Akurat Logo

Warga Nahdliyin Soroti Arah Kepemimpinan PBNU, Dorong Figur Pemersatu Jelang Muktamar ke-35

Lufaefi | 28 Juni 2026, 06:20 WIB
Warga Nahdliyin Soroti Arah Kepemimpinan PBNU, Dorong Figur Pemersatu Jelang Muktamar ke-35
Warga Nahdliyyin (google image)

AKURAT.CO Dinamika yang berkembang di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjelang Muktamar ke-35 terus menjadi perhatian kalangan warga Nahdliyin. Sejumlah pandangan mulai mengemuka terkait arah kepemimpinan organisasi ke depan, termasuk dorongan agar NU dipimpin figur yang mampu menjaga rekonsiliasi dan memperkuat persatuan internal.

Salah satu pandangan tersebut disampaikan oleh tokoh kiai kampung sekaligus kader NU, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy. Ia menilai dinamika yang belakangan muncul di lingkungan PBNU perlu dibaca secara lebih luas dan tidak disederhanakan sebagai persoalan antarindividu semata.

Menurutnya, ketegangan yang berkembang di tingkat elite organisasi memiliki dimensi yang lebih kompleks, mencakup pola relasi kerja, komunikasi kelembagaan, hingga perbedaan pendekatan dalam menjalankan roda organisasi.

Baca Juga: Geger! Pegawai Rumah Sakit di Hungaria Diduga Simpan Potongan Tubuh Manusia dan Akui Kanibalisme

“Konflik organisasi sebesar NU selalu dipengaruhi banyak faktor, mulai dari perbedaan visi, komunikasi, hingga persaingan pengaruh di sekitar pusat kekuasaan organisasi. Namun, pola yang terus berulang dari fase ke fase patut menjadi bahan renungan bersama,” ujarnya dalam keterangan yang dikutip pada Sabtu (27/6/2026).

Dalam pandangannya, terdapat kecenderungan munculnya dua kutub pendekatan dalam pengelolaan organisasi PBNU saat ini. Ia mengaitkan dinamika tersebut dengan relasi dan konfigurasi kepemimpinan di sekitar jajaran struktural organisasi.

Kelompok pertama disebut berada di sekitar Miftachul Akhyar, Saifullah Yusuf, dan Gudfan Arif Ghofur. Sementara kelompok lain dipandang lebih dekat dengan Yahya Cholil Staquf, Ahmad Said Asrori, dan Amin Said Husni.

Meski demikian, Khalilur menekankan bahwa perbedaan pandangan tersebut tidak selalu harus dipahami sebagai konflik terbuka, melainkan bagian dari dinamika organisasi besar yang memiliki struktur dan otoritas berlapis.

Ia menilai persoalan mendasar yang kerap memicu ketegangan di lingkungan organisasi sering berkaitan dengan batas kewenangan antara unsur Syuriyah dan Tanfidziyah, terutama dalam wilayah pengambilan kebijakan dan pelaksanaan teknis organisasi.

Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 NU, Khalilur mengajak warga Nahdliyin untuk melihat secara jernih mengenai model kepemimpinan yang dibutuhkan organisasi pada fase berikutnya.

Menurutnya, NU memerlukan sosok yang mampu menghadirkan keteduhan, menjaga komunikasi lintas kelompok, serta menjadi titik temu berbagai aspirasi di tubuh jam’iyah.

Ia juga merefleksikan pengalaman kepemimpinan tokoh-tokoh NU sebelumnya seperti Ahmad Siddiq dan Sahal Mahfudz yang dinilai dikenang karena kapasitas keilmuan, keteladanan, dan kemampuan menjaga soliditas organisasi.

Baca Juga: KH Imam Jazuli Sebut Said Aqil Siradj Figur Visioner, Soroti Masa Depan NU Jelang Muktamar

“NU terlalu besar untuk terus-menerus disibukkan oleh konflik elite. Sudah saatnya Muktamar NU ke-35 menghadirkan kepemimpinan yang tidak lagi mewariskan pertengkaran berkepanjangan, melainkan kepemimpinan yang mampu mempersatukan seluruh warga nahdliyin,” tuturnya.

Muktamar ke-35 NU sendiri dijadwalkan menjadi momentum penting bagi organisasi memasuki fase awal abad kedua perjalanan Nahdlatul Ulama, sekaligus menentukan arah kepemimpinan dan agenda strategis organisasi ke depan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi