Profil KH Soleh Darat, Kiai yang Diisukan akan Diangkat Menjadi Pahlawan Nasional

AKURAT.CO KH Soleh Darat diusulkan diangkat menjadi pahalawan Nasional pada tahun 2024. Beliau merupakan ulama terkemuka di peralihan abad 20 yang menjadi guru para ulama terkemuka generasi berikutnya.
KH Soleh Darat lahir di Desa Kedung Jumbleng, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara pada tahun 1235 Hijriah, bertepatan dengan tahun 1820. Nama lengkap KH Soleh Darat ialah Muhammad Sholeh bin Umar al-Samarani. Sematan nama “Darat” KH Soleh dipakai karena ia tinggal di kawasan dekat pantai utara Semarang.
Baca Juga: Rukun Haji yang Harus Dipenuhi oleh Muslim yang Akan Pergi Haji ke Baitullah
Kiai Soleh merupakan putra dari Kiai Umar, seorang ulama sekaligus pejuang dan tangan kanan Pangeran Diponegoro. KH Soleh juga turut berperan dalam melakukan perdamaian saat melawan kolonial, beliau memilih jalur pendidikan dan gerakan ideologis sebagai bentuk perlawanan.
Saat masa kecil hingga remaja, KH Soleh menghabiskan waktu dengan belajar Al-Qur’an serta ilmu agama dari ayahnya. Ia mempelajari ilmu nahwu, shorof, akidah, akhlak, hadits, dan fiqih. Ketika beranjak dewasa, beliau menimba ilmu ke sejumlah ulama di Jawa maupun ulama di luar negeri.
Setelah beberapa tahun mempelajari ilmu agama, KH Soleh pun menjadi pengajar di Makkah. Ia memutuskan kembali ke Semarang dan mengajar di tempat asalnya setelah beberapa tahun mengajar di Makkah. Kiai Soleh juga mendirikan pusat kajian Islam yang berbentuk langgar atau mushala, yang kemudian berkembang menjadi pesantren kecil.
Baca Juga: Apakah Puasa Sunah Syawal Wajib bagi Seorang Muslim?
Dengan dalamnya ilmu agama yang dimiliki oleh KH Soleh, ia pun menjadi guru dari beberapa tokoh nasional. Beberapa tokoh yang pernah menjadi murid KH Soleh yaitu KH Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama), KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), dan Raden Ajeng Kartini.
Selain menjadi guru dari tokoh nasional, KH Soleh juga melahirkan banyak karya mengenai ilmu agama Islam. Di antaranya, Majmu'ah Asy Syari'ah Al Kafiyah li Al Awam, Batha'if At Thaharah, serta kitab Faidhir Rahman. Beliau menggunakan nama Syeikh Haji Muhammad Shalil ibn Umar Al-Samarani dalam karya yang ditulisnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 3Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








