Pentingnya Tata Kelola dan Kolaborasi Global dalam Pemberantasan Ekstremisme dan Terorisme

AKURAT.CO Direktur Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia, Dr. Athor Subroto, menekankan pentingnya strategi berkelanjutan dalam melawan terorisme di tingkat global.
Ia menyoroti perlunya tata kelola berbasis nilai, pengetahuan komprehensif, dan penelitian berdampak nyata sebagai pilar utama pemberantasan ekstremisme dan terorisme.
“Kolaborasi ini merupakan contoh nyata bagaimana kerja sama Utara-Selatan dapat diwujudkan dalam hubungan akademis yang adil guna mendorong kajian terorisme dengan pendekatan interdisipliner,” ujar Dr. Athor Subroto dalam pidatonya bertajuk Means to a World Without Terror di konferensi internasional Interdisciplinary Terrorism and Extremism Studies in Europe, Asia, and Africa (ICITES) 2025, yang digelar di Sky Lounge, Wina, Jumat (24/01/2025).
Konferensi ini merupakan kolaborasi antara Universitas Indonesia, Universitas Wina, dan Universitas Lagos, serta menjadi ajang bertukar wawasan terkait pendekatan multidisipliner dalam kajian terorisme.
Perwakilan Universitas Lagos, Prof. Ashiru, menekankan pentingnya kerja sama lintas negara dalam menghadapi tantangan global.
"Kolaborasi seperti ICITES 2025 menjadi platform efektif untuk berbagi wawasan dan menciptakan solusi yang lebih baik dan berkelanjutan," ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan oleh Kepala Program Studi Kajian Terorisme Universitas Indonesia, Muhamad Syauqillah, yang menyebut ICITES 2025 sebagai ajang strategis untuk memperluas kolaborasi riset antara Asia, Afrika, dan Eropa.
Konferensi ini dibuka secara resmi oleh perwakilan Kementerian Dalam Negeri Austria dan Omar Haijawi-Pirchner, Kepala Direktorat Perlindungan Negara dan Dinas Intelijen Austria, dengan dukungan penuh dari Der Pragmaticus serta Kedutaan Besar Republik Indonesia di Wina.
ICITES 2025 menjadi bukti komitmen Universitas Wina, Universitas Lagos, dan Universitas Indonesia dalam memajukan keamanan global melalui penelitian interdisipliner.
Konferensi ini mempertemukan akademisi dan praktisi untuk bertukar wawasan terkait isu-isu seperti kecerdasan buatan (AI), gender, psikologi ekstremisme, serta ketahanan masyarakat terdampak.
Baca Juga: Sinopsis Pengantin Setan yang Diangkat dari Kisah Nyata, Catat Tanggal Tayangnya di Bioskop!
Konferensi yang berlangsung selama dua hari ini mencakup diskusi panel, lokakarya, presentasi, dan sesi networking.
Selain membahas isu utama terorisme, konferensi juga memperluas cakupan ke tema-tema baru, termasuk pemanfaatan teknologi, peran gender, serta dinamika sosial dalam membangun ketahanan komunitas.
Dr. Athor menutup pidatonya dengan menegaskan pentingnya pendekatan global yang inklusif.
"Kajian interdisipliner dan kolaborasi antarnegara menjadi langkah penting untuk menciptakan dunia yang lebih aman, bebas dari ekstremisme dan terorisme," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







