Waspada! Akademisi Ingatkan Bahaya Memberi Susu Kental Manis untuk Anak

AKURAT.CO Penggunaan susu kental manis sebagai minuman untuk anak-anak masih banyak terjadi di masyarakat.
Kondisi ini menjadi perhatian serius, mengingat tingginya risiko kesehatan yang mengintai akibat kesalahpahaman tentang kandungan gizinya.
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Pasundan, dr. Alma Lucyati, menegaskan bahwa praktik ini harus segera dihentikan.
Dalam sesi pembekalan untuk kader Aisyiyah, ia menyoroti betapa pentingnya edukasi gizi kepada orang tua.
“Banyak orang tua memberikan kental manis karena rasanya manis dan harganya terjangkau. Ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama untuk mengubah pola pikir tersebut,” ujar dr. Alma, dikutip pada Jumat (2/5/2025).
Ia menekankan, kental manis bukanlah susu yang layak dikonsumsi anak-anak, apalagi bayi. Produk ini mengandung kadar gula yang sangat tinggi—hingga lima kali lipat lebih banyak dibandingkan susu sapi biasa—namun sangat minim zat besi, vitamin, dan mineral esensial.
“Memberikan kental manis kepada anak bisa menimbulkan risiko kesehatan serius. Tingginya kandungan gula memperbesar peluang terjadinya obesitas, diabetes, hingga gangguan metabolik lain di kemudian hari,” jelasnya.
Baca Juga: Pekan Imunisasi Dunia 2025, Etana dan Pemkot Bogor Gelar Vaksinasi Massal untuk Anak-anak
Lebih jauh, dr. Alma mengingatkan, salah satu faktor tersembunyi penyebab stunting di Indonesia adalah kekurangan zat besi.
Ia menegaskan, banyak anak yang terlihat gemuk karena konsumsi gula berlebih, namun sebenarnya mengalami defisiensi zat gizi penting.
"Zat besi sangat krusial untuk pertumbuhan otak dan pembentukan darah. Kekurangannya bisa berdampak fatal terhadap perkembangan kognitif dan fisik anak," tambahnya.
Sebagai solusi, dr. Alma mendorong pemberian ASI eksklusif hingga usia enam bulan, diikuti dengan makanan pendamping ASI (MPASI) yang bergizi seimbang.
Sumber protein hewani seperti daging, hati ayam, dan ikan disebut sangat penting untuk memenuhi kebutuhan zat besi.
“Pola makan sehat harus ditanamkan sejak dini. Bukan sekadar mengenyangkan, tetapi benar-benar memenuhi kebutuhan nutrisi untuk masa depan anak yang lebih baik," tegasnya.
Melalui edukasi gizi yang berkelanjutan, dr. Alma berharap kesadaran masyarakat tentang pentingnya nutrisi seimbang akan semakin meningkat, demi melindungi generasi masa depan dari ancaman penyakit akibat pola makan salah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








