Akurat Logo

Timur Tengah Kembali Memanas, Inggris dan Arab Saudi Desak De-eskalasi Usai Serangan Iran ke UEA

Fitra Iskandar | 5 Mei 2026, 11:13 WIB
Timur Tengah Kembali Memanas, Inggris dan Arab Saudi Desak De-eskalasi Usai Serangan Iran ke UEA
Peta Timur Tengah. Foto Unsplash

AKURAT.CO Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat dalam 24 jam terakhir setelah dugaan serangan Iran ke Uni Emirat Arab. Menyusul insiden tersebut, Inggris dan Arab Saudi kompak menyerukan penurunan eskalasi dan mendorong solusi diplomatik.

Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyatakan keprihatinan atas peningkatan konflik dan menegaskan dukungan terhadap upaya politik untuk meredakan situasi. Dalam pernyataan resmi yang dirilis Selasa dini hari, Riyadh menekankan pentingnya jalur diplomasi guna mencapai penyelesaian jangka panjang.

Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengecam keras serangan tersebut. Ia mendesak agar eskalasi segera dihentikan dan menuntut Iran kembali ke meja perundingan.

“Eskalasi ini harus dihentikan. Iran harus terlibat dalam negosiasi secara serius untuk memastikan gencatan senjata di Timur Tengah dapat bertahan dan solusi diplomatik permanen tercapai,” ujar Starmer dalam pernyataannya.

Serangan rudal dan drone pada Senin (waktu setempat) disebut sebagai yang pertama sejak gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran diberlakukan pada awal April lalu. Otoritas setempat melaporkan tiga orang terluka serta kebakaran besar di fasilitas bahan bakar di pelabuhan Fujairah.

Kementerian Luar Negeri UEA menyebut serangan itu sebagai “eskalasi berbahaya dan pelanggaran yang tidak dapat diterima”, sekaligus menegaskan bahwa pihaknya berhak memberikan respons.

Di sisi lain, Iran belum secara tegas mengakui keterlibatan. Seorang pejabat militer Iran menyatakan negaranya tidak memiliki rencana sebelumnya untuk menyerang fasilitas minyak, dan justru menyalahkan kebijakan Amerika Serikat.

Menurutnya, insiden tersebut merupakan dampak dari “petualangan militer AS” dalam membuka jalur pelayaran yang dianggap ilegal di Selat Hormuz.

Situasi ini kembali memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas kawasan dan keamanan jalur energi internasional, terutama di tengah rapuhnya gencatan senjata yang baru berjalan beberapa minggu.

Sumber: SH

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.