Gejala Hantavirus Mirip DBD dan Tifus, Ini Cara Membedakannya

AKURAT.CO Kasus hantavirus masih menjadi perhatian dunia setelah muncul laporan infeksi di beberapa negara. Penyakit yang ditularkan melalui paparan tikus ini memiliki gejala awal yang sering kali mirip dengan demam berdarah dengue (DBD) dan tifus, sehingga membuat banyak orang sulit membedakannya.
Gejala meliputi demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, mual, hingga tubuh lemas dapat muncul pada ketiga penyakit tersebut. Namun, hantavirus memiliki beberapa tanda khas yang perlu diwaspadai karena bisa berkembang menjadi kondisi serius dalam waktu singkat.
Hantavirus adalah kelompok virus yang menyebar melalui tikus dan hewan pengerat lainnya. Penularan umumnya terjadi ketika seseorang menghirup partikel dari urine, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention atau CDC, hantavirus dapat menyebabkan dua kondisi serius yaitu hantavirus pulmonary syndrome yang menyerang paru paru dan hemorrhagic fever with renal syndrome yang menyerang ginjal.
Baca Juga: Apakah Hantavirus Bisa Sembuh? Ini Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobatinya
Gejala Hantavirus yang Sering Muncul
Pada tahap awal, gejala hantavirus memang sangat mirip dengan flu, DBD, maupun tifus. Beberapa tanda yang paling umum meliputi:
Demam tinggi
Nyeri otot terutama di punggung, paha, dan bahu
Sakit kepala
Tubuh lemas dan mudah lelah
Mual dan muntah
Diare atau sakit perut
Menggigil
Pusing
CDC menyebut gejala awal hantavirus biasanya muncul satu hingga delapan minggu setelah terpapar tikus yang terinfeksi.
Meski terlihat mirip, hantavirus memiliki beberapa ciri khas yang membedakannya dari DBD dan tifus.
Pada hantavirus, pasien bisa mengalami batuk dan sesak napas beberapa hari setelah gejala awal muncul. Kondisi ini terjadi karena cairan mulai memenuhi paru paru dan dapat menyebabkan gangguan pernapasan serius.
Sementara pada DBD, gejala yang lebih khas biasanya berupa munculnya bintik merah pada kulit, nyeri sendi hebat, hingga trombosit menurun drastis.
Adapun tifus umumnya disertai gangguan pencernaan lebih dominan seperti perut kembung, diare atau sembelit, serta demam yang meningkat perlahan terutama pada malam hari.
Hantavirus memiliki perbedaan utama dengan penyakit DBD dan tifus. Hantavirus lebih sering berkaitan dengan riwayat paparan tikus atau lingkungan kotor yang banyak kotoran tikus.
DBD biasanya ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan sering disertai ruam atau bintik merah. Tifus terjadi akibat infeksi bakteri Salmonella typhi dari makanan atau minuman yang terkontaminasi.
Hantavirus cenderung berkembang cepat menjadi gangguan pernapasan berat, sedangkan DBD lebih identik dengan perdarahan dan penurunan trombosit. Jika mengalami demam disertai sesak napas setelah kontak dengan area yang banyak tikus, kondisi ini perlu segera diperiksa ke dokter.
CDC menyebut hantavirus pulmonary syndrome memiliki tingkat kematian cukup tinggi ketika sudah memasuki fase gangguan pernapasan. Penyakit ini dapat memburuk hanya dalam beberapa hari.
Beberapa pasien bahkan memerlukan bantuan oksigen atau perawatan intensif di rumah sakit. Hingga saat ini belum ada obat khusus untuk menyembuhkan hantavirus sehingga penanganan dini sangat penting.
Cara Mencegah Hantavirus
Pencegahan utama hantavirus adalah menghindari kontak dengan tikus dan membersihkan lingkungan secara rutin. Beberapa langkah yang disarankan antara lain:
Menutup celah masuk tikus di rumah
Menyimpan makanan dalam wadah tertutup
Menggunakan sarung tangan dan masker saat membersihkan area kotoran tikus
Tidak menyapu kotoran tikus dalam keadaan kering karena dapat menyebarkan partikel virus ke udara
Menjaga kebersihan gudang, dapur, dan area lembap
Baca Juga: Apa Itu Hantavirus? Virus yang Diduga Picu Kematian di Kapal Pesiar Mewah
Gejala hantavirus memang bisa menyerupai DBD dan tifus pada tahap awal. Namun, hantavirus biasanya disertai riwayat paparan tikus dan dapat berkembang menjadi sesak napas berat yang berbahaya.
Karena gejalanya sering sulit dibedakan, pemeriksaan medis sangat penting terutama jika demam tinggi muncul setelah kontak dengan lingkungan yang terkontaminasi tikus.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









