7 Rekomendasi Saham untuk Q2 2026 dari Mirae Asset: Ada BBCA hingga ADRO, Mana yang Paling Menarik?

AKURAT.CO Pasar saham 2026 tidak sedang “jelek”, tapi sedang tidak pasti.
Volatilitas tinggi membuat harga saham naik-turun cepat, sementara sentimen global—mulai dari suku bunga hingga konflik geopolitik—terus berubah.
Dalam kondisi seperti ini, banyak investor ritel justru terjebak:
beli saat harga sudah tinggi
panik saat harga turun
ikut-ikutan tanpa analisis
Di tengah kondisi ini, rekomendasi saham 2026 dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia justru bisa menjadi acuan penting untuk menyusun strategi yang lebih rasional.
Ringkasan: Daftar Rekomendasi Saham 2026
Berdasarkan analisis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, berikut saham yang dinilai menarik untuk Q2 2026:
BBCA, BBRI, BBNI, BMRI → stabil, likuid, fundamental kuat
ADRO, UNTR → diuntungkan sektor energi & komoditas
ANTM, MDKA, BRMS → potensi dari kenaikan harga emas
EXCL → prospek pertumbuhan tinggi sektor telekomunikasi
👉 Intinya: kombinasi defensif + growth + komoditas adalah kunci di pasar volatil.
Kenapa Mirae Asset Merekomendasikan Saham Ini?
Dalam paparan Media Day, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset, Rully Arya Wisnubroto, menegaskan:
“Volatilitas merupakan bagian dari dinamika global, namun dengan fundamental domestik yang masih relatif terjaga, peluang investasi di pasar Indonesia masih terbuka," ujar Rully dalam acara Media Day by Mirae Asset yang diselenggarakan secara virtual, Selasa, 21 April 2026.
Artinya:
pasar memang tidak stabil
tapi ekonomi Indonesia masih cukup kuat
sehingga peluang tetap ada bagi investor selektif
👉 Insight penting:
Rekomendasi saham ini bukan sekadar daftar, tapi hasil penyaringan dari kondisi global + kekuatan domestik.
Daftar Saham Terbaik Q2 2026 dan Alasannya
1. Saham Perbankan: Stabil di Tengah Ketidakpastian
BBCA, BBRI, BMRI, BBNI
Kenapa menarik:
fundamental kuat
likuiditas tinggi
tetap diincar investor institusi
👉 Dalam kondisi volatil, saham bank sering jadi “anchor” portofolio.
Insight:
Banyak investor ritel menganggap bank itu “membosankan”, padahal justru di situlah stabilitas berada.
2. Saham Energi & Komoditas: Diuntungkan Geopolitik
ADRO, UNTR
Kenapa menarik:
harga energi terdorong konflik global
permintaan tetap tinggi
margin perusahaan meningkat
👉 Hubungan sebab-akibat:
konflik → harga energi naik → laba perusahaan energi naik
3. Saham Emas & Mineral: Safe Haven Saat Krisis
ANTM, MDKA, BRMS
Kenapa menarik:
emas naik saat ketidakpastian global
investor global mencari aset aman
👉 Insight:
Ini bukan sekadar tren, tapi pola klasik yang terus berulang di setiap krisis.
4. Saham Telekomunikasi: Growth yang Sering Diremehkan
EXCL (Top Pick)
Menurut Research Analyst Mirae Asset, Daniel Aditya Widjaja:
“Pencapaian ARPU ini mencerminkan pergeseran industri dari kompetisi harga menuju kompetisi berbasis nilai.”
Fakta penting:
ARPU operator meningkat tajam
muncul bisnis baru: GPU-as-a-Service (GPUaaS)
kontribusi ISAT diperkirakan USD 50–70 juta di 2026
👉 Insight baru:
Sektor telekomunikasi sedang berubah dari “defensif” menjadi growth berbasis digital infrastructure.
Sektor Mana yang Paling Menjanjikan?
Jika disederhanakan:
Bank → stabilitas
Komoditas → momentum global
Telekomunikasi → pertumbuhan masa depan
👉 Strategi terbaik bukan memilih satu, tapi menggabungkan ketiganya.
Strategi Membeli Saham dari Rekomendasi Ini
Senior Technical Analyst Mirae Asset, Muhammad Nafan Aji, menekankan:
“Volatilitas membuka peluang melalui strategi berburu saham diskon dengan pendekatan value investing.”
Berikut strategi yang bisa diterapkan:
1. Jangan Beli Sekaligus
hindari all-in
gunakan pembelian bertahap
2. Fokus ke Fundamental
pilih perusahaan besar
hindari saham spekulatif
3. Manfaatkan Koreksi
beli saat harga turun
bukan saat euforia
Insight: Rekomendasi Saham Bukan Jaminan Profit
Banyak investor salah paham:
mengira rekomendasi = pasti untung
Padahal:
waktu beli lebih penting dari sahamnya
strategi lebih penting dari daftar
👉 Paradoksnya:
orang sering rugi bukan karena salah saham, tapi salah timing dan emosi.
Simulasi Nyata: Modal Rp10 Juta
Misalnya kamu punya Rp10 juta:
❌ Cara umum:
beli 1 saham saja
berharap langsung naik
✅ Cara strategis:
BBCA → Rp3 juta (stabil)
ADRO → Rp3 juta (komoditas)
EXCL → Rp2 juta (growth)
ANTM → Rp2 juta (safe haven)
Hasil:
risiko lebih tersebar
potensi keuntungan lebih seimbang
👉 Ini contoh sederhana diversifikasi yang realistis.
Apa Risiko Mengikuti Rekomendasi Saham?
Jika tanpa strategi:
ikut-ikutan (FOMO)
beli di harga tinggi
jual saat turun
👉 Risiko terbesar bukan dari pasar, tapi dari perilaku investor sendiri.
Implikasi untuk Investor Gen Z & Milenial
Generasi muda sekarang:
lebih cepat masuk pasar saham
tapi sering kurang pengalaman
Di sisi lain:
akses informasi sangat cepat
tapi sering dangkal
👉 Artinya:
yang menang bukan yang paling cepat, tapi yang paling disiplin dan sabar.
Penutup: Pilih Saham Itu Mudah, Menjalankan Strategi Itu Sulit
Rekomendasi saham 2026 dari Mirae Asset memberi gambaran jelas:
peluang tetap ada, bahkan di tengah volatilitas.
Namun, daftar saham hanyalah alat.
Yang menentukan hasil tetap satu hal:
👉 bagaimana kamu menggunakannya
Jadi, sebelum bertanya “saham apa yang harus dibeli”,
mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah:
👉 “Apakah strategi saya sudah benar?”
Pantau terus perkembangan pasar dan evaluasi strategi investasimu, karena di dunia investasi, yang bertahan bukan yang paling pintar, tapi yang paling konsisten.
Baca Juga: Indodax Luncurkan 7 Token Saham Global, Investor Bisa Trading 24 Jam
FAQ
1. Apa saja rekomendasi saham terbaik 2026 menurut Mirae Asset?
Rekomendasi saham terbaik 2026 menurut Mirae Asset Sekuritas Indonesia mencakup saham perbankan seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI yang dikenal stabil, serta saham komoditas seperti ADRO dan UNTR yang diuntungkan harga energi global. Selain itu, saham berbasis emas seperti ANTM, MDKA, dan BRMS juga menarik karena berfungsi sebagai safe haven, sementara EXCL dari sektor telekomunikasi dinilai punya potensi pertumbuhan tinggi.
2. Kenapa saham perbankan masih jadi pilihan utama di 2026?
Saham perbankan masih menjadi pilihan utama di 2026 karena memiliki fundamental kuat, likuiditas tinggi, dan tetap menjadi incaran investor institusi di tengah volatilitas pasar. Selain itu, kinerja bank besar di Indonesia cenderung stabil meskipun kondisi global tidak menentu, sehingga cocok untuk investor yang mencari keseimbangan antara risiko dan imbal hasil.
3. Apakah saham komoditas masih layak dibeli saat ini?
Saham komoditas masih layak dibeli saat ini karena didukung oleh faktor global seperti konflik geopolitik dan kenaikan harga energi serta emas. Saham seperti ADRO, ANTM, dan MDKA berpotensi mendapatkan keuntungan dari kondisi tersebut, terutama ketika investor global mencari aset yang lebih aman di tengah ketidakpastian ekonomi.
4. Bagaimana cara memilih saham yang layak dibeli saat pasar volatil?
Cara memilih saham yang layak dibeli saat pasar volatil adalah dengan fokus pada fundamental perusahaan, sektor yang sedang diuntungkan, serta valuasi yang masih menarik. Investor juga disarankan menggunakan strategi akumulasi bertahap untuk mengurangi risiko salah timing dan menghindari keputusan impulsif akibat fluktuasi harga yang tajam.
5. Kapan waktu terbaik membeli saham dari rekomendasi analis?
Waktu terbaik membeli saham dari rekomendasi analis adalah saat terjadi koreksi harga, bukan ketika pasar sedang naik tinggi. Dalam kondisi volatil seperti 2026, pendekatan bertahap atau dollar cost averaging lebih disarankan dibandingkan membeli sekaligus, karena membantu mendapatkan harga rata-rata yang lebih optimal.
6. Apakah mengikuti rekomendasi saham pasti menghasilkan keuntungan?
Mengikuti rekomendasi saham tidak menjamin keuntungan karena hasil investasi sangat bergantung pada timing, strategi, dan disiplin investor. Rekomendasi hanya menjadi referensi awal, sementara keputusan akhir tetap harus disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan investasi masing-masing.
7. Lebih baik pilih saham dividen atau saham growth di 2026?
Pilihan antara saham dividen dan saham growth di 2026 sebaiknya disesuaikan dengan strategi masing-masing investor, namun kombinasi keduanya sering menjadi pendekatan terbaik. Saham dividen memberikan pendapatan pasif yang stabil, sementara saham growth seperti sektor telekomunikasi menawarkan potensi kenaikan harga yang lebih tinggi dalam jangka panjang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini







