Peneliti CORE Indonesia: Pertumbuhan Ekonomi 2023 Melambat, Ini Penyebabnya dan Harapan untuk 2024

AKURAT.CO Peneliti dari Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Yusuf Rendy mengatakan, bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2023 mengalami perlambatan. Beberapa faktor utama yang menyebabkan perlambatan tersebut antara lain adalah pelemahan harga komoditas global, kenaikan suku bunga, rencana perluasan basis pajak, dan pertumbuhan upah riil yang lebih rendah dari inflasi.
“Pertumbuhan ekonomi di tahun 2023 melambat karena beberapa faktor, terutama terkait dengan konsumsi rumah tangga. Pelemahan harga komoditas global, kenaikan suku bunga, rencana perluasan basis pajak, dan pertumbuhan upah riil yang lebih rendah dari inflasi menjadi penyebab utama perlambatan ini,” kata Yusuf kepada Akurat.co, Rabu (7/2/2024).
Menurut Yusuf, tahun pemilu juga turut berperan dalam meningkatkan belanja politik, namun beberapa insentif fiskal dari pemerintah serta inflasi yang terkendali diharapkan dapat mengurangi tekanan konsumsi pada tahun mendatang.
Baca Juga: BI Sebut Pemilu hingga IKN Bisa Genjot Pertumbuhan Ekonomi RI 2024 Lebih Tinggi
“Tahun pemilu meningkatkan belanja politik dan beberapa insentif fiskal dari pemerintah, namun inflasi yang terkendali diperkirakan dapat meredakan tekanan konsumsi pada tahun berikutnya,” sambungnya.
Yusuf juga menyebutkan bahwa sektor-sektor seperti pertambangan, jasa keuangan, dan informasi mengalami penurunan rata-rata upah riil, yang berpotensi mempengaruhi konsumsi swasta, terutama pada kelompok menengah atas.
“Sektor pertambangan, jasa keuangan, dan informasi mengalami penurunan rata-rata upah riil, yang dapat mempengaruhi konsumsi swasta. Hal ini juga berdampak pada kelompok menengah atas yang merupakan penggerak utama konsumsi masyarakat,” ucap Yusuf.
Sementara itu, sektor-sektor seperti pertanian, kehutanan, perikanan, serta industri pengolahan mengalami pertumbuhan upah yang terbatas. Di sisi lain, sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil, dan sepeda motor mengalami penurunan upah.
“Sektor pertanian, kehutanan, perikanan, serta industri pengolahan mengalami pertumbuhan upah yang terbatas. Di sisi lain, sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil, dan sepeda motor mengalami penurunan upah,” imbuhnya.
Perlambatan pertumbuhan ekspor juga terjadi karena ketergantungan yang tinggi pada komoditas. Harga komoditas utama seperti batubara, nikel, dan CPO mengalami penurunan, yang mengakibatkan perlambatan pertumbuhan ekspor.
Baca Juga: Melambat di 2023, Ini Saran Ekonom ke Pemerintah Agar Pertumbuhan Ekonomi 2024 Ngegas
“Perlambatan pertumbuhan ekspor juga terjadi karena, ketergantungan yang tinggi pada komoditas. Harga komoditas utama seperti batubara, nikel, dan CPO mengalami penurunan, mengakibatkan perlambatan pertumbuhan ekspor,” jelas Yusuf.
Yusuf menekankan bahwa kebijakan fiskal dan belanja pemerintah dianggap penting dalam menstimulasi pertumbuhan ekonomi tahun 2024. Belanja pemerintah diharapkan dapat memberikan efek multiplier terhadap konsumsi rumah tangga dan investasi infrastruktur.
“Kebijakan fiskal dan belanja pemerintah dianggap penting dalam menstimulasi pertumbuhan ekonomi tahun 2024. Belanja pemerintah diharapkan dapat memberikan efek multiplier terhadap konsumsi rumah tangga dan investasi infrastruktur,” ucapnya.
Terakhir, Yusuf menyoroti pentingnya mempertahankan momentum kinerja investasi yang relatif baik dalam dua tahun terakhir. Penurunan indikator isor menjadi agenda strategis pemerintah baru dalam rangka meningkatkan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.
“Kinerja investasi dalam dua tahun terakhir dinilai relatif baik dan perlu dipertahankan momentumnya. Penurunan indikator isor merupakan agenda strategis pemerintah baru untuk meningkatkan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.” Pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










