Akurat
Pemprov Sumsel

Apa itu Puasa Ayyamul Bidh? Begini Tata Cara Melaksanakan dan Pahalanya bagi Umat Islam

Fajar Rizky Ramadhan | 5 Oktober 2025, 07:35 WIB
Apa itu Puasa Ayyamul Bidh? Begini Tata Cara Melaksanakan dan Pahalanya bagi Umat Islam

AKURAT.CO Puasa Ayyamul Bidh adalah salah satu ibadah sunnah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Ibadah ini dikenal sebagai puasa tiga hari di pertengahan setiap bulan Hijriah, tepatnya pada tanggal 13, 14, dan 15.

Disebut “Ayyamul Bidh” yang berarti “hari-hari putih” karena pada malam-malam tersebut bulan bersinar penuh di langit, memancarkan cahaya terang yang melambangkan kesucian dan kebersihan hati seorang hamba.

Puasa ini bukan hanya sekadar amalan tambahan, melainkan bagian dari ajaran Rasulullah SAW yang diwariskan kepada para sahabatnya. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, beliau berkata,

“Kekasihku (Rasulullah SAW) mewasiatkan padaku tiga perkara yang tidak akan pernah aku tinggalkan hingga aku mati: berpuasa tiga hari setiap bulan, melaksanakan salat Dhuha, dan melaksanakan salat Witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari No. 1178).

Dari pesan ini, terlihat jelas bahwa puasa Ayyamul Bidh merupakan bentuk latihan spiritual yang berkelanjutan untuk menjaga hubungan antara manusia dan Tuhannya.

Baca Juga: Puasa Ayyamul Bidh Oktober 2025 Jatuh pada 5–7 Oktober, Ini Niat dan Keutamaannya

Selain itu, Rasulullah SAW juga menegaskan waktu pelaksanaannya dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dzar.

Beliau bersabda, “Wahai Abu Dzar, jika kamu ingin berpuasa tiga hari pada tiap bulan, maka berpuasalah pada tanggal ke tiga belas, empat belas, dan lima belas.” (HR. Tirmidzi No. 761).

Hadis ini menegaskan bahwa puasa Ayyamul Bidh memiliki waktu yang tetap dan menjadi bagian dari kebiasaan rutin Nabi.

Dalam konteks kehidupan modern, puasa Ayyamul Bidh bisa menjadi sarana untuk memperlambat ritme dunia yang serba cepat. Ia menghadirkan ruang kontemplasi dan jeda spiritual di tengah kesibukan, mengingatkan manusia bahwa keseimbangan batin tidak bisa diperoleh hanya dengan aktivitas duniawi.

Tiga hari dalam sebulan yang digunakan untuk berpuasa dapat menjadi momentum untuk menenangkan pikiran, memperbaiki niat, serta membersihkan hati dari keinginan berlebih.

Adapun tata cara melaksanakan puasa Ayyamul Bidh tidak berbeda jauh dengan puasa sunnah lainnya. Dimulai dengan makan sahur sebelum terbit fajar, lalu menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa hingga matahari terbenam.

Niatnya dapat dibaca pada malam hari sebelum tidur atau sebelum waktu Dzuhur bagi yang belum sempat. Lafaz niatnya adalah, “Nawaitu shauma ghadin ayyamal bidhi sunnatan lillahi ta’ala,” yang artinya, “Saya niat berpuasa besok pada hari-hari putih, sunnah karena Allah Ta’ala.”

Setelah berpuasa sepanjang hari, umat Islam dianjurkan untuk segera berbuka ketika adzan Maghrib tiba. Rasulullah SAW menganjurkan berbuka dengan sesuatu yang manis, seperti kurma atau air putih, sebagai bentuk kesederhanaan dan rasa syukur kepada Allah.

Selain itu, dianjurkan pula untuk memperbanyak doa di waktu menjelang berbuka, karena saat itu termasuk waktu yang mustajab untuk memohon ampunan dan keberkahan.

Keutamaan puasa Ayyamul Bidh tidak hanya terletak pada sisi spiritual, tetapi juga pada pahala yang luar biasa besar. Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang berpuasa tiga hari pada setiap bulan, maka sama halnya dengan puasa sebulan penuh.” (HR. Tirmidzi No. 762).

Hadis ini diperkuat dengan ayat Al-Qur’an dalam Surah Al-An’am ayat 160 yang menyebutkan, “Siapa yang berbuat satu kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala sepuluh kali lipat.”

Dengan demikian, satu hari puasa dihitung seperti beribadah selama sepuluh hari, dan tiga hari puasa dalam sebulan setara dengan pahala berpuasa selama sebulan penuh.

Baca Juga: Jadwal Puasa Ayyamul Bidh Agustus 2025 Sesuai Kalender Hijriah

Lebih dari sekadar pahala, puasa Ayyamul Bidh memiliki nilai psikologis dan sosial yang tinggi. Ia melatih seseorang untuk mengontrol hawa nafsu, menumbuhkan empati terhadap sesama, serta memperkuat disiplin diri.

Dalam masyarakat yang serba materialistik, ibadah ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari pemenuhan keinginan, melainkan dari kemampuan mengendalikan diri dan bersyukur atas yang ada.

Puasa Ayyamul Bidh juga memberi efek positif bagi kesehatan. Secara ilmiah, puasa terbukti membantu menstabilkan metabolisme tubuh, menurunkan kadar gula darah, serta memperbaiki fungsi hati dan pencernaan.

Dalam Islam, dimensi spiritual dan fisik ini berjalan beriringan: tubuh yang terjaga membantu ruh menjadi lebih ringan dalam mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Bagi umat Islam, menjalankan puasa Ayyamul Bidh adalah bentuk ketaatan dan cinta kepada Rasulullah SAW. Ia bukan kewajiban, tetapi pilihan yang menunjukkan keinginan untuk menapaki jejak kehidupan Nabi yang sederhana, teratur, dan penuh makna. Dalam tiga hari itu, seorang mukmin dilatih untuk menundukkan ego, menguatkan kesabaran, dan memperdalam rasa syukur.

Maka, setiap kali bulan Hijriah mencapai pertengahannya dan bulan purnama bersinar terang, itulah saat yang tepat untuk menata kembali hati. Dengan berpuasa di hari-hari putih, umat Islam bukan hanya menjalankan sunnah Nabi, tetapi juga menegaskan komitmen untuk terus memperbaiki diri di bawah cahaya rahmat Allah yang seluas langit dan bumi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.