Blibli Gandeng Regulator Edukasi Jeda 10 Detik Lawan Scam

AKURAT.CO PT Global Digital Niaga Tbk (Blibli) meluncurkan inisiatif “JEDA 10 Detik” sebagai respons atas meningkatnya risiko penipuan digital di Indonesia.
Eksperimen sosial yang melibatkan lebih dari 158.000 partisipan ini menunjukkan bahwa 7 dari 10 pengguna merasa lebih tenang setelah menunda respons selama 10 detik sebelum mengambil keputusan.
Program yang berlangsung pada 19 Februari hingga 31 Maret 2026 ini didukung oleh Kementerian Komunikasi dan Digital, Kementerian Perdagangan RI, Bank Indonesia, serta Indonesian E-commerce Association.
Data Indonesia Anti Scam Center mencatat sebanyak 432.637 aduan penipuan dengan total kerugian mencapai Rp9,1 triliun dalam periode 22 November 2024 hingga 14 Januari 2026. Sementara itu, Survei APJII 2025 menunjukkan 22,12% pengguna internet Indonesia pernah mengalami penipuan online.
Baca Juga: Jangan Sampai Ketinggalan! Blibli Payday Sale Tawarkan Diskon 25 Persen Pasca Lebaran
“Sebagai pelopor ekosistem perdagangan omnichannel, Blibli berkomitmen menghadirkan pengalaman yang dapat dipercaya di setiap titik interaksi. Inisiatif JEDA lahir dari pemahaman bahwa kualitas keputusan tidak hanya ditentukan oleh kecepatan, tetapi juga oleh kejernihan," ujar Head of PR Blibli, Nazrya Octora dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (29/4/2026).
Dari sisi regulator, Kepala Badan Pengembangan SDM Komunikasi dan Digital Kementerian Komunikasi dan Digital RI, Bonifasius Wahyu Pudjianto menegaskan, temuan dari hasil social experiment ini memperlihatkan bahwa tantangan utama bukan hanya akses terhadap informasi, tetapi bagaimana masyarakat meresponsnya.
"Di tengah arus yang begitu cepat, kemampuan untuk berhenti sejenak sebelum bereaksi menjadi bagian penting dari literasi digital," imbuhnya.
Bank Indonesia juga menyoroti aspek mitigasi risiko. Kepala Grup Pelindungan Konsumen BI, Diana Yumanita menyatakan, dalam banyak kasus, risiko transaksi tidak hanya terjadi karena sistem yang lemah, tetapi juga karena keputusan yang diambil terlalu cepat tanpa verifikasi.
"Kebiasaan sederhana seperti ambil jeda 10 detik dapat menjadi lapisan perlindungan pertama bagi masyarakat," ujarnya.
Baca Juga: Pelanggan Blibli Bisa Dapat Diskon 10 Persen dengan Tukar Pakaian Bekas
Fenomena ini muncul di tengah percepatan digitalisasi yang signifikan dalam satu dekade terakhir. Sejak pandemi COVID-19, adopsi e-commerce dan transaksi digital meningkat tajam, namun diikuti eskalasi kejahatan siber.
Secara historis, literasi digital di Indonesia masih menjadi tantangan. Program edukasi seperti Gerakan Nasional Literasi Digital telah berjalan sejak 2021, namun data penipuan yang terus meningkat menunjukkan adanya gap antara akses teknologi dan kemampuan pengguna dalam memproses informasi secara kritis.
Eksperimen Blibli juga mengungkap pola perilaku pengguna:
Kelompok usia 65+ tercatat paling responsif terhadap konten clickbait (7,06%), lebih tinggi dari Gen Z (3,43%)
Puncak respons impulsif terjadi pada jam sibuk (09.00, 11.00, 13.00, 15.00 WIB)
Lonjakan aktivitas terjadi saat periode libur dan momentum besar seperti Ramadan dan Lebaran
Temuan ini menunjukkan bahwa risiko dalam ekosistem digital tidak hanya berasal dari celah sistem, tetapi juga perilaku pengguna. Dalam konteks perlindungan konsumen, kebiasaan impulsif berpotensi meningkatkan kerugian finansial secara masif.
Direktur Pemberdayaan Konsumen Kementerian Perdagangan, Immanuel Sibero Tarigan, menegaskan keterkaitan dengan program nasional.
“Momentum Hari Konsumen Nasional 2026 dengan tema ‘Konsumen Berdaya, Bijak Bertransaksi’ menjadi sangat relevan. Prinsip ‘Kritis sebelum membeli’ sejalan dengan JEDA, yang mendorong konsumen tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan," ujarnya.
Bagi industri e-commerce dan keuangan digital, pendekatan behavioral seperti JEDA menjadi pelengkap sistem keamanan berbasis teknologi. Hal ini juga berpotensi menekan fraud rate serta meningkatkan kepercayaan pengguna terhadap platform digital.
Blibli menilai pendekatan sederhana seperti jeda 10 detik dapat menjadi intervensi awal dalam membentuk perilaku digital yang lebih sehat.
“Kami percaya, ekosistem yang aman dan terpercaya tidak hanya dibangun oleh teknologi, tetapi juga oleh kebiasaan. Di tengah arus informasi yang serba cepat, kita selalu punya pilihan untuk berhenti sejenak," tutup Nazrya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal










