Akurat Logo

Perdagangan Tokenisasi Aset di PINTU Tumbuh pada Semester I-2026

Andi Syafriadi | 30 Juni 2026, 15:10 WIB
Perdagangan Tokenisasi Aset di PINTU Tumbuh pada Semester I-2026
ilustrasi koin kripto (Source: Pixabay)

AKURAT.CO Minat investor Indonesia terhadap aset global berbasis blockchain atau tokenisasi aset menunjukkan tren peningkatan sepanjang semester I-2026.

Fenomena tersebut tercermin dari pertumbuhan aktivitas perdagangan tokenisasi aset di platform investasi aset kripto PINTU.

Berdasarkan data internal perusahaan, jumlah monthly unique trader untuk produk tokenisasi saham (tokenized stocks) pada Mei 2026 meningkat sekitar 40% dibandingkan Januari 2026.

Baca Juga: AI Kini Jadi Pintu Pertama Konsumen, Brand Terancam Hilang dari Radar

Head of Product Marketing PINTU, Iskandar Mohammad, mengatakan kenaikan tersebut juga terlihat pada sejumlah produk investasi yang merepresentasikan indeks saham Amerika Serikat.

"Perdagangan tokenisasi aset di PINTU mengalami peningkatan yang signifikan. Jumlah monthly unique trader tokenized stocks tumbuh 40 persen pada Mei dibandingkan Januari 2026. Secara spesifik, tokenisasi aset seperti Nasdaq (QQQX) dan S&P 500 (SPYX) juga mengalami kenaikan bulanan yang cukup tinggi pada April hingga Mei, masing-masing sebesar 64 persen dan 51 persen," ujar Iskandar dalam keterangannya.

Menurut dia, peningkatan tersebut sejalan dengan tren global yang menunjukkan semakin besarnya minat investor terhadap aset dunia nyata atau Real-World Assets (RWA) yang ditokenisasi melalui teknologi blockchain.

Data platform RWA.xyz per 25 Juni 2026 menunjukkan kapitalisasi pasar sektor Real-World Assets (RWA) on-chain telah mencapai sekitar USD32,23 miliar. Nilai tersebut meningkat tajam dibandingkan awal 2024 yang masih berada di kisaran USD1,8 miliar.

Pertumbuhan itu didorong oleh meningkatnya adopsi tokenisasi aset oleh sejumlah institusi keuangan global, sekaligus semakin besarnya minat investor ritel untuk mengakses instrumen investasi lintas negara secara lebih fleksibel.

Di Indonesia, Iskandar menilai terdapat beberapa faktor yang mendorong meningkatnya minat terhadap tokenisasi aset. Salah satunya adalah skema perpajakan yang dinilai lebih sederhana karena pajak final sebesar 0,21% dikenakan saat investor melakukan penjualan aset.

Selain itu, sistem perdagangan yang berlangsung selama 24 jam setiap hari dinilai memberikan fleksibilitas lebih dibandingkan pasar saham konvensional yang memiliki jam perdagangan tertentu.

Baca Juga: PINTU Kembali Sabet Penghargaan Kepatuhan IRCA 2026

"Kemudahan lain yang dirasakan investor adalah pembelian aset bisa langsung menggunakan rupiah tanpa harus melakukan konversi mata uang terlebih dahulu," katanya.

Saat ini, PINTU menyediakan 48 aset tertokenisasi yang merepresentasikan berbagai instrumen investasi global. Produk tersebut mencakup saham perusahaan teknologi seperti Apple, Alphabet, Meta Platforms, Tesla, NVIDIA, Microsoft, hingga Amazon. Selain itu, tersedia pula aset yang memberikan eksposur ke sektor keuangan, kesehatan, energi, logam mulia, obligasi pemerintah Amerika Serikat, serta ETF global.

Menurut Iskandar, tokenisasi aset menjadi salah satu inovasi yang memperluas akses investor ritel Indonesia terhadap pasar keuangan global yang sebelumnya relatif sulit dijangkau.

"Ke depan kami akan terus menambah pilihan aset tertokenisasi yang berkualitas sekaligus memperkuat edukasi kepada masyarakat agar semakin memahami peluang maupun risiko investasi di aset digital," ujarnya.

Meski demikian, investor tetap perlu memahami bahwa aset kripto maupun aset tertokenisasi memiliki risiko fluktuasi harga yang tinggi. Karena itu, keputusan investasi perlu disesuaikan dengan profil risiko serta tujuan keuangan masing-masing.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.