuk mengakhiri konflik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









