Akurat Logo

Harga BBM Melonjak Imbas Konflik Iran, Libur Memorial Day AS Terancam Jadi Musim Perjalanan Termahal

Fitra Iskandar | 21 Mei 2026, 08:06 WIB
Harga BBM Melonjak Imbas Konflik Iran, Libur Memorial Day AS Terancam Jadi Musim Perjalanan Termahal
Ilustrasi stasiun pengisian bahan bakar umum di Amerika. Foto: Cstoredive

AKURAT.CO Warga Amerika Serikat yang bersiap menikmati libur panjang Memorial Day kini harus menghadapi lonjakan tajam harga bahan bakar di tengah memanasnya konflik Iran yang terus mengganggu pasokan minyak global. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa musim perjalanan musim panas tahun ini bisa menjadi salah satu yang paling mahal dalam beberapa tahun terakhir.

Meski harga bensin terus meroket, minat masyarakat Amerika untuk bepergian tetap tinggi. Data terbaru dari American Automobile Association (AAA) memperkirakan sekitar 39,1 juta warga AS akan melakukan perjalanan darat selama akhir pekan Memorial Day, sementara 3,66 juta lainnya diprediksi memilih penerbangan. Libur Memorial Day sendiri secara tradisional menjadi penanda dimulainya musim liburan musim panas di Amerika Serikat.

Namun antusiasme tersebut mulai dibayangi meningkatnya biaya perjalanan, terutama harga BBM yang terus menekan pengeluaran rumah tangga.

Harga bensin eceran di AS dilaporkan telah melonjak lebih dari USD1,50 per galon sejak akhir Februari, setelah ketegangan militer di Timur Tengah meningkat menyusul serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Konflik tersebut memicu gangguan serius di Selat Hormuz — jalur vital distribusi minyak dunia yang menjadi lintasan hampir seperlima pasokan minyak global.

Gangguan distribusi minyak ini mendorong lonjakan harga minyak mentah dunia dan berdampak langsung pada kenaikan biaya bahan bakar serta transportasi di berbagai sektor ekonomi Amerika.

Kenaikan harga energi juga mulai menjadi tekanan politik bagi Presiden AS Donald Trump, di tengah meningkatnya beban biaya hidup masyarakat. Sejumlah negara bagian di AS kini mempertimbangkan penghentian sementara pajak bensin guna meringankan beban konsumen. Selain itu, wacana pemangkasan pajak bahan bakar federal juga semakin menguat.

Analis industri memperingatkan tekanan terhadap konsumen kemungkinan masih akan berlanjut dalam beberapa bulan mendatang.

Kepala analisis perminyakan GasBuddy, Patrick De Haan, mengatakan situasi pasar energi saat ini menjadi salah satu yang paling tidak stabil dalam beberapa tahun terakhir. Dalam wawancaranya dengan Reuters, ia menyebut gangguan di Selat Hormuz kini menjadi pusat kekhawatiran pasar energi global.

Menurutnya, sekalipun jalur pelayaran di kawasan tersebut kembali normal, harga BBM diperkirakan membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan lebih lama untuk benar-benar stabil.

Dampak lonjakan harga bensin juga mulai mengubah pola perjalanan masyarakat Amerika. Survei terbaru GasBuddy menunjukkan semakin sedikit warga AS yang berencana melakukan perjalanan jauh selama musim panas tahun ini.

Hanya 56 persen responden yang mengaku masih berencana melakukan perjalanan darat lebih dari dua jam, turun tajam dibandingkan 69 persen pada tahun lalu. Harga BBM yang tinggi disebut menjadi faktor utama yang memengaruhi keputusan perjalanan, dengan banyak wisatawan mulai mengurangi jarak maupun frekuensi liburan mereka.

Di sisi lain, para ahli energi juga mengkhawatirkan terus menipisnya cadangan bensin di Amerika Serikat. Persediaan bahan bakar dilaporkan terus menurun dalam beberapa pekan terakhir, sementara permintaan tetap tinggi menjelang puncak musim perjalanan.

Risiko tambahan seperti gangguan kilang minyak, ketatnya pasokan bahan bakar global, hingga ancaman musim badai Atlantik diperkirakan dapat mendorong harga bensin naik lebih tinggi lagi.

Berdasarkan proyeksi industri terbaru, rata-rata harga bensin nasional selama libur Memorial Day tahun ini diperkirakan mencapai USD1,48 lebih mahal dibanding periode yang sama tahun lalu. Bahkan sejumlah analis memperingatkan harga BBM di beberapa wilayah AS berpotensi menembus USD5 per galon apabila gangguan di Selat Hormuz terus berlangsung sepanjang musim panas.

Kombinasi konflik geopolitik, menurunnya pasokan energi, dan tingginya permintaan musiman kini memicu kekhawatiran bahwa warga Amerika akan menghadapi periode panjang harga energi mahal jauh melampaui libur Memorial Day tahun ini.

 Sumber: Indiatoday

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.