Akurat
Pemprov Sumsel

Sempat Dicopot, Dipanggil Kembali, Chiki Fawzi Akhirnya Tak Jadi Petugas Haji 2026

Fajar Rizky Ramadhan | 29 Januari 2026, 14:39 WIB
Sempat Dicopot, Dipanggil Kembali, Chiki Fawzi Akhirnya Tak Jadi Petugas Haji 2026

AKURAT.CO Dinamika seleksi Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026 kembali menyita perhatian publik. Aktivis sosial sekaligus influencer Marsha Chikita Fawzi atau Chiki Fawzi memastikan dirinya kembali batal menjadi petugas haji, meski sempat dipanggil ulang setelah sebelumnya dicopot.

Kepastian tersebut disampaikan Chiki pada Kamis (29/1/2026) pagi, menjawab konfirmasi terkait status terkininya dalam proses pendidikan dan pelatihan petugas haji di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta.

“Gak jadi lagi mas,” ujar Chiki singkat kepada wartawan mengenai kabar pemanggilan ulang dirinya sebagai petugas haji.

Sebelumnya, Chiki mengabarkan dicopot dari daftar petugas haji pada Selasa (27/1/2026). Sehari kemudian, Rabu (28/1/2026), ia menyampaikan bahwa dirinya kembali dipanggil untuk mengikuti pelatihan. Namun, keputusan tersebut kembali berubah hanya berselang satu hari.

Hingga berita ini diturunkan, Chiki belum memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai alasan pasti batalnya pemanggilan tersebut, meski konfirmasi telah disampaikan kepadanya.

Baca Juga: Usai Pencopotan Chiki Fawzi dari Petugas Haji Viral, Kemenhaj Sebut Diklat Bagian dari Seleksi

Di sisi lain, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI menegaskan bahwa proses seleksi petugas haji 2026 dilakukan secara ketat dan berlapis. Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Dahnil Anzar Simanjuntak menekankan bahwa tidak semua peserta diklat otomatis dinyatakan lulus.

“Sampai hari ini setidaknya ada enam orang yang dicopot. Salah satunya karena faktor kesehatan,” kata Dahnil kepada wartawan di Jakarta, Kamis (29/1/2026).

Menurut Dahnil, hasil pemeriksaan kesehatan atau medical check-up (MCU) menjadi faktor krusial. Ia menyebutkan, ada peserta yang diketahui memiliki penyakit jantung serius hingga harus menjalani pemasangan ring, sehingga berdasarkan rekomendasi dokter dinyatakan tidak layak berangkat.

“Kalau rekomendasi dokter tidak bisa ikut, ya harus dicopot. Ini soal keselamatan dan kesiapan fisik,” ujarnya.

Selain faktor kesehatan, Dahnil juga menyoroti aspek kedisiplinan dan integritas selama pelatihan. Ia menegaskan bahwa seluruh proses asesmen sepenuhnya berada di tangan tim pelatih dan instruktur, tanpa intervensi pimpinan kementerian.

“Pak Menteri dan saya tidak pernah ikut campur soal standar penilaian. Kehadiran, kedisiplinan, ketertiban, semua dinilai. Tidak ada yang diistimewakan,” tegasnya.

Ia menambahkan, niat menjadi petugas haji juga menjadi perhatian serius panitia. “Jangan sampai niatnya sekadar nebeng haji,” kata Dahnil.

Baca Juga: DPD RI Soroti Dugaan Mafia Kuota Haji, Minta Tata Kelola Lebih Transparan

Terkait adanya protes dari peserta yang dicopot, Dahnil mengaku memahaminya. Menurut dia, ekspektasi menjadi petugas haji memang besar, namun proses seleksi harus tetap objektif.

“Kalau ada yang kecewa itu wajar. Saran kami, tahun depan dipersiapkan lebih maksimal. Ke depan seleksi akan lebih ketat lagi,” ujarnya.

Kasus yang dialami Chiki Fawzi memperlihatkan bahwa proses seleksi petugas haji 2026 tidak hanya dinamis, tetapi juga menuntut transparansi komunikasi agar tidak menimbulkan kebingungan di ruang publik. Di tengah sorotan terhadap profesionalisme penyelenggaraan haji, konsistensi prosedur dan kejelasan keputusan menjadi kunci menjaga kepercayaan publik.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.