Akurat Logo

Laporan Lembaga Inggris: Titik Kerentanan Utama China di Samudra Hindia, Bukan Selat Malaka tetapi Selat Hormuz

Fitra Iskandar | 29 Mei 2026, 13:56 WIB
Laporan Lembaga Inggris: Titik Kerentanan Utama China di Samudra Hindia, Bukan Selat Malaka tetapi Selat Hormuz
Ilustrasi Selat Hormuz. Foto: Unsplash

AKURAT.CO Laporan lembaga think tank asal London, International Institute for Strategic Studies (IISS), menyebut kerentanan maritim China sesungguhnya dimulai dari Selat Hormuz, bukan Selat Malaka. Kondisi ini dinilai membuka arena baru persaingan strategis di Samudra Hindia antara Beijing, India, Prancis, dan Amerika Serikat (AS).

Laporan tersebut dirilis menjelang pembukaan forum keamanan tahunan Shangri-La Dialogue yang berlangsung di Singapura pada Jumat (29/5/2026). Dalam laporan bertajuk “Asia Pacific Regional Security Assessment” itu, IISS menilai kawasan Samudra Hindia kembali menjadi panggung strategis utama setelah relatif tenang sejak berakhirnya Perang Dingin.

Menurut IISS, ketergantungan China terhadap pasokan energi yang melewati Samudra Hindia membuat kawasan tersebut semakin penting dalam kalkulasi keamanan Beijing. Namun di saat yang sama, ketergantungan itu juga menciptakan titik lemah yang dapat dimanfaatkan negara rival dalam situasi konflik.

Kajian tersebut menyoroti persaingan strategis di sejumlah jalur laut sempit atau choke points yang menghubungkan Timur Tengah dan Asia, terutama Selat Hormuz serta Selat Malaka dan Singapura yang menjadi jalur utama distribusi energi global.

IISS menilai perkembangan terbaru di sekitar Selat Hormuz semakin memperlihatkan pentingnya jalur pelayaran tersebut. Laporan itu menyinggung keterlibatan Iran dalam latihan militer Maritime Security Belt 2026 bersama China dan Rusia, termasuk latihan angkatan laut di Selat Hormuz pada awal tahun ini.

Latihan tersebut berlangsung tidak lama sebelum pecahnya konflik yang melibatkan Iran, AS, dan Israel, yang sempat mengganggu arus pelayaran serta distribusi energi di kawasan Selat Hormuz.

Laporan itu juga menantang konsep populer mengenai “Malacca Dilemma” atau dilema Selat Malaka yang selama ini dianggap sebagai titik paling rentan bagi perdagangan dan impor energi China.

Menurut IISS, meski Selat Malaka tetap krusial, kerentanan utama China sebenarnya dimulai jauh lebih ke barat karena sebagian besar impor energinya terlebih dahulu melewati Selat Hormuz sebelum masuk ke Samudra Hindia dan menuju Asia Timur.

Gangguan di jalur tersebut diperkirakan tidak hanya berdampak terhadap China, tetapi juga negara-negara ekonomi besar Asia lainnya seperti Jepang yang sangat bergantung pada impor energi melalui Samudra Hindia.

Laporan itu menyebut China menghadapi tantangan strategis lebih besar di Samudra Hindia dibandingkan di kawasan dekat pesisirnya sendiri. Hal itu karena Beijing harus berhadapan dengan kekuatan regional mapan seperti India, Prancis, dan AS yang memiliki kemampuan militer serta jaringan kemitraan luas di kawasan tersebut.

Meski Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA Navy) berkembang pesat dalam dua dekade terakhir dan terus memperkuat kemampuan untuk melindungi jalur pelayaran, pengaruh Beijing di sekitar Selat Hormuz dinilai masih terbatas.

Untuk mengurangi kerentanan tersebut, China disebut terus meningkatkan kerja sama pertahanan dengan negara-negara pesisir Samudra Hindia melalui latihan militer, kerja sama keamanan, ekspor senjata, hingga kemitraan ekonomi dan politik.

IISS menilai dalam waktu dekat China kemungkinan belum mampu menghalangi operasi India, Prancis, maupun AS di titik-titik strategis Samudra Hindia. Namun Beijing dinilai terus membangun pengalaman operasional, jaringan militer, dan kehadiran jangka panjang guna melindungi kepentingannya serta mengurangi ketergantungan pada jalur yang rawan terganggu.

Laporan itu juga menyoroti peran Prancis yang masih menjadi pemain utama di Samudra Hindia bagian barat melalui kehadiran militernya di Afrika dan Pulau Reunion. Sementara India memandang Samudra Hindia sebagai wilayah tanggung jawab strategis utamanya dan berupaya memperkuat posisi sebagai mitra keamanan utama di kawasan.

Dalam beberapa tahun terakhir, India disebut memperluas latihan angkatan laut, kerja sama pertahanan, dan kemitraan keamanan di kawasan. Di sisi lain, AS tetap mempertahankan kehadiran militernya melalui pangkalan Diego Garcia dan memperkuat hubungan dengan sejumlah negara di Samudra Hindia.

Gabungan kehadiran militer dan jaringan kemitraan India, Prancis, dan AS disebut memberikan kemampuan besar untuk melakukan pengawasan, proyeksi kekuatan, serta koordinasi keamanan maritim di titik-titik strategis Samudra Hindia.

Meski demikian, laporan tersebut mencatat ketiga negara itu tidak selalu memiliki persepsi ancaman dan prioritas strategis yang sama sehingga membatasi peluang koordinasi yang lebih mendalam.

Bagi Washington, yang tengah bersaing strategis dengan Beijing di Pasifik Barat sekaligus terlibat konflik dengan Iran di Samudra Hindia bagian barat, peningkatan kemampuan militer China di kawasan diperkirakan dapat menjadi sumber baru ketegangan geopolitik.

IISS juga memperkirakan keterlibatan China di Samudra Hindia akan terus meningkat seiring berkembangnya pasar pertahanan, investasi infrastruktur, kebutuhan energi, dan hubungan politik Beijing di kawasan tersebut.

Sejalan dengan meluasnya kepentingan ekonomi dan keamanan China di Samudra Hindia, Beijing diperkirakan akan memperdalam kehadiran militernya, termasuk dengan mengandalkan kapal induk untuk melindungi jalur pelayaran penting dari Selat Hormuz hingga Asia Timur.

Sumber: Telegraph India

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.