Akurat Logo

Misbakhun Sebut Sentimen Rumor Lebih Banyak Tekan Pasar Saham Ketimbang Faktor Fundamental

Yosi Winosa | 11 Mei 2026, 18:22 WIB
Misbakhun Sebut Sentimen Rumor Lebih Banyak Tekan Pasar Saham Ketimbang Faktor Fundamental
Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun

AKURAT.CO Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun menyoroti, meningkatnya pengaruh sentimen nonfundamental terhadap pasar modal Indonesia, meski indikator ekonomi domestik dinilai masih relatif kuat.

Misbakhun mempertanyakan mengapa pasar saham nasional mudah tertekan oleh rumor dan persepsi, padahal sejumlah indikator makro ekonomi menunjukkan kondisi stabil.

“Fundamental kita sangat bagus, tapi kenapa kemudian kita digerakkan oleh sentimen?” ujar Misbakhun dalam Investor Relations Forum 2026, Senin (11/5/2026).

Baca Juga: Misbkahun Apresiasi Langkah Reformasi Regulator Pasar Saham RI Usai, Tekankan Jangan Cuma Formalitas

Dirinya menyebut kondisi ini menjadi tantangan serius bagi pasar modal Indonesia karena kepercayaan investor dapat terganggu hanya oleh isu-isu nonteknis.

Ekonomi Tumbuh 5,61 Persen

Misbakhun mengutip pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 yang mencapai 5,61% sebagai salah satu indikator kekuatan ekonomi nasional.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, angka tersebut menjadi salah satu pertumbuhan tertinggi pascapandemi COVID-19.

Selain itu, inflasi Indonesia juga masih berada di kisaran target Bank Indonesia sebesar 2,5% plus minus 1%.

Misbakhun juga menyoroti surplus perdagangan Indonesia yang disebut telah berlangsung selama 71 bulan berturut-turut, menunjukkan daya tahan sektor eksternal domestik.

“Current account kita membaik, balance of payment kita juga lebih baik dibanding masa lalu,” katanya.

Bursa Rentan Rumor

Meski demikian, Misbakhun mengaku khawatir pasar saham Indonesia terlalu sensitif terhadap rumor, isu politik, maupun persepsi investor asing.

Dirinya menyinggung perubahan outlook dari sejumlah lembaga internasional yang menurutnya dipicu sentimen, bukan perubahan fundamental ekonomi.“Ketika orang asing yang bicara, kita semua langsung panik,” ujar dia.

Menurutnya, fenomena tersebut menunjukkan pentingnya penguatan trust dan konsistensi kebijakan pemerintah agar pasar tidak mudah terguncang.

Investor Ritel Jadi Fokus Perlindungan

Misbakhun mengatakan lonjakan investor ritel menjadi alasan utama reformasi pasar modal harus dipercepat.

Data KSEI menunjukkan investor pasar modal Indonesia didominasi generasi muda berusia di bawah 40 tahun. Nilai kepemilikan investor domestik juga terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Dirinya menilai kelompok investor baru sangat rentan terhadap volatilitas pasar dan praktik perdagangan yang tidak sehat.“Investor retail harus dilindungi. Reformasi ini berpihak kepada mereka,” katanya.

Reformasi Dinilai Mendesak

Dalam paparannya, Misbakhun menyebut reformasi yang dilakukan BEI saat ini bahkan sudah melampaui sekadar transformasi biasa. “Kalau menurut saya ini bukan sekadar transformasi, tapi revolusioner,” ujarnya.

Dirinya menambahkan DPR mendukung langkah OJK dan BEI untuk memperkuat pengawasan pasar, menjaga independensi regulator, serta memperbaiki tata kelola perdagangan saham.

Menurut dia, konsistensi penegakan hukum dan kepastian regulasi juga menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas pasar modal nasional.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.