Akurat Logo

Komputer Kuantum Dinilai Bisa Guncang Blockchain, Kok Bisa?

Esha Tri Wahyuni | 18 Mei 2026, 10:10 WIB
Komputer Kuantum Dinilai Bisa Guncang Blockchain, Kok Bisa?
Ilustrasi Bitcoin (Source: Freepik)

AKURAT.CO Pendiri Cardano, Charles Hoskinson, memperingatkan ancaman komputer kuantum terhadap industri aset kripto bisa menjadi kenyataan sebelum 2033.

Menurutnya, peluang teknologi kuantum mampu membobol sistem keamanan blockchain saat ini sudah melampaui 50%, sehingga pelaku industri tidak lagi bisa menganggap risiko tersebut sebagai ancaman jangka panjang semata.

Dalam forum Consensus Miami, Hoskinson mengatakan tenggat waktu menuju era pasca-kuantum kini telah berubah menjadi persoalan rekayasa dan kesiapan infrastruktur.

Dirinya menegaskan bahwa Cardano mulai mempersiapkan migrasi menuju sistem kriptografi berbasis lattice atau kisi guna memperkuat protokol blockchain mereka dari potensi serangan komputer kuantum.

“Kita tidak bisa menunggu sampai ancamannya benar-benar tiba. Industri harus mulai membangun pertahanan sekarang,” kata Hoskinson dikutip dari BeinCrypto, Senin (18/5/2026).

Baca Juga: Investor Kripto RI Terus Bertambah Jelang Bitcoin Pizza Day 2026

Ancaman tersebut menjadi perhatian serius karena mayoritas blockchain global, termasuk Bitcoin dan banyak jaringan besar lain, masih mengandalkan sistem tanda tangan elliptic-curve cryptography (ECC).

Sistem ini selama puluhan tahun dianggap aman bagi komputer konvensional, namun dinilai rentan terhadap algoritma Shor apabila komputer kuantum berskala besar berhasil dikembangkan.

Secara teori, algoritma tersebut memungkinkan komputer kuantum memecahkan private key, memalsukan tanda tangan digital, hingga mengambil alih aset pada jaringan blockchain.

Risiko itu juga membuka peluang gangguan terhadap mekanisme konsensus distributed ledger yang selama ini menjadi fondasi keamanan aset kripto.

Hoskinson menilai percepatan pengembangan hardware kuantum membuat ancaman tersebut semakin realistis.

Oleh sebab itu, dirinya menyoroti kemajuan teknologi atom-netral serta proyek Quantum Benchmarking Initiative milik DARPA yang dinilai mempercepat estimasi munculnya “Q-Day” atau momen ketika komputer kuantum mampu mematahkan sistem enkripsi modern.

Selain ancaman langsung, Hoskinson juga mengingatkan potensi serangan “harvest now, decrypt later”. Dalam skema ini, pelaku dapat mencuri data terenkripsi saat ini untuk kemudian dibuka ketika teknologi kuantum telah cukup kuat di masa depan.

Data pasar menunjukkan tekanan terhadap aset digital juga masih berlangsung. Berdasarkan data pasar kripto global, token native Cardano, Cardano, diperdagangkan di kisaran USD0,25 dan berada di peringkat 14 kapitalisasi pasar kripto dunia.

Nilainya turun sekitar 5% dalam sepekan terakhir di tengah volatilitas pasar aset digital.

Baca Juga: Gemini Raup Rp885 Miliar, Bisnis OTC Jadi Mesin Baru Kripto

Ancaman kuantum dinilai bukan hanya persoalan bagi Cardano. Penelitian sebelumnya menunjukkan miliaran dolar aset di jaringan Bitcoin tersimpan pada alamat yang public key-nya telah terekspos ke publik.

Kondisi itu dinilai berpotensi menjadi titik lemah apabila teknologi komputasi kuantum berkembang lebih cepat dari perkiraan.

Managing Partner Dragonfly, Haseeb Qureshi, sebelumnya memperkirakan rata-rata waktu yang dibutuhkan hingga sistem kriptografi modern dapat ditembus komputer kuantum berada di kisaran 10 tahun.

“Itu memberikan estimasi rata-rata sekitar 10 tahun sebelum kriptografi kunci publik modern berhasil dipecahkan. Tapi itu bisa terjadi lebih cepat karena ini bukan angka pasti,” ujar Haseeb dalam unggahannya.

Sebagai langkah mitigasi, Cardano mulai mengadopsi standar keamanan berbasis lattice yang diyakini lebih tahan terhadap serangan komputer klasik maupun kuantum.

Teknologi tersebut mengandalkan problem matematika Learning With Errors (LWE), yang hingga kini belum ditemukan metode efektif untuk dipecahkan komputer kuantum.

Hoskinson menyebut roadmap Cardano akan mengacu pada standar resmi National Institute of Standards and Technology (NIST) Amerika Serikat, khususnya FIPS 203 hingga 206.

Standar tersebut mencakup implementasi algoritma post-quantum seperti ML-KEM, ML-DSA, SLH-DSA, hingga Falcon-style signatures.

Menurutnya, struktur tata kelola Cardano memungkinkan proses migrasi keamanan dilakukan lebih cepat dibanding sejumlah blockchain lain yang memiliki koordinasi komunitas lebih kompleks. Cardano juga tengah menyiapkan proposal riset baru terkait penguatan ketahanan jaringan terhadap ancaman kuantum.

Langkah serupa mulai terlihat di jaringan blockchain lain. Solana Foundation sebelumnya mengumumkan implementasi tanda tangan post-quantum pada testnet Solana sebagai bagian dari uji kesiapan menghadapi era komputasi kuantum.

“Komputer kuantum memang belum hadir, tetapi kami mulai mempersiapkan kemungkinan tersebut,” tulis Solana Foundation dalam pernyataannya.

Meski demikian, sejumlah tantangan utama masih membayangi perkembangan komputer kuantum. Hingga saat ini, industri teknologi global masih menghadapi persoalan stabilitas hardware, kemampuan error correction, serta toleransi kesalahan sistem kuantum berskala besar.

Namun bagi industri aset digital, peringatan terbaru dari Cardano menjadi sinyal bahwa perlombaan keamanan blockchain kini tidak lagi hanya soal kecepatan transaksi atau efisiensi biaya, tetapi juga kesiapan menghadapi perubahan teknologi paling besar dalam sistem enkripsi global.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.