AS Perketat Pembatasan Ekspor Chip AI untuk Pertahankan Dominasi Teknologi

AKURAT.CO Pemerintah Amerika Serikat (AS) resmi memperketat aturan ekspor chip dan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Langkah ini bertujuan mempertahankan dominasi teknologi AS sambil membatasi akses negara-negara seperti China, Rusia, Iran dan Korea Utara.
Aturan baru ini membatasi jumlah chip AI yang bisa diekspor ke sebagian besar negara, namun tetap memberikan akses penuh kepada sekutu utama AS seperti Jepang, Inggris dan Korea Selatan.
Kebijakan ini sekaligus melindungi kepentingan keamanan nasional serta memperkuat posisi AS dalam pengembangan teknologi AI.
"AS memimpin AI sekarang, baik pengembangan AI maupun desain chip AI, dan sangat penting bagi kita untuk tetap seperti itu," kata Gina Raimondo, selaku Sekretaris Perdagangan, dikutip dari Reuters.com, Rabu (15/1/2025).
Chip AI canggih, termasuk unit pemrosesan grafis (GPU) yang banyak digunakan untuk pusat data dan pelatihan model AI, menjadi fokus utama kebijakan ini.
Produsen chip terkemuka seperti Nvidia dan AMD akan terpengaruh, dengan saham Nvidia turun 5 persen dan AMD turun 1 persen setelah pengumuman.
Selain itu, penyedia layanan cloud seperti Microsoft, Google dan Amazon akan dapat mengajukan otorisasi global untuk membangun pusat data di negara-negara tertentu, tanpa memerlukan lisensi ekspor tambahan.
Namun, mereka tetap harus memenuhi persyaratan keamanan dan hak asasi manusia.
Kebijakan ini membagi negara-negara menjadi tiga tingkatan. Sekutu dekat seperti Jepang dan Belanda hampir tidak terkena aturan ini.
Negara lain, seperti Singapura dan Arab Saudi, menghadapi pembatasan tertentu, sementara China, Rusia dan Iran sama sekali dilarang menerima teknologi tersebut.
Pemerintah China menanggapi kebijakan ini dengan menegaskan akan mengambil langkah-langkah untuk melindungi hak dan kepentingan mereka.
Meski menuai kritik, termasuk dari Nvidia yang menyebut kebijakan ini 'terlalu luas', AS tetap berkomitmen mencegah teknologi AI digunakan untuk kepentingan militer negara pesaing.
Menurut penasihat keamanan nasional AS, Jake Sullivan, kebijakan ini diharapkan mampu menjaga stabilitas ekonomi dan keamanan nasional dalam jangka panjang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 5Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








