Kenapa Orang Sering Membandingkan Hidupnya dengan Orang Lain? Ini Penjelasan Psikologisnya

AKURAT.CO Pernahkah Anda merasa hidup Anda baik-baik saja sampai akhirnya Anda melihat unggahan teman yang baru saja membeli rumah, naik jabatan, atau berlibur ke luar negeri?
Seketika itu juga, muncul rasa tidak puas atau perasaan bahwa Anda tertinggal.
Kebiasaan membandingkan diri sebenarnya adalah mekanisme alami manusia, namun di era sekarang, hal ini sering kali menjadi racun bagi kesehatan mental jika tidak dikelola dengan bijak.
Baca Juga: Cara Berhenti Membandingkan Diri dan Hidup Lebih Damai
Teori Perbandingan Sosial (Social Comparison Theory)
Secara psikologis, manusia memiliki dorongan bawaan untuk mengevaluasi diri mereka sendiri.
Menurut Leon Festinger, seorang psikolog sosial, kita membandingkan diri dengan orang lain untuk mendapatkan tolak ukur tentang posisi kita di dunia.
Ada dua jenis perbandingan:
1. Perbandingan ke Atas (Upward Comparison):
Membandingkan diri dengan orang yang kita anggap "lebih" dari kita. Tujuannya bisa untuk inspirasi, namun seringnya malah memicu rasa rendah diri.
2. Perbandingan ke Bawah (Downward
Comparison): Membandingkan diri dengan orang yang kondisinya kurang beruntung. Biasanya dilakukan untuk merasa lebih baik atau bersyukur, namun bersifat sementara.
Peran Media Sosial: "Highlight Reel" vs Realita
Salah satu alasan terbesar kenapa orang sering membandingkan hidupnya dengan orang lain di zaman sekarang adalah media sosial.
Kita sering lupa bahwa apa yang kita lihat di layar hanyalah highlight reel atau potongan momen terbaik dari hidup seseorang.
Kita membandingkan "panggung belakang" hidup kita yang penuh perjuangan, keringat, dan kegagalan dengan "panggung depan" orang lain yang sudah dipoles sedemikian rupa.
Ketidakseimbangan informasi ini menciptakan ilusi bahwa hidup orang lain jauh lebih mudah dan sempurna, padahal setiap orang memiliki perjuangannya masing-masing yang tidak diunggah ke publik.
Baca Juga: Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang Lain: Panduan Hidup Lebih Bahagia
Dampak Buruk Perbandingan yang Terus-Menerus
Jika terus dibiarkan, kebiasaan ini akan mengikis rasa percaya diri dan menghambat kebahagiaan.
Seseorang akan sulit merasa cukup karena selalu ada standar baru yang diciptakan oleh pencapaian orang lain.
Lebih jauh lagi, hal ini bisa memicu gangguan kecemasan dan depresi karena kita merasa sedang berada dalam perlombaan yang tidak pernah ada garis finisnya.
Energi yang seharusnya digunakan untuk memperbaiki diri sendiri justru habis digunakan untuk mengawasi langkah kaki orang lain.
Kenapa orang sering membandingkan hidupnya dengan orang lain adalah karena kebutuhan insting untuk mengevaluasi diri yang diperparah oleh paparan gaya hidup di media sosial.
Kebahagiaan sejati dimulai ketika kita berhenti melihat ke samping dan mulai menghargai proses unik yang sedang kita jalani sendiri.
Nasywa Mutiara Pratista (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.








