Akurat
Pemprov Sumsel

Tekan ADB, Bidan Berperan Strategis dalam Skrining Anemia pada Anak dan Ibu Hamil

Hefriday | 26 November 2024, 18:30 WIB
Tekan ADB, Bidan Berperan Strategis dalam Skrining Anemia pada Anak dan Ibu Hamil

AKURAT.CO Anemia defisiensi besi (ADB) masih menjadi permasalahan kesehatan serius di Indonesia. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan prevalensi anemia pada anak di bawah lima tahun mencapai 38,5%, sementara pada ibu hamil angkanya lebih tinggi, yaitu 48,9%.

Kondisi ini menempatkan Indonesia dalam tantangan besar untuk mencapai target kesehatan optimal menuju Indonesia Emas 2045.

Dalam memperingati Hari Defisiensi Besi Sedunia, Ikatan Bidan Indonesia (IBI) menggelar lokakarya bertema “Peluncuran Inisiatif Rekomendasi Skrining dan Pencegahan Anemia Defisiensi Besi pada Ibu dan Anak Indonesia” pada Selasa (26/11/2024). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan peran bidan dalam skrining dini dan pencegahan ADB pada ibu dan anak di Indonesia.

Baca Juga: Cara Sederhana Pahami Penyebab Anemia dan Tips Mengobatinya dari Organisasi Kesehatan PAFI

Dr. Ade Jubaedah, Ketua Umum IBI, menegaskan pentingnya sinergi antara tenaga kesehatan dan pihak lain untuk menurunkan angka anemia. “Bidan harus menjadi ujung tombak dalam mendeteksi anemia pada ibu hamil dan anak. Dengan deteksi dini, intervensi seperti suplementasi zat besi atau perubahan pola makan dapat segera dilakukan,” ujarnya.

Bidan memiliki peran signifikan dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak di Indonesia. Data menunjukkan, bidan melayani 74% pemeriksaan kehamilan, 62,7% persalinan, dan lebih dari 50% layanan keluarga berencana. Proporsi tenaga kebidanan juga cukup besar, yakni 26,2% dari seluruh tenaga kesehatan.

Dengan kapasitas ini, bidan diharapkan mampu mengintegrasikan skrining anemia ke dalam layanan kesehatan ibu dan anak.

Dr. dr. Rima Irwinda, ahli fetomaternal, menekankan pentingnya pemeriksaan anemia setiap trimester kehamilan. “Suplementasi zat besi dan edukasi nutrisi sejak dini harus dilakukan untuk mencegah anemia selama kehamilan. Kebutuhan zat besi ibu hamil mencapai 1000 mg selama kehamilan, sehingga suplementasi 30-60 mg/hari sesuai rekomendasi WHO sangat diperlukan,” jelasnya.

Anemia defisiensi besi tidak hanya memengaruhi ibu, tetapi juga janin. Ibu hamil yang anemia berisiko mengalami preeklamsia, perdarahan pasca-persalinan, dan melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah. Selain itu, bayi yang lahir dari ibu anemia cenderung memiliki cadangan zat besi yang rendah, meningkatkan risiko anemia pada usia dini.

Di sisi anak, ADB memiliki dampak serius pada perkembangan kognitif, motorik, dan sosial. Zat besi tidak hanya penting untuk membawa oksigen dalam darah tetapi juga berperan dalam metabolisme energi dan perkembangan saraf. Skrining anemia sejak usia dua tahun hingga remaja menjadi langkah penting dalam mencegah dampak jangka panjang ADB.

Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, ahli tumbuh kembang anak, menggarisbawahi pentingnya nutrisi seimbang dan fortifikasi zat besi sebagai upaya pencegahan. “Selain suplementasi, fortifikasi zat besi dalam makanan pendamping ASI juga diperlukan untuk memenuhi kebutuhan zat besi anak,” paparnya.

Skrining anemia berbasis non-invasif juga menjadi solusi praktis untuk identifikasi risiko ADB. Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi menilai pendekatan ini efektif untuk pemantauan awal risiko anemia. “Pemantauan asupan zat besi melalui kuesioner dapat dilakukan oleh bidan di fasilitas kesehatan primer,” jelasnya.

Anemia defisiensi besi disebabkan oleh beberapa faktor, seperti asupan makanan yang tidak adekuat, konsumsi makanan yang menghambat penyerapan zat besi, dan kurangnya kepatuhan dalam mengonsumsi suplementasi zat besi. Infeksi juga dapat memperburuk kondisi ini.

Penelitian menunjukkan, 75% kasus anemia pada anak terjadi akibat defisiensi nutrisi. Hal ini menggarisbawahi perlunya intervensi gizi yang terintegrasi dengan skrining rutin. Melalui lokakarya IBI, diharapkan bidan dapat lebih aktif memberikan edukasi kepada ibu dan keluarga tentang pentingnya asupan gizi seimbang.

Dr. Ade Jubaedah menekankan bahwa peran bidan tidak hanya sebagai penyedia layanan kesehatan tetapi juga pendidik yang mampu mengedukasi keluarga tentang pentingnya pencegahan anemia. “Bidan harus memastikan skrining dan edukasi rutin dilakukan, sekaligus memonitor kepatuhan ibu dalam mengonsumsi suplemen zat besi,” katanya.

Kolaborasi multipihak menjadi kunci keberhasilan dalam menekan angka anemia. Dengan melibatkan pemerintah, tenaga kesehatan, dan komunitas, pencegahan anemia dapat dilakukan secara menyeluruh.

Langkah pencegahan anemia harus dimulai sejak dini, termasuk pada masa kehamilan hingga anak mencapai usia dua tahun, yang dikenal sebagai golden period. Jika tidak ditangani dengan baik, anemia dapat menghambat pertumbuhan fisik dan mental anak.

Melalui program skrining dan edukasi yang terstruktur, diharapkan angka anemia pada ibu dan anak di Indonesia dapat ditekan. Dengan begitu, target Indonesia Emas 2045 yang sehat dan produktif dapat tercapai.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa