Timur Tengah Kembali Memanas, Inggris dan Arab Saudi Desak De-eskalasi Usai Serangan Iran ke UEA

AKURAT.CO Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat dalam 24 jam terakhir setelah dugaan serangan Iran ke Uni Emirat Arab. Menyusul insiden tersebut, Inggris dan Arab Saudi kompak menyerukan penurunan eskalasi dan mendorong solusi diplomatik.
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyatakan keprihatinan atas peningkatan konflik dan menegaskan dukungan terhadap upaya politik untuk meredakan situasi. Dalam pernyataan resmi yang dirilis Selasa dini hari, Riyadh menekankan pentingnya jalur diplomasi guna mencapai penyelesaian jangka panjang.
Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengecam keras serangan tersebut. Ia mendesak agar eskalasi segera dihentikan dan menuntut Iran kembali ke meja perundingan.
“Eskalasi ini harus dihentikan. Iran harus terlibat dalam negosiasi secara serius untuk memastikan gencatan senjata di Timur Tengah dapat bertahan dan solusi diplomatik permanen tercapai,” ujar Starmer dalam pernyataannya.
Serangan rudal dan drone pada Senin (waktu setempat) disebut sebagai yang pertama sejak gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran diberlakukan pada awal April lalu. Otoritas setempat melaporkan tiga orang terluka serta kebakaran besar di fasilitas bahan bakar di pelabuhan Fujairah.
Kementerian Luar Negeri UEA menyebut serangan itu sebagai “eskalasi berbahaya dan pelanggaran yang tidak dapat diterima”, sekaligus menegaskan bahwa pihaknya berhak memberikan respons.
Di sisi lain, Iran belum secara tegas mengakui keterlibatan. Seorang pejabat militer Iran menyatakan negaranya tidak memiliki rencana sebelumnya untuk menyerang fasilitas minyak, dan justru menyalahkan kebijakan Amerika Serikat.
Menurutnya, insiden tersebut merupakan dampak dari “petualangan militer AS” dalam membuka jalur pelayaran yang dianggap ilegal di Selat Hormuz.
Situasi ini kembali memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas kawasan dan keamanan jalur energi internasional, terutama di tengah rapuhnya gencatan senjata yang baru berjalan beberapa minggu.
Sumber: SH
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







