Akurat Logo

Spanyol Identifikasi Terduga Jihadis di Tengah Gelombang Migran Ceuta, Ribuan Orang Masih Bertahan

Fitra Iskandar | 6 Agustus 2026, 06:30 WIB
Spanyol Identifikasi Terduga Jihadis di Tengah Gelombang Migran Ceuta, Ribuan Orang Masih Bertahan
Spanyol Identifikasi Terduga Jihadis di Tengah Gelombang Migran Ceuta. Foto: AA

AKURAT.CO Otoritas Spanyol mengungkap telah mengidentifikasi sejumlah orang yang diduga memiliki kaitan dengan jaringan jihadis di antara puluhan ribu migran yang menyeberang secara ilegal dari Maroko ke wilayah kantong Spanyol, Ceuta, pekan lalu.

Berdasarkan laporan media The Objective yang mengutip sumber di Guardia Civil (Kepolisian Sipil Spanyol), agen intelijen berhasil mengenali beberapa individu yang sebelumnya telah masuk dalam pemantauan aparat karena diduga memiliki hubungan dengan kelompok ekstremis Islam.

Identifikasi tersebut dilakukan melalui rekaman kamera pengawas di perbatasan Ceuta saat gelombang penyeberangan massal terjadi pada Kamis lalu. Sumber keamanan menyebut sebagian dari mereka telah menjadi objek penyelidikan selama beberapa bulan terakhir.

Selain itu, aparat memperkirakan masih ada ribuan migran yang belum kembali ke Maroko dan masih berada di wilayah Ceuta.

Kontraterorisme Periksa Migran yang Masuk

Laporan terpisah dari media El Español menyebut tim kontraterorisme Kementerian Dalam Negeri Spanyol juga menemukan sejumlah orang yang sebelumnya pernah diselidiki atas dugaan kasus terorisme di antara para migran.

Media tersebut melaporkan sedikitnya belasan orang yang pernah ditangkap, dihukum, dan dideportasi ke Maroko berhasil diidentifikasi. Sebagian di antaranya diduga masih berada di Ceuta karena belum dipulangkan.

Meski demikian, hingga kini pemerintah Spanyol belum mengungkap identitas para terduga maupun dugaan tindak pidana yang mereka lakukan. Menurut laporan tersebut, penyelidikan berkaitan dengan dugaan aktivitas terorisme jihad di Spanyol.

Aparat masih menelaah rekaman CCTV serta berbagai foto dan video yang beredar di media sosial untuk memastikan identitas para individu tersebut.

Hampir 70 Ribu Migran Sudah Kembali ke Maroko

Pemerintah Spanyol memperkirakan sekitar 69.500 migran telah kembali ke Maroko dalam empat hari terakhir. Jumlah itu bahkan melampaui perkiraan awal yang menyebut sekitar 50.000 orang memasuki Ceuta saat gelombang penyeberangan terjadi.

Meski sebagian besar telah kembali, pemerintah setempat masih menangani 862 anak di bawah umur tanpa pendamping yang memperoleh perlindungan hukum khusus sehingga tidak dapat langsung dideportasi.

Krisis tersebut juga memakan korban jiwa. Sedikitnya 72 orang dilaporkan meninggal di sisi perbatasan Spanyol, sementara 11 orang lainnya tewas di wilayah Maroko di tengah kekacauan saat penyeberangan massal berlangsung.

Dugaan Kelalaian Pengamanan Perbatasan

Di tengah penyelidikan, sejumlah media Spanyol melaporkan bahwa dinas intelijen negara menyimpulkan Maroko kemungkinan tidak merencanakan penyeberangan massal tersebut, tetapi dinilai membiarkan situasi berkembang tanpa pengamanan maksimal.

Laporan El País dan Cadena SER menyebut pengawasan perbatasan Maroko mulai dilonggarkan sepanjang Juli dan praktis menghilang ketika ribuan orang bergerak menuju perbatasan Tarajal saat libur nasional Throne Day.

Sementara itu, The Objective melaporkan jumlah personel Guardia Civil yang berjaga di kawasan pantai saat insiden terjadi sangat terbatas. Kementerian Dalam Negeri Spanyol juga disebut membutuhkan lebih dari delapan jam untuk mengirimkan pasukan tambahan ke lokasi.

Menteri Dalam Negeri Spanyol Fernando Grande-Marlaska mengatakan badan intelijen luar negeri CNI tidak memberikan peringatan mengenai potensi lonjakan migran sebelum peristiwa tersebut terjadi.

Di sisi lain, Menteri Pertahanan Margarita Robles menolak menjelaskan apakah CNI telah memiliki informasi sebelumnya. Ia menegaskan seluruh aktivitas intelijen bersifat rahasia dan memuji kinerja aparat keamanan.

Maroko Salahkan Hoaks dan Jaringan Penyelundup

Pemerintah Maroko membantah adanya keterlibatan dalam penyeberangan massal tersebut. Kementerian Dalam Negeri Maroko menyatakan gelombang migrasi dipicu oleh penyebaran informasi yang menyesatkan di media sosial, aktivitas jaringan penyelundup manusia, serta salah tafsir terhadap putusan pengadilan Spanyol mengenai penanganan migran yang dicegat di laut.

Pandangan itu sejalan dengan posisi resmi pemerintah Spanyol.

Sementara itu, Komisioner Uni Eropa yang membidangi urusan migrasi menyatakan masih terlalu dini untuk mengaitkan krisis Ceuta dengan dugaan operasi disinformasi asing, termasuk Rusia. Namun, Uni Eropa mengakui adanya indikasi campur tangan jaringan penyelundup dan perdagangan manusia sebelum penyeberangan massal terjadi.

Sumber: Independent

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.