Yuk Simak Etika Demokrasi Di Ruang Digital, Kebebasan Berpendapat Harus Bertanggung Jawab!

AKURAT.CO - Dalam rangka kampanye Gerakan Nasional Literasi Digital di Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama dengan Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi menyelenggarakan webinar Literasi Digital #MakinCakapDigital 2023 untuk segmen komunitas di wilayah Kabupaten Mamuju, Sulawesi Selatan dengan tema "Etika Bebas Berpendapat di Media Sosial" pada Sabtu (28/10/2023).
Kali ini hadir pembicara-pembicara program kegiatan Literasi Digital #MakinCakapDigital di tahun 2023 yang ahli di bidangnya untuk berbagi terkait budaya digital antara lain Dosen STAI Al Muhajirin Purwakarta, Dian Ikha P dan Dosen FEB Unitomo, Meithiana Indrasari, serta mengundang seorang KOL, Maeka Suryani.
Kebebasan berpendapat dan pers merupakan bagian dari pilar demokrasi yang kini ranahnya juga meluas ke ruang digital. Sama seperti di ruang nyata, kebebasan orang untuk berpendapat juga dilindungi oleh negara, begitu juga kebebasan pers dalam menyajikan berita yang independen dan kredibel.
"Namun kita tetap harus sadar dan bertanggung jawab saat berkomentar dan memperhatikan apakah informasi itu penting, bermanfaat dan menginspirasi," ungkap Dosen STAI Al Muhajirin Purwakarta, Dian Ikha P saat menjadi narasumber kegiatan literasi digital #makincakapdigital 2023 untuk segmen komunitas di wilayah Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, Sabtu (28/10/2023).
Baca Juga: Bukan Hal Biasa, Yuk Cegah Budaya Cyberbullying di Ruang Digital
Lebih jauh Dian mengatakan, dengan pengguna internet yang meningkat setiap tahunnya yakni mencapai sekitar 215 juta atau hampir 80 persen dari total penduduk menurut We Are Social dan HootSuit di awal 2023, kini batas geografis dan perbedaan budaya hampir tidak ada. Hal itulah yang membuat harus ada pemahaman etika bermedia digital, agar menghindari gesekan perbedaan tersebut.
Terlebih menurut data BPS pada 2019 dari tiga subindeks, Indeks Pembangunan Teknologi Informasi dan Komunikasi (IP-TIK) Indonesia, subindeks keahlian dengan skor paling rendah walaupun dari tahun ke tahun terus mengalami kenaikan.
Menyambung tentang demokrasi di ruang digital, meski bebas berpendapat namun tetap harus disampaikan dengan cara positif. Boleh mengkritik, namun harus disampaikan dengan cara konstruktif dan sebaiknya disampaikan dengan mengajukan solusi yang komperhensif.
Bebas berpendapat juga berarti menghormati hak orang lain dan agar tidak menimbulkan kesalahan tafsir, maka kemukakan pendapat dengan jelas. Gunakan juga bahasa yang pas, hindari provokasi dan sebaiknya diskusi terkait isu bukan mengenai tokohnya.
Komunikasi yang terjalin juga sebaiknya memiliki tujuan membangun dan hindari terlibat dalam komentar merusak. Namun saat mendapat kritik, terima dengan lapang dada dan jangan memaksakan kehendak pribadi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








