Akurat Logo

AS Masukkan Alibaba, Baidu, dan BYD ke Daftar Perusahaan Pendukung Militer China

Fitra Iskandar | 9 Juni 2026, 07:59 WIB
AS Masukkan Alibaba, Baidu, dan BYD ke Daftar Perusahaan Pendukung Militer China
Kantor pusat BYD di China. Foto: Wikipedia

AKURAT.CO Pemerintah Amerika Serikat kembali meningkatkan tekanan terhadap perusahaan-perusahaan teknologi China dengan memasukkan raksasa e-commerce Alibaba, mesin pencari Baidu, serta produsen kendaraan listrik BYD ke dalam daftar perusahaan yang diduga mendukung aktivitas militer Beijing.

Langkah yang diumumkan Pentagon pada Senin itu berpotensi memperburuk hubungan antara Amerika Serikat dan China, meskipun kedua negara baru saja mempertahankan gencatan sementara dalam perang dagang menyusul pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing bulan lalu.

Daftar terbaru yang dikenal sebagai "1260H List" atau "Chinese Military Companies List" mencakup sejumlah perusahaan teknologi terkemuka China yang dinilai Washington memiliki keterkaitan dengan pengembangan kemampuan militer dan industri strategis Negeri Tirai Bambu.

Selain Alibaba, Baidu, dan BYD, Pentagon juga menambahkan sejumlah perusahaan besar lainnya, termasuk produsen chip memori CXMT dan YMTC, perusahaan bioteknologi WuXi AppTec, perusahaan robotika berbasis kecerdasan buatan RoboSense Technology, serta Unitree, produsen robot humanoid dan robot berkaki empat yang sedang berkembang pesat di China.

Penambahan Unitree menjadi sorotan karena perusahaan tersebut baru-baru ini diumumkan akan bekerja sama dengan perusahaan chip kecerdasan buatan asal Amerika Serikat, Nvidia, dalam pengembangan robot untuk kebutuhan penelitian.

Pentagon Perluas Pengawasan terhadap Teknologi China

Daftar terbaru ini menggantikan versi sebelumnya yang dirilis pada awal 2025. Pentagon sempat menerbitkan pembaruan daftar pada Februari lalu, namun menariknya kembali hanya dalam hitungan hari tanpa penjelasan rinci.

Versi terbaru yang dirilis pekan ini sebagian besar sama dengan daftar yang sempat ditarik tersebut, namun kembali memasukkan CXMT dan YMTC yang sebelumnya dihapus. Keputusan itu mendapat dukungan dari kalangan politik Washington yang selama ini mendorong sikap lebih keras terhadap China.

Ketua Komite Khusus DPR AS untuk Urusan China, John Moolenaar, menyebut daftar tersebut sebagai peringatan bagi perusahaan dan institusi Amerika.

"Perusahaan-perusahaan ini bekerja sama dengan militer China dan bertentangan dengan kepentingan nasional Amerika Serikat," ujarnya.

China Protes Keras

Kedutaan Besar China di Washington mengecam keputusan tersebut dan menuduh Amerika Serikat melakukan diskriminasi terhadap perusahaan-perusahaan China.

Beijing menegaskan bahwa seluruh perusahaan yang masuk dalam daftar tersebut beroperasi sesuai hukum dan regulasi yang berlaku.

"Amerika Serikat harus menghentikan praktik yang keliru ini dan menciptakan lingkungan bisnis yang adil, setara, dan tidak diskriminatif bagi perusahaan China," kata juru bicara Kedutaan Besar China dalam sebuah pernyataan.

Sementara itu, WuXi AppTec menyebut pencantuman namanya sebagai sebuah kesalahan dan menyatakan akan mengambil langkah untuk memperbaiki status tersebut.

Belum Dijatuhi Sanksi, Tetapi Dampaknya Besar

Meski daftar tersebut tidak secara otomatis menjatuhkan sanksi ekonomi, pemerintah AS akan mulai melarang Departemen Pertahanan melakukan kontrak langsung dengan perusahaan-perusahaan yang masuk daftar mulai bulan ini.

Mulai 2027, Pentagon juga dilarang membeli produk maupun layanan dari perusahaan-perusahaan tersebut melalui pihak ketiga.

Analis menilai kebijakan tersebut dapat memberikan dampak finansial yang signifikan bagi perusahaan China maupun mitra bisnis internasional mereka.

Pakar hubungan AS-China dari Foundation for Defense of Democracies, Craig Singleton, menilai langkah terbaru Washington menunjukkan bahwa persaingan teknologi antara kedua negara kini memasuki fase yang lebih serius.

"Washington tidak lagi memandang perusahaan-perusahaan ini sebagai entitas yang berdiri sendiri. Seluruh ekosistem teknologi China kini dianggap sebagai arena persaingan strategis," katanya.

Langkah terbaru ini menandai babak baru rivalitas antara dua ekonomi terbesar dunia yang kini semakin meluas dari sektor perdagangan ke teknologi, kecerdasan buatan, semikonduktor, hingga industri pertahanan.

Sumber: JPost

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.