Akurat Logo

Indonesia Tak Peroleh Penghargaan dalam Penyelenggaraan Haji 2026, Ini Sebabnya

Lufaefi | 3 Juni 2026, 13:00 WIB
Indonesia Tak Peroleh Penghargaan dalam Penyelenggaraan Haji 2026, Ini Sebabnya
Jemaah Haji Indonesia Bersama Menteri Haji dan Umrah Gus Irfan (MCH)

AKURAT.CO Indonesia tidak masuk dalam daftar penerima Labbaitom Award 2026 atau penghargaan penyelenggaraan haji terbaik yang diberikan Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi. Padahal, Indonesia merupakan negara dengan jumlah jamaah haji terbesar di dunia dan pernah meraih penghargaan serupa pada penyelenggaraan haji sebelumnya.

Pengumuman pemenang disampaikan dalam acara Khitamuhu Misk di Makkah yang dihadiri Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi, Tawfiq bin Fawzan Al-Rabiah. Tahun ini, penghargaan diberikan kepada sejumlah negara yang dinilai memiliki tingkat kepatuhan, kualitas layanan, dan inovasi terbaik dalam penyelenggaraan haji.

Pada kategori Diamond Award, penghargaan diberikan kepada Malaysia, Irak, dan Ethiopia. Sementara kategori Gold Award diraih Djibouti, Komoro, dan Turki. Adapun kategori Silver Award diberikan kepada Maroko, Oman, dan Mesir, sedangkan Singapura berhasil memperoleh Bronze Award bersama Aljazair dan Tunisia.

Baca Juga: KPK Segera Tahan Direktur Maktour dan Ketum Kesthuri dalam Kasus Korupsi Kuota Haji

Keberhasilan Malaysia menjadi perhatian karena negara tersebut berhasil mempertahankan capaian Diamond Award untuk kelima kalinya secara berturut-turut. Menteri di Jabatan Perdana Menteri Malaysia (Urusan Agama), Dr. Zulkifli Hasan, mengatakan keberhasilan tersebut ditopang oleh integrasi teknologi dalam pelayanan jamaah.

“Tabung Haji mengintegrasikan teknologi seperti Kecerdasan Buatan (AI) dan aplikasi digital termasuk e-TAIB yang membantu menjawab pertanyaan jemaah secara real-time,” ujar Zulkifli sebagaimana dikutip media Malaysia, The Star.

Selain pemanfaatan teknologi digital, Malaysia juga dinilai berhasil menerapkan program Green Hajj atau Haji Hijau serta kampanye kebersihan selama operasional haji berlangsung. Sementara Singapura dinilai mampu menunjukkan tata kelola jamaah yang efisien dan disiplin meskipun memiliki kuota jamaah yang relatif kecil.

Absennya Indonesia dari daftar penerima penghargaan memunculkan berbagai pertanyaan. Terlebih, Indonesia sebelumnya pernah meraih penghargaan Labbaitom Award pada musim haji 1444 H/2023 M untuk kategori negara dengan tingkat kepatuhan tertinggi dalam penyediaan layanan jamaah haji.

Berdasarkan indikator yang digunakan Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi, penilaian tahun ini menitikberatkan pada sejumlah aspek utama, antara lain digitalisasi layanan, keberlanjutan program operasional, serta kepatuhan dan ketertiban pelaksanaan layanan di lapangan.

Digitalisasi layanan mencakup kecepatan respons dan integrasi sistem pelayanan berbasis teknologi. Aspek keberlanjutan meliputi penerapan program ramah lingkungan selama operasional haji, sedangkan kepatuhan mencakup disiplin jamaah serta kelancaran pelaksanaan logistik dan layanan selama musim haji berlangsung.

Baca Juga: Hilman Latief Bantah Terima Dana Korupsi Haji, KPK Klaim Temukan Fakta Lain

Tidak masuknya Indonesia dalam daftar penerima penghargaan tahun ini menjadi catatan evaluasi bagi penyelenggara haji nasional. Apalagi, penyelenggaraan haji 2026 merupakan musim pertama setelah transisi pengelolaan dari Kementerian Agama kepada Kementerian Haji dan Umrah Indonesia.

Pada kesempatan yang sama, otoritas Arab Saudi juga mulai membagikan dokumen pengaturan awal penyelenggaraan haji 1448 H. Langkah tersebut menjadi sinyal bahwa seluruh negara peserta, termasuk Indonesia, dituntut melakukan persiapan dan pembenahan tata kelola sejak lebih dini guna meningkatkan kualitas pelayanan jamaah pada musim haji mendatang.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi