Situasi Politik Jelang Pemilu Dingin, Jokowi Pede Pertumbuhan Ekonomi 2024 Bisa Sekitar 5 Persen

AKURAT.CO Presiden Jokowi optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2024 bisa berada di kisaran 5%, didukung modal ekonomi dan politik yang baik terutama situasi politik yang dingin menjelang pemilu.
Menurutnya, dalam jangka pendek pertumbuhan ekonomi perlu terus didorong dengan memitigasi adanya transmisi negatif dari kondisi pelemahan dan perlambatan ekonomi global, dengan memastikan terjaganya daya beli masyarakat, masuknya investasi, dan stabilitas makroekonomi.
Pertumbuhan ekonomi juga harus inklusif dan berkelanjutan, untuk memastikan tercapainya ketahanan ekonomi dalam jangka menengah-panjang, melalui percepatan transisi energi, pembiayaan yang berkelanjutan, inovasi digital, dan penyiapan SDM yang berbasis ekonomi berkelanjutan.
Baca Juga: Outlook Makroekonomi 2024: Schroders Indonesia Ramal PDB RI Tumbuh 5 Persen
Mengingat dunia saat ini kembali dihadapkan pada berbagai tantangan yang berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi global, serta memperlebar divergensi pertumbuhan ekonomi antar negara. Indonesia harus mampu menjadikan tantangan sebagai peluang, untuk terus menjaga pertumbuhan dan ketahanan ekonomi nasional.
“Jadi kesimpulan saya outlook ekonomi Indonesia 2024 sangat optimis. Optimis karena melihat kinerja ekonomi kita dan optimis karena situasi politik yang dingin menjelang pemilu 2024. Yang penting, konsisten kerja keras, kerja sinergis antara Pemerintah dan swasta, dan kerja yang berkelanjutan,” ujarnya di sela Seminar Nasional bertajuk "Optimisme Penguatan Ekonomi Nasional di Tengah Dinamika Global" yang dipantau secara daring, Jumat (22/12/2023).
Ditambahkan, Indonesia mampu melewati tahun 2023 dengan cukup baik. Sejumlah indikator perekonomian pun terpantau masih hijau. Misalnya di sepanjang kuartalan tahun 2023 ekonomi Indonesia masih tumbuh di kisaran 5%, jauh lebih tinggi dari rata-rata global yang hanya tumbuh 2,9%.
Kemudian, Indonesia juga mampu menjaga tingkat inflasi di angka 2,86% atau jauh di bawah rata-rata inflasi global yakni 7,2%. Hal itu diikuti dengan penyerapan tenaga kerja yang naik. Selanjutnya Purchasing Manager’s Index (PMI) manufaktur Indonesia pada November 2023 yang masih berada di level ekspansif 51,7.
Selanjutnya, neraca perdagangan Indonesia masih surplus selama 43 bulan berturut-turut dan Indeks Keyakinan Konsumen pada November 2023 juga berada di angka 123,6 yang menandakan kuatnya keyakinan konsumen Indonesia terhadap kondisi ekonomi saat ini.
"Sekali lagi tidak ada alasan untuk pesimistis memasuki 2024. Saya masih optimistis pertumbuhan ekonomi kita masih berada di kisaran 5 persen," kata Jokowi.
Tak lupa, Jokowi mengingatkan agar Indonesia tetap mewaspadai faktor eksternal seperti ketidakpastian global yang terus berlanjut dan konflik di Timur Tengah yang bisa memicu kenaikan harga. Indonesia harus tetap eling kalau orang Jawa bilang, yang artinya berhati-hati dalam ketidakpastian ekonomi global sangatlah tidak mudah.
Dicontohkan, saat ini ada 96 negara yang telah menjadi “pasien” Dana Moneter Internasional (IMF), dan puluhan negara lain yg kondisi ekonomi, keuangan, dan fiskalnya sangat berat.
Senada, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai di tengah ketidakpastian global, fundamental ekonomi Indonesia masih tetap terjaga. Tingkat inflasi relatif terkendali dan rasio utang Pemerintah juga berada dalam level yang aman.
Ke depan, sejumlah risiko masih perlu diantisipasi, seperti volatilitas harga komoditas, pengetatan kebijakan moneter negara maju, gangguan rantai pasok global, serta kerentanan ketahanan pangan dan energi akibat perubahan iklim.
“Dalam jangka pendek kami optimis, ekonomi Indonesia di tahun 2023 mampu tumbuh 5,1 persen dan tahun 2024 tumbuh 5,2 persen di tengah berbagai downside risks yang dihadapi,” ungkap Menko Airlangga.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 3Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









