Akurat
Pemprov Sumsel

5 Anak Meninggal karena Flu Babi, Kemenkes Tegaskan Darurat Perbaikan Kesehatan Lingkungan

Ahada Ramadhana | 25 November 2025, 21:16 WIB
5 Anak Meninggal karena Flu Babi, Kemenkes Tegaskan Darurat Perbaikan Kesehatan Lingkungan

AKURAT.CO Lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Dusun Datai, Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, mengungkap persoalan mendasar terkait sanitasi, gizi, dan akses layanan kesehatan di wilayah pedalaman.

Hingga 23 November 2025, tercatat 224 warga mengalami gangguan pernapasan. Seluruhnya kini dilaporkan membaik, namun lima anak meninggal dunia.

Hasil laboratorium menunjukkan seluruh korban anak tersebut positif Influenza A/H1pdm09 dan Haemophilus influenzae. Virus H1pdm09 atau flu babi sebelumnya pernah menjadi wabah global pada 2009.

Penyelidikan epidemiologi mengungkap minimnya fasilitas kesehatan dan sanitasi dasar di Dusun Datai.

Di wilayah tersebut tidak tersedia MCK, tidak ada sistem pembuangan sampah, ventilasi rumah buruk, serta aktivitas memasak dengan kayu bakar dilakukan di ruangan yang sama dengan tempat tidur. Kondisi ini meningkatkan risiko penularan ISPA, terutama pada anak-anak.

Selain faktor lingkungan, banyak warga juga mengalami gizi kurang dan memiliki cakupan imunisasi dasar yang rendah.

Pemeriksaan lebih lanjut menemukan kombinasi multipatogen seperti flu babi, pertusis, adenovirus, dan bocavirus, yang mengindikasikan rendahnya kekebalan tubuh penduduk.

Baca Juga: Dorong Penguatan Aturan Antiperundungan dalam RUU Sisdiknas

Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes, Sumarjaya, menegaskan, situasi lingkungan memperburuk penyebaran penyakit.

“Kami menemukan rumah padat, ventilasi minim, dan warga hidup dalam paparan asap kayu bakar setiap hari. Kondisi seperti ini membuat penyakit pernapasan lebih mudah menular, terutama pada balita,” ujarnya.

Ia menambahkan, krisis ISPA ini tidak hanya persoalan medis, tetapi erat kaitannya dengan sanitasi lingkungan, pola hidup, dan akses kesehatan.

Untuk mengendalikan situasi, Kementerian Kesehatan bersama pemerintah daerah menggelar pengobatan massal, memperkuat intervensi gizi, serta memberikan perhatian khusus bagi balita dan ibu hamil melalui PMT, vitamin, dan pemantauan kesehatan intensif.

Edukasi mengenai etika batuk, penggunaan masker, dan PHBS juga ditingkatkan.

Tim kesehatan turut mengambil sampel tambahan guna memastikan tidak ada patogen lain yang beredar mengingat temuan multipatogen sebelumnya.

Sebagai langkah jangka panjang, pemerintah mulai merancang perbaikan lingkungan, termasuk pembangunan sistem pembuangan sampah, kerja bakti pemberantasan sarang nyamuk, serta pemisahan area memasak dan tidur di rumah warga.

Media edukasi untuk sekolah terpencil juga disiapkan agar pemahaman kesehatan masyarakat terus meningkat.

Baca Juga: Indonesia International Transport Summit 2025 Dorong Agenda The Global South Mobility Atlas

Sumarjaya memastikan upaya penanganan tidak berhenti pada pengobatan kasus, tetapi berfokus pada perbaikan kondisi lingkungan dan akses kesehatan di Dusun Datai dan tujuh dusun terisolir lainnya.

“Kami ingin memutus siklus kerentanan ini. Intervensi lingkungan dan gizi adalah kunci agar kejadian seperti ini tidak terulang,” tegasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.