Ipsos Indonesia: Belanja Masyarakat Tak Turun, Cuma Lebih Selektif

AKURAT.CO Sebanyak 66% responden di Indonesia mengaku mengalami tekanan finansial, menurut hasil survei terbaru Ipsos Indonesia.
Meski demikian, kondisi ini tidak serta-merta menandakan penurunan daya beli secara signifikan, melainkan pergeseran pola konsumsi masyarakat.
Associate Director Ipsos Indonesia, Oscar Simamora, menegaskan bahwa tekanan finansial lebih berdampak pada cara masyarakat membelanjakan uang, bukan pada total konsumsi secara keseluruhan.
“Kalau ngomongin daya beli mereka seperti apa, itu enggak yang impacting significantly. Pertanyaannya bukan berpengaruh atau tidak, tapi berpengaruh ke mana,” ujar Oscar dalam Konferensi Pers FWD Consumer Outlook Survey di Jakarta, Senin (13/4/2026).
Oscar menjelaskan, masyarakat kini cenderung lebih selektif dalam menentukan pengeluaran, terutama di tengah dinamika inflasi dan pertumbuhan ekonomi.
Konsumen Beralih ke Produk “Aman” dan Prioritas
Dalam survei tersebut, Ipsos mencatat adanya perubahan preferensi belanja. Konsumen kini lebih memilih produk yang dianggap memiliki manfaat jelas dan relevan dengan kebutuhan utama.
“Mereka akan beralih ke produk-produk yang mereka lebih feel safe untuk beli,” kata Oscar.
Selain itu, keputusan pembelian semakin didasarkan pada tingkat keyakinan terhadap manfaat produk. “Mereka cenderung memilih produk yang mereka tahu manfaatnya atau merasa ternyakinkan manfaatnya,” tambahnya.
Kondisi ini berdampak pada penurunan konsumsi barang non-esensial atau pembelian impulsif. Sebaliknya, belanja difokuskan pada kebutuhan pokok serta produk yang dinilai penting untuk jangka pendek maupun jangka panjang.
Tekanan Inflasi dan Perlambatan Kelas Menengah
Fenomena ini muncul di tengah tekanan ekonomi yang masih dirasakan masyarakat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi Indonesia sepanjang 2025 berada di kisaran 2,5%–3%, dengan tekanan pada kelompok pangan dan energi.
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia stabil di kisaran 5%, namun belum sepenuhnya mendorong peningkatan daya beli kelas menengah secara merata.
Secara historis, kelas menengah Indonesia menjadi motor konsumsi domestik, berkontribusi lebih dari 50% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Namun dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah lembaga seperti World Bank dan BPS mencatat adanya “fragile middle class” atau kelas menengah rentan yang mudah terdampak gejolak ekonomi.
Dampak Bagi Strategi Bisnis dan Konsumsi
Perubahan perilaku konsumen ini berdampak langsung pada strategi pelaku usaha. Perusahaan kini didorong untuk menyesuaikan produk dan pemasaran agar lebih relevan dengan kebutuhan esensial konsumen.
Sektor ritel dan FMCG (fast moving consumer goods) menjadi yang paling terdampak, dengan tren peningkatan permintaan produk kebutuhan pokok, penurunan pembelian barang tersier dan pergeseran ke produk dengan value for money tinggi.
Bagi masyarakat, kondisi ini mencerminkan strategi bertahan dalam menjaga stabilitas keuangan rumah tangga. “Daya belinya itu enggak akan drop sebenarnya, tapi lebih ke pengalokasian prioritas mereka,” jelas Oscar.
Konsumsi Tetap Tumbuh, Tapi Lebih Selektif
Nantinya konsumsi rumah tangga diperkirakan tetap menjadi penopang utama ekonomi Indonesia. Namun, pola konsumsi akan semakin rasional dan berbasis kebutuhan.
Masyarakat diprediksi akan terus memprioritaskan kebutuhan pokok, produk dengan manfaat jangka panjang serta pengeluaran yang memberikan kepastian nilai
Perubahan ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah dan pelaku industri untuk menjaga stabilitas daya beli sekaligus menyesuaikan kebijakan ekonomi dan strategi bisnis di tengah tekanan global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini











