Kenapa Otak Suka Memikirkan Hal-hal Buruk? Ini Penjelasan Psikologinya

AKURAT.CO Banyak orang pernah mengalami momen tiba-tiba teringat hal memalukan dari masa lalu, memikirkan skenario terburuk, atau overthinking sampai susah tidur.
Fenomena itu bukan sekadar kebiasaan buruk ada penjelasan psikologis kenapa otak manusia cenderung tertarik pada pikiran negatif.
Baca Juga: Overthinking Lagi? Ini 5 Teknik Menenangkan Pikiran Sebelum Tidur
1. Efek “Negativity Bias” dari Otak
Peneliti psikologi menemukan bahwa otak lebih cepat menanggapi rangsangan negatif dibanding positif. Efek ini disebut negativity bias. Secara evolusi, respons ini membantu manusia bertahan hidup karena ancaman lebih penting untuk diwaspadai daripada kabar baik.
Dalam kehidupan modern, ancaman bukan lagi predator, tetapi stres, hubungan sosial, pekerjaan, atau masa depan. Hasilnya? Pikiran lebih mudah “tersedot” ke arah negatif.
2. Overthinking Sebagai Mekanisme Perlindungan
Banyak orang mengira overthinking hanya merugikan, padahal otak melakukannya sebagai bentuk proteksi. Dengan membayangkan skenario buruk, otak berusaha mempersiapkan strategi mengatasi masalah. Meski niatnya baik, hasilnya justru membuat pikiran lelah dan cemas.
3. Memori Negatif Bertahan Lebih Lama
Dalam psikologi memori, ingatan negatif cenderung tersimpan lebih kuat. Otak melabelinya sebagai “penting” sehingga lebih sulit dilupakan. Inilah alasan seseorang bisa tiba-tiba mengingat kesalahan kecil bertahun-tahun lalu.
4. Media dan Lingkungan Memperkuat Pola
Kondisi sekitar turut mempengaruhi cara berpikir. Media dipenuhi berita buruk karena lebih mudah menarik perhatian. Lingkungan toxic juga membuat pikiran negatif terpelihara. Tanpa disadari, otak terbiasa mengonsumsi hal-hal negatif setiap hari.
5. Bisa Diatasi dengan Melatih Pikiran Positif
Kecenderungan negatif bukan kutukan permanen. Psikolog menyarankan beberapa strategi seperti:
- journaling untuk membongkar pikiran berlebih
- gratitude practice (latihan bersyukur harian)
- mindfulness agar fokus pada saat ini
- mengurangi paparan media negatif
- membangun pola tidur yang baik
Latihan ini membantu otak menciptakan jalur pemikiran baru yang lebih sehat dan seimbang.
Penutup
Otak manusia memang dirancang lebih sensitif terhadap hal-hal buruk, tetapi bukan berarti kita tidak bisa mengendalikannya. Dengan memahami akar psikologinya, kita bisa lebih bijak dalam mengelola pikiran dan memilih lingkungan yang mendukung kesehatan mental.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK






