Akurat
Pemprov Sumsel

Jepang Rencanakan Transportasi Kargo Otomatis untuk Atasi Kekurangan Pengemudi dan Emisi

Petrus C. Vianney | 6 November 2024, 15:10 WIB
Jepang Rencanakan Transportasi Kargo Otomatis untuk Atasi Kekurangan Pengemudi dan Emisi

AKURAT.CO Jepang tengah mempersiapkan sistem transportasi kargo otomatis yang menghubungkan Tokyo dan Osaka sebagai solusi untuk kekurangan pengemudi truk dan pengurangan emisi karbon.

Proyek yang dijuluki 'jalan sabuk konveyor' ini ditargetkan untuk dioperasikan penuh pada pertengahan 2030-an, dengan uji coba awal dimulai pada 2027 atau 2028.

Wakil Direktur Senior Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi dan Pariwisata, Yuri Endo, menyebut sistem ini tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan logistik, tetapi juga mengurangi emisi.

"Kita perlu inovatif dengan cara kita mendekati jalan," ujar Endo, dikutip dari Apnews.com, Selasa (5/11/2024).

Sistem 'jalan aliran otomatis' dirancang khusus untuk logistik dengan operasional 24 jam tanpa awak, di mana pemuatan barang akan dilakukan secara otomatis menggunakan forklift dan terintegrasi dengan bandara, kereta api dan pelabuhan.

Di koridor tiga jalur ini, kontainer berukuran besar akan bergerak secara otomatis.

Inisiatif serupa juga direncanakan di negara lain seperti Swiss dan Inggris, yang memanfaatkan jalur bawah tanah dan sistem otomatis berbasis motor linier untuk efisiensi pengiriman.

Proyek ini sangat penting bagi Jepang, terutama karena kekurangan pengemudi truk semakin terasa sejak adanya aturan pembatasan jam lembur pengemudi.

Berdasarkan estimasi, tanpa solusi ini, kapasitas transportasi Jepang dapat menurun hingga 34 persen pada 2030.

Dengan volume pengiriman domestik mencapai 4,3 miliar metrik ton yang sebagian besar bergantung pada truk, dampaknya akan sangat besar bagi sektor logistik.

Kenaikan belanja online selama pandemi turut meningkatkan permintaan pengiriman, namun kekurangan tenaga kerja dan keselamatan tetap menjadi tantangan.

Pemerintah dan asosiasi truk pun mengimbau konsumen untuk mengurangi frekuensi pesanan dan mempertimbangkan penggabungan pengiriman.

Para ahli melihat bahwa masalah ini bukan sekadar persoalan transportasi, tetapi telah menjadi masalah sosial yang perlu segera ditangani.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.